Utopia Kesejahteraan

Usia Indonesia hanya bisa dinisbatkan dalam angka. Negeri yang menjalani beberapa dekade dalam altar kemerdekaan ini tenyata tidak kinjung membuat rakyatnya menjadi warga negara. Upaya meraih kesejahteraan menjadi tugas invidu. Rakyat menjadi diri yang harus memperjuangkan dirinya sendiri untuk sekadar meraih apa yang kita sebut sebagai ‘hidup berkecukupan’. Negara-bangsa yang sedianya dicicitacitakan akan membawa pada kedaulatan dan kesejahteraan hidup, tak lebih daripada reproduksi antar satuan ide-ide.

Keadaan memang tidak menguntungkan bagi seorang rakyat biasa. Bahkan ia tak bisa membela dirinya sebagaimana dulu penduduk sekitar merapi-merbabu mampu meneriakkan perjuangan. Di mana ketika itu kesadaran komunisme yang diterima masyarakat agraris ini membuat mereka memiliki kekuatan dan tekad dalam bendera kepartaian. Kalau dulu masyarakat masih mengalamai masa di mana partai adalah jalan menuju kesejahteraan warga negara, kini partai tak ubahnya lahan uang kaum borjuis berdaya.

Saya membayangkan apa yang alami oleh rakyat saat ini tak terlampau beda dengan tempo di mana Indonesia berada dalam kondisi yang disebut Arbi Sanit sebagai semi kolonial dan semi feodal. Sebuah masa di mana petani dan rakyat lainnya belum bebas samasekali dari ikatan penjajahan, bahkan masih terikat dengan perjanjian-perjanjian yang merugikan, meskipun kemerdekaan secara politik sudah dianggap ada. […]

Catatan ini mandeng pada beberapa hari lalu, hanya karena saya tinggal makan. Namun akan diteruskan lagi kemudian.

 

Advertisements

Soal Rahasia Negara di Twitter

Beny Israil, nama ini melambung di twitter ahir-akhir ini. Tak diketahui siapa dia sebenarnya. Alkisah, melalui akunnya, @beny_israil, ia berlaku laiknya Julian Assange dalam Wikileaks-nya. Dalam akun itu Beny menyinggung geliat para pejabat di negeri ini dan beberapa isu sensitif di negeri ini.

Dalam pekan terakhir ini bahkan ia mengeluarkan serial intelijen negara. Sejumlah nama-nama mantan petinggi militer disebut-sebut, misalnya Sujono Humardani, Ali Murtopo, Soedomo, atau Beny Moerdani. Beni juga membincangkan tentang sebuah kasus secara terbuka dengan @febridiansyah milik Febridiansyah, peneliti ICW (Indonesia Corruption Watch).

Herannya, Beny tampak akrab dengan akun twitter @budimansudjatmiko yang diduga milik anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). “RT @budimandjatmiko: Juara! Kpn2 kita minum teh di HydePark:) RT @benny_israel: The Circle. Kata orang Malaysia itu …” demikian ciciannya. Continue reading

Recomended Video Zizek

Video orasinya bertajuk “What does it mean to be a revolutionary today?”

Continue reading

Menelanjangi Slavoj Žižek

 

Slavoj Žižek

Orang ini, begitu bersemangat. Saya suka gayanya ketika berorasi. Sayang ia tidak terpilih jadi presiden. haha..

Ialah SLAVOJ ŽIŽEK, 60, lahir di Ljubljana, Slovenia. Dia adalah profesor pada the European Graduate School, direktur internasional the Birkbeck Institute for Humanities di London, dan peneliti senior pada instistut sosiologi the University of Ljubljana. Ia telah menulis lebih dari 30 buku beragam subjek dari Hitchcock, Lenin, dan Peristiwa 9/11. Žižek juga pembawa acara serial The Pervert’s Guide To Cinema. Continue reading

Ketegangan dan Kelenturan Lukisan

Oleh RIFQI MUHAMMAD

[1]

Berpuluh-puluh menit memandangi ketiga lukisan Nur Ikhsan “Brekeley”, tak lantas membuat saya mampu menempatkannya dalam tatanan sensorial saya. Seakan, ketiga lukisan Brekeley, Kriwikan Dadi Grojogan, Human Eksistence, dan Mith, diracik oleh tiga perupa yang berbeda. Selain kesulitan menakik benang merah untuk merangkum ketiganya, saya merasa, ketiga lukisan itu hidup dalam konteksnya sendiri. Terpecah dan berdiri sendiri. Ketiganya saling berebut perhatian dalam ruang tafsir sensorial saya.

Bentuk yang digambarkan oleh Brekeley bukanlah bentuk-bentuk realis. Bentuk yang tidak berkorelasi langsung dengan pengalaman sensorial indrawi kita, melainkan menohok alam imajiner kita. Lukisan Brekeley menggeledah bentuk-bentuk dalam kesadaran (consciousness) dan mimpi (unconsciousness) saya. Saya merasa Brekeley berusaha mengolah bagian-bagian tertentu untuk meraih penekanan ketimbang menyajikan bentuk secara keseluruhan. Bentuk-bentuk yang merangsang sensasi itulah yang saya kira bisa dirasakan dengan tetap menatapnya sebagai kesalingberkaitan dengan bagian lain. Continue reading

Basa-basi Trans-mode Arsitektural Malioboro

Perkara dalam tulisan ini, semacam percikan ide seusai mereka-reka makna bab ketujuh buku Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia karya Abidin Kusno, dua bulan lalu kira-kira. Hasrat yang rapuh itu kemudian saya tambal lagi dengan membaca bukunya Rudolf Mrazek, Engineer of Happy Land.

Mula-mula memahami Jogjakarta. Jogja, sebagai sebuah kawasan, memiliki sederet penanda identitas. Malioboro adalah salah-satunya. Sebagai penanda, apapun yang berada di kawasan itu—mulai dari pertokoan, lapak-lapak kaki lima, alat kendaraan, dan hiasan kota yang ada—tentunya menguatkan daya tawar identitas. Continue reading

Kosmologi, antara Filsafat dan Ilmu Alam

Is cosmology relevant to philosophy? Pertanyaaan yang sifatnya sangat mendasar seperti ini sangat jarang saya temui di pelbagai kajian filsafat yang lain. Padahal melalui pernyataan—sekaligus pertanyaan—semacam itulah kita bisa mengetahui kedududukan dan keterkaitan sebuah kajian dalam filsafat. Kosmologi, sebagai suatu kajian, yang dibahas dalam ilmu filsafat, tentunya tak luput dari pertanyaan tersebut.

Implikasi dan kemungkinan pola jawaban dari pertanyaan di atas bisa beragam. Secara sederhana, bisa kita lihat dari apa yang telah dilakukan oleh para filsuf untuk kosmologi. Bisa pula, dengan menelusuri dan menelaah isi kajian, lalu mengkaitkannya dengan kecendrungan kajian dalam filsafat. Misalnya, sebagaimana filsafat, kosmologi juga berbicara tentang materi, waktu, atau universalalitas. Melalui kesamaan kajian ini, tentu perdebatan filsafat telah memberikan banyak kontribusi dalam kajian kosmologi. Continue reading