Mengangkat Sastra (Refleksi Ulang tahun Putu Wijaya ke-64)

Dunia kesusastraan Indonesia tak bisa dilepaskan dari nama Putu Wijaya. Bahkan, berkat kiprahnya lah kesusastraaan menjadi terangkat. Track record-nya yang gemilang, menempatkan Putu sebagai sastrawan besar dalam belantara sastra Indonesia. Tak kurang dari 40 novel, lebih 40 naskah sandiwara, sekitar seribu cerpen, juga ratusan esei, kritik drama, hingga buku teks drama karyanya telah dilepaskan. Kesemuanya terbang mengitari rimba kesusatraan Indonesia.

Dedikasi Putu tak bisa diremehkan. Bahkan, Jakob Sumardjo (1983 : 133) menyebut nama Putu Wijaya sebagai tokoh utama sastrawan Indonesia, terutama pada era 1970-an. Pengaruh sastrawan yang tak pernah lepas dari topi pet putih ini terekam jelas pada 1970-an dan 1980-an. Bisa dikatakan, ia bisa berdiri di titik avant garde Sastra Indoneasia.

Jakob juga menyebut Putu sebagai sastrawan paling produktif dan kreatif pada dasawarsa itu. Sampai saat ini pun produktifitas Putu masih bisa kita rasakan. Pujian Jakob tak lepas dari posisi Putu sebagai penggagas generasi baru sastra Indonesia. Kejengahan realisme dalam khazanah sastra Indonesia pada 1970-an, ia dobrak dengan seksama. Nuansa totaliter yang amat kental, ia ganti dengan menghadirkan fiksinya yang anti-struktur. Pada titik ini, Putu mengawali perayaan akan keragaman dalam Sastra Indonesia.

Lautan karya yang dihasilkan oleh Putu, diciptakannya dengan satu prinsip, “berkarya itu berjuang”. Bagi putu, kreativitas harus diciptakan, bukan sekadar ditunggu bagaikan ilham. Dengan pendirian tersebut, tak ayal kalau berbagai karya-karyanya bermunculan, bergerak ke segala arah, dan merangkum semua sastra yang ada. Kelebihan dari karya-karya Putu yakni mampu menumbuhkan inspirasi bagi setiap penikmatnya.

Yang membuat putu nampak istimewa, adalah kemampuannya untuk menciptakan beragam keterampilan seni. Semuanya dengan lancar bisa muncul dari tangan putu yang piawai. Disamping mahir dalam menulis cerita pendek, puisi, atau novel. Dia juga pandai dalam menciptakan naskah drama, skenario sinetron dan film, essai. Keterampilan sebagai sutradara teater dan film juga matang. Tampaknya, kapling kategoris tak bisa disematkan begitu saja pada pria yang lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali, pada 11 April 1944 ini. Tidak heran kalau sosok Putu dikenal sebagai seniman serba bisa.

Sebutan tersebut bukan hanya isapan jempol belaka. Serba bisa bukan berarti “sastrawan asal bisa”. Sebab, segala keterampilan seni yang ia kuasai, selalu menoreh prestasi. Misalnya dibidang film, ia berhasil menggondol tiga Piala Citra untuk skenario film layar lebar (Perawan Desa, Kembang Kertas, Ramadhan dan Ramona). Ia juga mendapat Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1991). Beberapa karyanya (cerita pendek, novel, drama) telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, antara lain, Arab, Belanda, Jepang, Jerman, Prancis, Rusia, Thai, Inggris. Berkat mendapat SEA Write Award (Bangkok, 1980), namanya sangat diperhitungkan di mancanegara.

Belum lagi dalam genre seni teater. Keterampilan teater yang ia miliki, mengantarkan ia pada anugerah Federasi Teater Indonesia (FTI) Award 2007. Perlu diketahui, Putu adalah sastrawan kedua penerima FTI Award setelah Rendra tahun 2006. Teaternya yang aneh, eksentrik, dan penuh improvisasi, membuat karya ini bergelimang pujian. “Teater Putu[…] berlaku di banyak tempat. Ia adalah milik beberapa generasi sesudahnya, milik sejarah teater itu sendiri, dalam posisi awal yang tidak tergantikan,” ujar sastrawan Radhar Panca Dahana.

Hampir setiap karya Putu tidak pernah luput dari pujian. Goenawan Mohamad pun pernah mengomentari novel dan cerpen putu. “cerita Putu bisa memikat karena pembaca ‘terpaksa’ ingin menguntitnya terus, tak tahu ke mana tiba-tiba ia akan berbelok. Atau berkelit ke arah yang tidak terduga”, ujar Goenawan. Kritikus sastra H.B. Jassin pun tak ketinggalan, ia mengatakan “Membaca cerita pendek Putu – yang diperluas kandungan setiap kata-katanya – tak ubahnya membaca roman yang panjang (dwilogi, trilogi, atau tetralogi), karena cerita-cerita pendek itu seperti halnya perjalanan kehidupan manusia.”

Lepas dari itu semua, beragam komentar terhadap karya-karya Putu, baik yang bersifat sekilas maupun mendalam, banyak bermunculan di media massa, buku, atau dalam forum-forum seminar. Semuanya mengucur deras terhadap karya-karya Putu Wijaya. Karya-karya Putu Wijaya juga banyak digunakan sebagai objek penelitian bagi penyusunan skripsi oleh mahasiswa fakultas sastra. Beragam komentar terhadap karya-karya Putu Wijaya, baik berupa tanggapan, pujian, maupun analisis, menunjukkan bahwa posisi Putu Wijaya sangat berpengaruh dalam percaturan kesusastraan Indonesia.

Dihari ulang tahunnya yang jatuh pada 11 April 2008 ini, kita semua berharap, semoga Putu Wijaya tetap produktif, melahirkan ide-ide besar (seperti dulu), bahkan lebih. Hari tua bukan penghalang dalam menorehkan prestasi-prestasi yang gemilang. Yakni, karya-karyanya yang segar dan menggairahkan itu. Tak ada istilah pensiun bagi seorng sastrawan, meskipun usia kian uzur. Saya yakin, tangan Putu akan terasa gatal kalau tidak mencipta karya. Sama seperti kepalanya yang akan panas apabila ide-ide besarnya tidak ditumpahkan. Harapannya, dunia kesusastraan Indonesia tak akan kesepian dari karya-karya yang bermutu putu.

Lepas dari itu semua, kesusastraan Indonesia harus bangkit dengan tokoh-tokoh baru. Karya-karya besar dalam sastra Indonesia, tak bisa berhenti pada Putu seorang. Kini, di momentum ulang tahun Putu, mari kita meneladani kerja keras dan produktifitas PUtu Wijaya. Ya, saatnya lahir Putu-Putu baru. Putu muda yang akan selalu membawakan karya-karya segar. Kita berharap, kelahiran Putu-Putu baru itu, tak hanya mampu meramaikan, tetapi juga memajukan kesusatraan, seperti halnya yang dilakukan Putu pada era 70-an. Selamat ulang tahun, Mas Putu! Semoga selalu sehat dan kreatif.

Rifqi Muhammad, Pegiat Komunitas Kembang Merak


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s