Kolonial dan Koloni

Si A, salah satu warga Indonesia, dan si B, seorang bule keturunan kolonial, tengah chatting berdua. Perbincangan yang lebih dari sekedar menarik untuk disimak. Tulisan ini diinspirasi dari kisah H. Agus Salim. Alkisah, dalam sebuah perundingan dengan Belanda, suatu ketika Agus Salim menyulut rokok lintingan. Kontan, aroma wangi racikan cengkeh dan tembakau itu pun menyebar. Terdengar cletukan dari si bule, “Bau apa ini, busuk sekali. Dasar orang Hindia.” Dengan santai tokoh bangsa itu berujar, “Kenapa kalian bisa lupa, gara-gara barang inilah kalian menjajah kami.”

B : Apa yang menarik dari Negara Indonesia ?
A : Sesuatu yang membuat bangsamu bertahan 350 tahun.

B : Bagaimana aku bisa membayangkan bahwa kalian adalah bangsa yang tegar? Continue reading

Advertisements

Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad

Judul : Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo, Pidato Otikritik Di Volksraad 1927-1939 / Penulis : Azizah Etek, Mursyid A.M., dan Arfan B.R. / Penerbit : LKiS, Yogyakarta / Cetakan : 1, Mei, 2008 / Tebal : xvi + 512 halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad

Selama ini kita menganggap orator berbahasa Indonesia pertama pada sidang Volksraad adalah Mohammad Husni Thamrin(1938). Namun, tampaknya gelar “pertama” itu perlu dipertimbangkan ulang. Sebab, jauh sebelum Thamrin, pada 1927, Jahja Datoek Kajo telah mengawali langkah besar itu. Sejak menduduki Volksraad, Jahja selalu lantang meggunakan bahasa Indonesia setiap kali berpidato.

Volksraad merupakan majelis Dewan Rakyat yang dibentuk oleh Belanda. Dewan ini beranggotakan orang Belanda dan pihak pribumi. Dengan pembetukan Volksraad, harapannya orang-orang pribumi bisa berperan dalam jajaran pemerintahan. Sejak awal pendirian, bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi resmi adalah bahasa Belanda. Tak heran bila bahasa itulah yang selalu akrab terdengar pada tiap sidang-sidang Volksraad. Continue reading