Kaskus, Bagi Seorang Kaskuser

Setiap penghuni forum atau jejaring sosial punya pengalamannya sendiri dengan komunitasnya. Salah satu forum yang menurut saya bisa mengikat setia para pegiatnya adalah KASKUS yang beralamat kaskus.us. Maklum, forum komunitas dunia maya yang terbesar di Indonesia ini memang menawarkan banyak kepuasan. Mulai dari sajian yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal sampai sajian yang menguras konsentrasi otak, ada semua. Beragam topik informasi dan perbincangan pun ditawarkan. Ini tentu saja sangat menarik. Saya sendiri termasuk orang yang setia memantau informasi dan segala perbincangan di forum ini, sesekali komentar, sesekali buat thread. Paling tidak setengah jam dalam sehari, saya pasti menyempatkan.

Beberapa saat lalu ketika tengah dalam belantara KASKUS, saya menemukan thread yang menurut saya bisa mewakili gambaran atas pengalaman seorang kaskuser–sebutan untuk penghuni KASKUS. Ya. Tulisan yang dibuat oleh agan–sebutan lain disamping kaskuser–ber id aleeverpool ini cukup bisa menjawab keingintahuan kita, tentang bagaimana, mengapa dan apa yang membuat kaskuser betah di KASKUS. Tulisan aleeverpool menurut saya sangat menarik karena ia mengungkapkan pengalaman selama ngaskus dengan sangat intim. Nampaknya kira pengalaman ini juga dialami oleh setiap kaskuser. Berikut:  Continue reading

Advertisements

Kolonial dan Koloni

Si A, salah satu warga Indonesia, dan si B, seorang bule keturunan kolonial, tengah chatting berdua. Perbincangan yang lebih dari sekedar menarik untuk disimak. Tulisan ini diinspirasi dari kisah H. Agus Salim. Alkisah, dalam sebuah perundingan dengan Belanda, suatu ketika Agus Salim menyulut rokok lintingan. Kontan, aroma wangi racikan cengkeh dan tembakau itu pun menyebar. Terdengar cletukan dari si bule, “Bau apa ini, busuk sekali. Dasar orang Hindia.” Dengan santai tokoh bangsa itu berujar, “Kenapa kalian bisa lupa, gara-gara barang inilah kalian menjajah kami.”

B : Apa yang menarik dari Negara Indonesia ?
A : Sesuatu yang membuat bangsamu bertahan 350 tahun.

B : Bagaimana aku bisa membayangkan bahwa kalian adalah bangsa yang tegar? Continue reading

Liputan Tempo 1974; Ahmadiyah, Sebuah Titik yang Dilupa

Sebuah tulisan bertajuk Laporan Tempo 1974 yang diunggah hminews menarik perhatian saya. Tulisan itu menampilkan liputan majalah Tempo tentang ahmadiyah pada beberapa tahun lampau. Memang ini bukan yang pertama kalinya sebuah kelompok keagamaan yang dicetuskan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) ini diberitakan dalam ulasan panjang. Sebelumnya, pada 1933, Tempo juga telah meliput kejadian yang sama.

Jakarta, 29 September 1933. Alkisah, berkumpullah sekitar 2.000 orang (wartawan semua media, wakil pelbagai aliran dalam Islam, dan warga yang ingin menyaksikan) dalam sebuah diskusi spesial. Seorang moderatormengetengahkan diskusi pada: benarkah ada nabi lain setelah Muhammad? Diskusi merebak, perbincangan meruyak. Tapi tak ada yang berteriak memerintahkan bakar dan bunuh orang Ahmadiyah. Tak ada ustad yang menghalalkan darah kaum Ahmadiyah.

Empat puluh tahun kemudian, rekaman itu diulas kembali oleh Majalah Tempo karena pada 1974 itu isu Ahmadiyah kembali mengemuka. Konon, baik tahun 1933 maupun 1974, suasana cukup teduh, tidak seperti pada 34 tahun kemudian.

Berikut liputannya: Continue reading

Pulau Komodo agar Masuk 7 Keajaiban Dunia

Mari bertolak menuju ke Indonesia bagian tengah menjelang timur. Ada kaber gembira di sana. Pulau Komodo akhirnya lolos sebagai finalis tujuh keajaiban baru dunia. Pengumuman penting itu disampaikan oleh Komite New7Wonders senin lalu. Dengan demikian, pemungutan suara untuk Pulau Komodo sebagai finalis NW7 pun dilanjutkan. Tentu ini cukup menggembirakan, bukan?

Namun, saat ini juga New7Wonders menghapus Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) dari statusnya sebagai Pejabat Komite Penunjang Pulau Komodo di kampanye New7Wonders of Nature. Ini terkait dengan Polemik antara New7Wonder dengan Kemenbudpar.

Sebelum keputusan itu dikeluarkan, ada informasi beredar mengenai rencana penghapusan Pulau Komodo dari keikutsertaan New7Wonder. Hal itu lalu direspon, pemerintah berencana melemparkan tuntutan hukum. New7Wonder pun kecewa karena menurut mereka pemerintah terlampau menghiraukan informasi yang salah. Meski demikian, saya kira, hal ini berkaitan dengan polemik antara kedua kubu itu.

Perseteruan ini tentu seharusnya tak perlu terjadi, karena bagaimanapun akan berimbas pada dukungan terhadap Pulau Komodo pada pemilihan mendatang.

