Kolonial dan Koloni

Si A, salah satu warga Indonesia, dan si B, seorang bule keturunan kolonial, tengah chatting berdua. Perbincangan yang lebih dari sekedar menarik untuk disimak. Tulisan ini diinspirasi dari kisah H. Agus Salim. Alkisah, dalam sebuah perundingan dengan Belanda, suatu ketika Agus Salim menyulut rokok lintingan. Kontan, aroma wangi racikan cengkeh dan tembakau itu pun menyebar. Terdengar cletukan dari si bule, “Bau apa ini, busuk sekali. Dasar orang Hindia.” Dengan santai tokoh bangsa itu berujar, “Kenapa kalian bisa lupa, gara-gara barang inilah kalian menjajah kami.”

B : Apa yang menarik dari Negara Indonesia ?
A : Sesuatu yang membuat bangsamu bertahan 350 tahun.

B : Bagaimana aku bisa membayangkan bahwa kalian adalah bangsa yang tegar? Continue reading

Advertisements

Utopia Kesejahteraan

Usia Indonesia hanya bisa dinisbatkan dalam angka. Negeri yang menjalani beberapa dekade dalam altar kemerdekaan ini tenyata tidak kinjung membuat rakyatnya menjadi warga negara. Upaya meraih kesejahteraan menjadi tugas invidu. Rakyat menjadi diri yang harus memperjuangkan dirinya sendiri untuk sekadar meraih apa yang kita sebut sebagai ‘hidup berkecukupan’. Negara-bangsa yang sedianya dicicitacitakan akan membawa pada kedaulatan dan kesejahteraan hidup, tak lebih daripada reproduksi antar satuan ide-ide.

Keadaan memang tidak menguntungkan bagi seorang rakyat biasa. Bahkan ia tak bisa membela dirinya sebagaimana dulu penduduk sekitar merapi-merbabu mampu meneriakkan perjuangan. Di mana ketika itu kesadaran komunisme yang diterima masyarakat agraris ini membuat mereka memiliki kekuatan dan tekad dalam bendera kepartaian. Kalau dulu masyarakat masih mengalamai masa di mana partai adalah jalan menuju kesejahteraan warga negara, kini partai tak ubahnya lahan uang kaum borjuis berdaya.

Saya membayangkan apa yang alami oleh rakyat saat ini tak terlampau beda dengan tempo di mana Indonesia berada dalam kondisi yang disebut Arbi Sanit sebagai semi kolonial dan semi feodal. Sebuah masa di mana petani dan rakyat lainnya belum bebas samasekali dari ikatan penjajahan, bahkan masih terikat dengan perjanjian-perjanjian yang merugikan, meskipun kemerdekaan secara politik sudah dianggap ada. […]

Catatan ini mandeng pada beberapa hari lalu, hanya karena saya tinggal makan. Namun akan diteruskan lagi kemudian.

 

Presiden Mesir Hosni Mubarak Resmi Mundur

Hingga malam ini, jutaan rakyat Mesir tetap bertahan di Lapangan Tahrir, Kairo. Mereka menantikan ganjaran dari apa yang mereka perjuangkan selama ini. Kalau Mubarak Mundur malam ini, tentu bukanlan sebuah keajaiban. Kemunduran Mubarak adalah hasil perjuangan.

Pernyataan Mubarak mundur dari jabatannya sebagai presiden Mesir pada judul di atas, tentu saja sebuah harapan. Harapan dari sebagian besar—bahkan mungkin seluruh—rakyat Mesir.

Sebagaimana dilansir BBC, mubarak sendiri dipastikan akan memberikan pidato malam ini. Ia  akan menyampaikan pidato pada Kamis (10/2/2011) pukul 22.00 waktu setempat atau Jumat (11/2/2011) pukul 03.00 WIB. Ini tentu cukup menegangkan. Revolusi Melati akhirnya berimbas di Mesir, Presiden Husni Mubarak resmi mengundurkan diri dari jabatan presiden ini harapan besar.

Pulau Komodo agar Masuk 7 Keajaiban Dunia

Mari bertolak menuju ke Indonesia bagian tengah menjelang timur. Ada kaber gembira di sana. Pulau Komodo akhirnya lolos sebagai finalis tujuh keajaiban baru dunia. Pengumuman penting itu disampaikan oleh Komite New7Wonders senin lalu. Dengan demikian, pemungutan suara untuk Pulau Komodo sebagai finalis NW7 pun dilanjutkan. Tentu ini cukup menggembirakan, bukan?

Namun, saat ini juga New7Wonders menghapus Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) dari statusnya sebagai Pejabat Komite Penunjang Pulau Komodo di kampanye New7Wonders of Nature. Ini terkait dengan Polemik antara New7Wonder dengan Kemenbudpar.

Sebelum keputusan itu dikeluarkan, ada informasi beredar mengenai rencana penghapusan Pulau Komodo dari keikutsertaan New7Wonder. Hal itu lalu direspon, pemerintah berencana melemparkan tuntutan hukum. New7Wonder pun kecewa karena menurut mereka pemerintah terlampau menghiraukan informasi yang salah. Meski demikian, saya kira, hal ini berkaitan dengan polemik antara kedua kubu itu.

Perseteruan ini tentu seharusnya tak perlu terjadi, karena bagaimanapun akan berimbas pada dukungan terhadap Pulau Komodo pada pemilihan mendatang.

