Kolonial dan Koloni

Si A, salah satu warga Indonesia, dan si B, seorang bule keturunan kolonial, tengah chatting berdua. Perbincangan yang lebih dari sekedar menarik untuk disimak. Tulisan ini diinspirasi dari kisah H. Agus Salim. Alkisah, dalam sebuah perundingan dengan Belanda, suatu ketika Agus Salim menyulut rokok lintingan. Kontan, aroma wangi racikan cengkeh dan tembakau itu pun menyebar. Terdengar cletukan dari si bule, “Bau apa ini, busuk sekali. Dasar orang Hindia.” Dengan santai tokoh bangsa itu berujar, “Kenapa kalian bisa lupa, gara-gara barang inilah kalian menjajah kami.”

B : Apa yang menarik dari Negara Indonesia ?
A : Sesuatu yang membuat bangsamu bertahan 350 tahun.

B : Bagaimana aku bisa membayangkan bahwa kalian adalah bangsa yang tegar? Continue reading

Onghokham Yang Mereka Kenal

Judul : Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan / Editor : David Reeve, JJ Rizal, Wasmi Alhaziri / Penerbit : Komunitas Bambu, Jakarta / Cetakan : Pertama, Desember 2007 / Tebal : xvi+ 358 halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad

Buku berjudul Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan ini mencoba mengupas kulit kehidupan Onghokham. Sepak terjang sosok yang menutup umurnya pada 30 Agustus tahun lalu ini jelas terekam dalam buku yang memuat 53 kumpulan tulisan sahabatnya, baik dalam maupun luar negeri. Buku ini termasuk karya pertama yang memotret sisi personal dan eksentrik Onghokham.

Ong lahir di Surabaya, 1 Mei 1933. Meski tumbuh di lingkungan keluarga Tionghoa Tjabang Atas (peranakan kelas elite menurut segregasi sosial Hindia Belanda), ong tetap menunjukkan keindonesiaannya. Tak mengherankan jika riwayat kesarjanaannya di Jurusan Sejarah UI ditutup dengan skripsi tentang periode akhir keruntuhan Hindia Belanda dari perspektif Nederlando-centris. Menurut almarhum sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo, skripsi tersebut menunjukkan seorang intelektual Ong yang Indonesia-centris. Continue reading