Kolonial dan Koloni

Si A, salah satu warga Indonesia, dan si B, seorang bule keturunan kolonial, tengah chatting berdua. Perbincangan yang lebih dari sekedar menarik untuk disimak. Tulisan ini diinspirasi dari kisah H. Agus Salim. Alkisah, dalam sebuah perundingan dengan Belanda, suatu ketika Agus Salim menyulut rokok lintingan. Kontan, aroma wangi racikan cengkeh dan tembakau itu pun menyebar. Terdengar cletukan dari si bule, “Bau apa ini, busuk sekali. Dasar orang Hindia.” Dengan santai tokoh bangsa itu berujar, “Kenapa kalian bisa lupa, gara-gara barang inilah kalian menjajah kami.”

B : Apa yang menarik dari Negara Indonesia ?
A : Sesuatu yang membuat bangsamu bertahan 350 tahun.

B : Bagaimana aku bisa membayangkan bahwa kalian adalah bangsa yang tegar? Continue reading

Tulisan Curhat Alanda Kariza

–(ini adalah tulisan Alanda Kariza, mengenai nasib sial ibunya karena tertimpa kasus Bank Century )

Jika ditanya apa cita-cita saya, saya hampir selalu menjawab bahwa saya ingin membuat Ibu saya bangga. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Ibu menceritakan aktivitas saya kepada orang lain dengan wajah berbinar-binar. Semua mimpi yang saya bangun satu persatu, dan semoga semua bisa saya raih, saya persembahkan untuk beliau. Belakangan ini, kita dibombardir berita buruk yang tidak habis-habisnya, dan hampir semuanya merupakan isu hukum. Saya… tidak henti-hentinya memikirkan Ibu. Terbangun di tengah malam dan menangis, kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan rutin (termasuk, surprisingly, makan), ketidakinginan untuk menyimak berita… Entah apa lagi.

Selasa, 25 Januari 2011, periode ujian akhir semester dimulai. Hari itu juga, Ibu harus menghadiri sidang pembacaan tuntutan. Hampir tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ibu saya, yang sejak bulan September 2005 bekerja di Bank Century. Hanya keluarga dan kerabat dekat kami yang mengetahui bahwa Ibu menjadi tersangka di beberapa kasus yang berhubungan dengan pencairan kredit di Bank Century. Sidang pembacaan tuntutan kemarin merupakan salah satu dari beberapa sidang terakhir di kasus pertamanya. Continue reading

Lawan Fasisme Berkedok Agama #1

 

Indonesia Memanggil; Lawan Fasisme Berkedok Agama!

(Poster Lainnya ada di Sini)

Melihat kehidupan toleransi keberagamaan di negeri ini yang akhir-akhir ini ramai dikejutkan oleh beberapa kasus, tentu saja tak bisa didiamkan begitu saja. Saya kira seluruh umat beragama mesti saling membantu untuk menekan kuasa represif kelompok agama fasis yang selalu bikin rusuh ini.

Ya, saya sebetulnya menghargai keberagamaan. Namun tidak untuk yang mebikin onar. Dalam sejarah islam masa Rasulullah pun, tidak ada bentuk penyampaian kebenaran yang melalui jalur kekerasan. Tidak ada. Pelbagai peperangan yang terjadi masa Rasulullah adalah murni peperangan politik semata. Bukan peperangan agama–sebagaimana yang kita dengar dari pelajaran agama mainstream. Kenapa tampak seperti perang agama, hanya karena kebetulan saja bangsa yang berperang itu memiliki mayoritas masyarakat yang berbeda secara agama. Continue reading

Surat Terbuka Kepada Mahasiswa Sekampung Halaman

–diposting juga di sedanonline.wordpress.com

Bagi kalian yang tengah kuliah, ini adalah masa liburan. Biasanya beberapa kawan, sanak, atau tetangga kita asal Kecamatan Sedan ini, memanfaatkannya untuk pulang. Kepada kalian yang akan merencanakan pulang kampong, saya ucapkan selamat jalan. Saya doakan, semoga sampai peraduan orang tua dengan selamat, melewati perjalanan indah nan lancar.

Hm.. mungkin harus sedikit bersabar bagi yang melalui Jalan Pantura.  Karena jalan Daendels itu tengah menderita, sekujur tubuhnya bonyok, koyak, dan penuh lubang. Bus Sinar Mandiri yang konon terbiasa gerak cepat, juga terpaksa harus turut merangkak. Ya. Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa membawa kabar baik untuk Ayah dan Bunda, atau Bapak dan Emak. Kalau kantongmu lagi tebal, bawalah sedikit oleh-oleh untuk adik, kakak atau teman.

Kawan, kalian kini mahasiswa. Lihatlah sedan sebagai desa yang penuh potensi; desa yang membesarkan kalian; desa tempat kalian dulu merajut pengharapan; desa yang memberikan segalanya untuk bekal hidup kalian. Bagaimanapun, kalian mungkin tidak akan mendapatkan suasana sedamai desa Sedan, sekalipun itu diperbandingkan dengan kepulaan Karibia yang konon begitu segar. Maka hidupilah desa ini sebaik-baiknya. Continue reading

Tahukah Harga untuk Nyawa Seorang Manusia ?

 

Di Afghanistan,  bila tentara NATO menewaskan warga sipil yang tak bersalah dalam sebuah serangan, keluarga korban akan mendapatkan kompensasi sejumlah 2.500 dollar. Sementara menurut Jendral AS di Afghanistan, Stanley McChrystal, tak ada kepastian jumlah kompensasi untuk warga sipil yang terbunuh (bacain.com).

Pertanyaan seperti “Akankah kompensasi itu mampu mengobati luka keluarga yang ditinggalkan ?” tentu begitu berat kita ajukan. Karena jawabannya tentu saja, tidak.

“Jika aku tidak mendapatkan hakku, aku akan latih anak-anakku menjadi martir, dan aku akan bergabung dengan Taliban, Tidak ada jalan lain. Aku akan serahkan mereka pada Usamah bin Laden“, kata Zmarai Hazrati, bapak yang kehilangan seorang anaknya akibat serangan tentara tentara Inggris (aljazeera.net). Bahkan ketika saya membaca liputan itu, suara geram sang bapak begitu sangat terasa [Rifqi Muhammad].

Gagasan Dengan Keyakinan

Keputusan dan konsekuensi adalah dua sisi, itu yang aku amini, maka ketika semester ini memutuskan cuti kuliah, aku siap untuk itu. Aku beruntung berkesempatan cuti kuliah, hal baru yang mungkin hanya aku lakoni sekali. Karenanya aku berusaha menyerap sesuatu yang tidak ada ketika tidak menempuhnya.

Ada yang asing sebagai buah dari langkah yang baru aku jalani, namun bukan berarti aku tidak siap menghadapi. Semacam menimbang-nimbang bagaimana harus memutar sesuatu yang baru aku mulai. Hampir sama ketika aku menginjakkan kaki di Jogjakarta; dimana ada beragam agenda didepan mata, ada dunia yang tercerabut, ada gairah memulai, ada semangat menggelora mengusahakan orientasi, dan beberapa percik api yang harus dihadapi. Semua berkelindan begitu saja secara alami. Continue reading