Curhat Alanda Kariza dan Pledoi Arga Tirta Kirana atas 10 tahun Penjara 10 Miliar

Alanda Kariza, gadis berusia 19 tahun ini menulis mengenai nasib ibunya di media sosial. Sang ibu, Arga Tirta Kirana, terkait dengan kasus pemalsuan dokumen di Bank Century. Beberapa kali siding digelar, saat itu pula perhatian publik tertuju.

Beruntung saya sempat membaca tulisan gadis itu beberapa saat lalu dari link yang diberikan teman pada dinding facebook saya. Alanda yang juga penulis ini secara khas menggambarkan kegetiran seorang anak. Dalam tulisan itu ia nampak geram.

Ibunya bukan sosok yang terlibat. Posisi ibunya dalam Bank Century, Kepala Divisi Legal Bank Century, tidak memberikan kemungkinan untuk melakukan kenistaan itu. Lagipula Ibunya juga bukan orang yang gila harta. Hidup berkecukupan sebagai keluarga, dan tak punya banyak harta. Ia hanya dijadikan kambing hitam yang diajukan oleh peman besar yang ada di atasnya.

Dalam pengakuannya pribadinya, Arga, sang ibu, menyebut Hermanus Hasan Muslim dan Robert Tantular, pemilik Bank Century, lah orang yang bertanggung jawab dalam perkara yang menjeratnya. Karena menurutnya, semua kredit ini belakangan saya ketahui adalah untuk kepentingan si bos itu. Demikian Arga sampaikan di depan majelis hakim.

Arga Tirta Kirana didakwa melanggar Pasal 49 UU ayat 2 UU Perbankan dalam pemberian kredit terhadap empat perusahaan. Namun, Arga membantah semua dakwaan itu karena pemberian kredit itu bukan tanggung jawab dan wewenangnya. Arga Tirta Kirana dituntut 10 tahun penjara dan denda Rp10 miliar atas dugaan pencatatan palsu dalam laporan tarnsaksi perbankan. Kata kunci “10 tahun, Rp10 miliar” inilah yang dijadikan judul dalam tulisan Alanda.

Saya juga tak habis pikir. Dalam cermatan sederhana, seorang gayus yang bisa bermewah-mewahan dan merugikan lebih banyak bagi negara, hanya 7 tahun. Saya memang tak thu juntrungnya, namun saya kira ini tetap keterlaluan. Lembaga peradilan kini hanya tukang hukum bayaran.[]

–Rifqi Muhammad

Polemik antara New7Wonder dengan Kemenbudpar

Uraian Kronologis Polemik versi New7Wonder sebelum keputusan masuknya Pulau Komodo dalam seleksi Tujuh Keajaiban Dunia.

 

Tahun 2009: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) RI membuat dan menyampaikan berbagai peryataan publik bahwa RI ingin menjadi Tuan Rumah Penganugerahan dan penyelenggaraan Deklarasi Pemenang 7 Keajaiban Alam Dunia yang baru.

Pebruari 2010: Kembudpar mengundang Direktur Yayasan N7W untuk meminta saran dan panduan bagaimana menyelenggarakan kampanye Vote Komodo agar sukses menjadi salah satu 7Keajaiban Alam Dunia.

Jasa konsultasi ini diberikan oleh N7W tanpa imbalan apapun kecuali biaya tuan rumah menjamu. Saat konsultasi berlangsung Kemenbudpar juga menyampaikan pernyataan publik bahwa Indonesia tertarik juga untuk menjadi tuan rumah dan penyelenggara event dimaksud.

Direktur N7W diundang untuk menyajikan persyaratan utama (termasuk parameter investasi umum) dari peluang Deklarasi Pemenang 7 Keajaiban di kantor Kembudpar. Continue reading

Modifikasi Nomor Polisi

Di jalan raya, kita mungkin sering menemukan plat nomor yang didesain menjadi sebuah tulisan yang bisa dibaca. Misalnya, dari B 900 GLE digeser jadi B 900GLE (dibaca be Google).

Ya, selama ini bantak terelihat nomor kendaraan yang aneh lagi unik itu bertebaran. Bisa jadi itu kebetulan, atau memang nomor yang dipesan khusus. Namun oleh pemiliknya dimodifikasi sendiri tata letaknya. Bukankah ini bagus? Lantas apa yang bikin bahaya?

Ternyata kini, para pemilik kendaraan yang susunan tata letak nomor polisi pada plat nomornya berubah dari yang ditetapkan Kepolisian, diminta untuk diganti. Bila sudah dimodifikasi, Anda disarankan mengganti nopol tersebut dengan yang dikeluarkan Samsat. “Pemilik mobil atau motor yang memasang plat seperti itu akan diganjar denda Rp 500.000 atau pidana penjara dua bulan,” kata Baharudin dalam sebuah wawancara di Kompas.

Konon, dalam Pasal 280 UU No 22 Tahun 2009 tentang aturan larangan nopol modifikasi, disebutkan, “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang tidak dipasangi tanda nomor kendaraan bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 Ayat (1) dipidana dengan kurungan dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000 .” Inilah bahayanya. kalau ketahuan, bisa kehilangan Rp 500.000.

Yah. Saya tidak terlampau ada urusan sebetulnya. Toh biasanya yang punya plat nomor antik itu kebanyakan orang kaya. Biarkan mereka saja yang memikirkannya.[]