Taburan Benih Islamisme Juli 22, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in resensi.2 comments
Judul Buku : Jejak Kafilah; Pengaruh Radikalisasi Timur Tengah di Indonesia / Pengarang : Greg Fealy dan Anthony Bubalo / Penerbit : Mizan, Bandung / Cetakan : Cetakan I, Desember 2007 / Tebal : 202 Halaman
Peristiwa Pentagon dan World Trade Center pada 11 september 2001 telah menorehkan tinta kusam dalam lembaran sejarah diawal abad 21. Tak mengherankan kalau banyak reaksi yang muncul. Mulai dari pengucilan, kutukan, sampai aksi militer terhadap mereka yang dianggap sebagai terorisme pun terus berlanjut. Kalangan Islam garis keras lah yang menjadi sasaran, karena kelompok inilah yang dicurigai sebagai dalang semua aksi-aksi terorisme. (lagi…)
kesana biduk terarah Juni 29, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in puisi.2 comments
aku adalah bumi yang dikenai pancaroba. tubuhku mengalami demam yang lebih berupa getarangetaran ketimbang rintihankerontang dan kegenitan gerimis yang tak biasa. tanah yang alfa persemayaman itu terjamah, ia memulai warna yang merupa karena engkau hadir disana. maaf bila mutiaramu kutanggapi dengan cinta yang kabur—yang tak berselongsong rencana, yang tak bertahta pada bahasa, yang tak ada dalam ayatayat surga dan neraka. aku hanya mampu memasrahkan cinta yang aku punya, sebuah cinta yang ada karena engkau ada.
Jogja, 29 juni 2009.
disekitarmu, aku mendoakanmu Juni 27, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in puisi.add a comment
aku tegar di sampingmu meski fajar dan lembayung senja bersua sembari membayangkan kita menikmati bubur ayam di balkon saat gerimis sore itu diketuk oleh lonceng kapel gereja yang bersahutan dengan geming adzan dari surau dekat sumur di sebuah desa lembah gunung sumbing di mana engkau dan aku memungkasi masa—semoga kau tahu itu.
Jogja. Juni 25, 2009
Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner Juni 23, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in esai.add a comment
Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi. (lagi…)
Kisah Sumbang Seputar Laman Maya Juni 9, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in esai.add a comment
Sudah tiga hari ini saya menelusuri laman-lama maya tiap malam. Entah berapa lamanya, tapi setidaknya antara pukul 21.00 sampai 06-00 saya menjaga network frequency agar tetap betah dalam komputer mini milik Baiquni. Melalui Baiquni’s small white box, saya bertolak dari bilik B21 menuju ke Pittsburgh, Lasem, London, Moscow, atau Brown. (lagi…)
Entah Juni 6, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in puisi.add a comment
Hentakan karang yang embun pun hengkang. Hamba membeku, bertingkah juga layu. Jelaga arang hamba kuyup oleh ludah tabu. Seperti labirin tetap kusut membalutku. Topang diriku dengan senyum lapang, sayang. Yang semoga itu cermin dari sum-sum dalam. Tahukah kau, hadir menerka adalah gerbang keharapan. Mumpung ilalang tak menjamah tumit. Pinus tua melepas kaku. Aku mengarak bunga-bunga ke utara, kemarilah.
Jogja, Juni 2009
Kondisi Post-anatomi, Melukis Manusia Mei 29, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in esai.add a comment
; catatan lepas untuk memasuki tubuh manusia dalam seni rupa
Dalam kancah seni rupa, Raden Saleh Syarif Bustaman dikategorikan sebagai pioner perupa modern di Indonesia. Dilahirkan di kalangan kerabat bupati semarang, Saleh termasuk kaum pribumi sebetulnya, namun karena perupa ini banyak bergumul dengan kalangan londo, terlebih seusai belajar di Eropa atas beasiswa Belanda dan menikah dengan orang Belanda, gaya hidupnya lebih mengarah kebarat-baratan. (lagi…)
Menggempur Pasar Mancanegara dari Desa Mei 14, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in artikel.12 comments
Membayangkan indonesia sebagai gudang potensi, saya tergelitik. Selama ini Indonesia selalu dimaknai sebagai gudang bahan baku produksi. Ya, memang itu yang secara nyata amat kentara. Potensi alam yang tergelar dari sabang sampai merauke, sepertinya memang menegaskan pandangan demikian.
Namun bila hanya kelaziman ini yang melulu diamini, saya kira, “kebangkrutan” adalah kata yang cukup futuristik untuk melukiskan Indonesia dimasa depan. Kenapa? Bagaimanapun, potensi alam selalu memiliki kecendrungan menyusut. Dan bila demikian yang terjadi, Indonesia sebagai gudang potensi, lamat-lamat menjadi lahan yang puso. (lagi…)
Ratapan-Ratapan Pergolakan Gus Mus Tentang Hikayat Lirboyo Mei 3, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in esai.2 comments
; Apresiasi Puisi “Lirboyo, Kaifal Haal ?”
Menulis puisi model orang menulis surat dalam andai-andai, detil pula rekaman aspek penguat dan pilihan diksi yang tidak berorietasi pada matra, tetapi hasilnya jauh lebih mencengangkan, saya pikir Gus Mus—paggilan akrab KH Ahmad Musthofa Bisri—ini terlalu ber-skill. Kesan itu menggumuli saya seusai membaca sajak bertajuk “Lirboyo, Kaifal Haal ?” yang terhimpun dalam Antalogi Puisi Tadarus (Prima Pustaka Yogya, 1993). (lagi…)
Aku dan Idea Tentang Cak Nur* Januari 28, 2009
Posted by Rifqi Muhammad in esai.10 comments
Justru saya menjadi dekat dengan Cak Nur saat mengakrabinya sebagai Idea. Bukan semata kala bergumul dengan pemikirannya.
Pengalaman dan ingatan yang berkesan tentu tak mudah lekang. Demikianlah kiranya saat tokoh besar itu merangsek dalam relung kesadaran saya. Kala itu, saat saya berumur sebelas tahun, pak lek yang tengah menempuh Perguruan Tinggi di Yogyakarta kebetulan sedang pulang. Laiknya anak-anak yang hidup di desa terpencil, mendengarkan cerita tentang hiruk pikuk kota dengan sebongkah keindahannya tentu menjadi dambaan. Maka wajar bila saya meminta pak lek untuk mengkisahkan dunia barunya. (lagi…)
