Bang Becak

Pagi-pagi bang becak ke pasar
Siang-siang bang becak masih melayani pelanggan
Sore-sore bang becak terus mencari penumpang
Malam-malam bang becak baru bisa pulang
Pagi siang sore malam bang becak bekerja keras
Sejak dia bujangan sampai anaknya menikah nasib bang becak tidak berubah

12 Agust, terminal concat

Advertisements

Pengakuan Waktu

Panggil saja aku waktu. Orang mengenalku sebagai penanda apa pun. Dalam sebuah kamus, aku dimengerti sebagai rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan, berada atau berlangsung. Aku digeneralisasi ke dalam bentuk yang baku.

Menurutku, cara mereka dalam melakatkan aku pada segala hal cukup ceroboh. Padahal mereka sendiri yang menegaskan, aku dipakai untuk menandai interval keadaan/kejadian, yang ini tentu saja berbeda untuk tiap hal. Bukannya itu menempatkan waktu dalam keunikannya? Menurutku, Einstein menjadi orang yang cukup jeli dalam mengenalku. Continue reading

kesana biduk terarah

aku adalah bumi yang dikenai pancaroba. tubuhku mengalami demam yang lebih berupa getarangetaran ketimbang rintihankerontang dan kegenitan gerimis yang tak biasa. tanah yang alfa persemayaman itu terjamah, ia memulai warna yang merupa karena engkau hadir disana. maaf bila mutiaramu kutanggapi dengan cinta yang kabur—yang tak berselongsong rencana, yang tak bertahta pada bahasa, yang tak ada dalam ayatayat surga dan neraka. aku hanya mampu memasrahkan cinta yang aku punya, sebuah cinta yang ada karena engkau ada.

Jogja, 29 juni 2009.

Continue reading

di sekitarmu, aku mendoakanmu

aku tegar di sampingmu meski fajar dan lembayung senja bersua sembari membayangkan kita menikmati bubur ayam di balkon saat gerimis sore itu diketuk oleh lonceng kapel gereja yang bersahutan dengan geming adzan dari surau dekat sumur di sebuah desa lembah gunung sumbing di mana engkau dan aku memungkasi masa—semoga kau tahu itu.

Jogja. Juni 25, 2009

Continue reading

Entah

Hentakan karang yang embun pun hengkang. Hamba membeku, bertingkah juga layu. Jelaga arang hamba kuyup oleh ludah tabu. Seperti labirin tetap kusut membalutku. Topang diriku dengan senyum lapang, sayang. Yang semoga itu cermin dari sum-sum dalam. Tahukah kau, hadir menerka adalah gerbang keharapan. Mumpung ilalang tak menjamah tumit. Pinus tua melepas kaku. Aku mengarak bunga-bunga ke utara, kemarilah.

Jogja, Juni 2009

Continue reading