Polemik antara New7Wonder dengan Kemenbudpar

Uraian Kronologis Polemik versi New7Wonder sebelum keputusan masuknya Pulau Komodo dalam seleksi Tujuh Keajaiban Dunia.

 

Tahun 2009: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) RI membuat dan menyampaikan berbagai peryataan publik bahwa RI ingin menjadi Tuan Rumah Penganugerahan dan penyelenggaraan Deklarasi Pemenang 7 Keajaiban Alam Dunia yang baru.

Pebruari 2010: Kembudpar mengundang Direktur Yayasan N7W untuk meminta saran dan panduan bagaimana menyelenggarakan kampanye Vote Komodo agar sukses menjadi salah satu 7Keajaiban Alam Dunia.

Jasa konsultasi ini diberikan oleh N7W tanpa imbalan apapun kecuali biaya tuan rumah menjamu. Saat konsultasi berlangsung Kemenbudpar juga menyampaikan pernyataan publik bahwa Indonesia tertarik juga untuk menjadi tuan rumah dan penyelenggara event dimaksud.

Direktur N7W diundang untuk menyajikan persyaratan utama (termasuk parameter investasi umum) dari peluang Deklarasi Pemenang 7 Keajaiban di kantor Kembudpar. Continue reading

Lawan Fasisme Berkedok Agama #1

 

Indonesia Memanggil; Lawan Fasisme Berkedok Agama!

(Poster Lainnya ada di Sini)

Melihat kehidupan toleransi keberagamaan di negeri ini yang akhir-akhir ini ramai dikejutkan oleh beberapa kasus, tentu saja tak bisa didiamkan begitu saja. Saya kira seluruh umat beragama mesti saling membantu untuk menekan kuasa represif kelompok agama fasis yang selalu bikin rusuh ini.

Ya, saya sebetulnya menghargai keberagamaan. Namun tidak untuk yang mebikin onar. Dalam sejarah islam masa Rasulullah pun, tidak ada bentuk penyampaian kebenaran yang melalui jalur kekerasan. Tidak ada. Pelbagai peperangan yang terjadi masa Rasulullah adalah murni peperangan politik semata. Bukan peperangan agama–sebagaimana yang kita dengar dari pelajaran agama mainstream. Kenapa tampak seperti perang agama, hanya karena kebetulan saja bangsa yang berperang itu memiliki mayoritas masyarakat yang berbeda secara agama. Continue reading

Kronologi Kasus Antonius Richmond Bawengan sampai Pembakaran Gereja di Temanggung

Rentetan kejadian Antonius R Bawean atas tuduhan penistaan agama, terjadi semula sekitar Oktober tahun lalu. Ulil Abshar Abdalla, Aktivis Jaringan Islam Liberal melalui akun twitternya @ulil mengisahkan kronologinya. Saya sempat mengikuti di twitternya mas Ulil itu, namun tidak lengkap. Lantas saya cari di informasinya yang mengutib dia, ternyata ada. Berikut coba saya kisahkan ulang Kronologi kasus Antonius Richmond Bawengan sampai pembakaran Gereja di Temanggung.

Alkisah, pada bulan oktober 2010, ketika itu Antonius singgah di rumah saudaranya di Temanggung. Saat itulah dia sebarkan buku dan selebaran. Ada dua buku dan selabaran yg dibagikan oleh Antonius pada malam hari.  Keduanya itu ia masukkan ke dalam sela-sela pintu rumah penduduk. Perlu diketahui, warga yang mendapatkan selebaran tidaklah banyak. Selebaran itu memang berisi keterangan yang menghina agama, namun bukan hanya Islam, melainkan  juga agama lain.

Nasibnya memang sedang tidak mujur. Malam itu, ketika ia tengah menyebarkan selebaran itu, ada warga yang melihat. Langsung dilaporkan ke Ketua RT yang kebetulan seorang polisi. Dia kemudian ditangkap. Singkat cerita, Antonius pun diadili. Tiap kali berlangsung sidang, selalu saja dihadiri massa dengan wajah yang geram. Sehari yang lalu adalah sidang pembacaan. Karena hanya dituntut 5 tahun, warga pun marah karena mereka menginginkan Antonius dihukuman mati.

Sontag. Ekspresi kemarahan pun memuncak. Dalam senuah berita dirilis, kemarahan itu pertama-tama dilampisakan di pengadilan. Polisi pun bertindak. namun tak berhenti di situ. Akhirnya massa menyebar ke mana-mana. Ternyata massa yang menyebar itu menuju ke beberapa gereja yang memang tak jauh dari gedung pengadilan, sekitar 1 km. Ada 2 gereja dibakar, satu dirusak.

Yang juga perlu diperhatikan di sini. Massa huru-hara ini banyak dari mereka yg berasal dari luar kota, sebagaimana dikatakan oleh kepolisian dan pengakuan salah satu massa. Salah satunya dari Pekalongan dan lain-lain. Kita bisa melihat, tampak jelas sekali bahwa massa itu telah diorganisasi secara rapi. Selain karena banyak yang dari luar kota, pembagiannya menuju gereja juga sangat tidak mungkin dibilang kebetulan. Lantas pertanyaan selanjutnya, siapa yang organisir massa ini? Apa motif di baliknya? []