Yogyakarta-Indonesia

Amanat Sang Sultan

Ialah catatan lengkap bunyi amanat Sultan Hamengku Buwono IX yang ditandatangani pada 5 September 1945, sebagai pengingat sejarah  bergabungnya Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mistisisme dan Filosofi Manusia Jawa

Mistisme jawa terjabar kedalam pelbagai bentuk pandangan dan filosofi diri manusia jawa. Misalnya kelahiran manusia yang merupakan anugerah Gusti, ditempatkan dalam possi yang sangat luhur. Sehingga, pertemuan lingga dan yoni sebagai perantaranya, menjadi proses magis yang penuh spiritualitas. Bothok bantheng winungkus godhong asem kabitingan alu bengkong, merupakan simbol yang menerangkan asal-usul perspektif manusia Jawa. Secara harfiah, bothok bantheng bermakna sperma, godhong asem merupakan kemaluan wanita, dan alu bengkong dimaknai alat kelamin laki-laki.

Dalam mistisme Jawa, manusia tidak hadir sendiri di muka bumi, melainkan berempat. Kehadirannya di bumi bersamaan dengan sedulur papat. Sehingga ditambah kita sendiri, totalnya sejumlah lima pancer. Sedulur papat lima pancer, merupakan penghormatan pada orang tua, khususnya ibu yang sudah melahirkan. Ibu juga sebagai sumber kasih sayang yang tiada habis-habisnya. Continue reading

Bioskop Permata Yogyakarta, Citarasa Baheula

Barangkali masyarakat Yogyakarta saat ini tidak lagi mengenal Bioskop Permata. Namun ia adalah kenangan terindah. Terutama bagi mereka yang sempat hidup di Jogja sekitar tahun 60-an, Bioskop Permata bisa dikatakan sebagai satu-satunya hiburan idaman. Bahkan bisa dikatakan tidak ada satupun tempat hiburan di Jogja yang mampu mengalahkan sebuah Bioskop Permata. Bioskop paling bergengsi di jogja.

Bioskop Permata berdiri di Jalan Sultan Agung sejak tahun 1940-an. Tak bisa di elak. Bioskop ini menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perfilman layar lebar di Indonesia. Posisinya tentu tak bisa direduksi dalam lokalitas Jogja. Bagaimanapun dunia perfilman Indonesia tak bisa begitu tegak berdiri tanpa sokongan dari Jogja. Andil perannya dalam dunia perfilman yang begitu besar, tentu saja tak bisa dilepaskan begitu saja dari Bioskop Permata ini. Continue reading

Cara Sederhana Mengetahui Keaslian Crop Circle

Ditengah hiruk pikuk RUU Keistimewaan, masyarakat Yogyakarta digemparkan kemunculan Crop Circle (CC). Tak lama setelah itu, terdengar kabar mahasiswa UGM mengaku sebagai dalang dari fenomena Crop Circle.

Apakah Crop Circle di Berbah, Yogyakarta ini asli atau rekayasa?  Untuk mengetahui keaslian Crop Circle, menurut Beta-UFO—lembaga yang memperhatikan masalah UFO di Indonesia—bisa dilacak dengan cara berikut:

Continue reading

Sejarah, Bentuk dan Ciri-ciri Crop Circle

Ditemukannya pola lingkaran raksasa di areal persawahan wilayah Berbah, Sleman, Yogyakarta, Minggu (23/1/2011), menambah deret fenomena unidentified flying object (UFO). Lantaran ukurannya yang sangat besar dan simetris, jejak yang disebut crop circle, ini kerap dikait-kaitkan dengan gelagat makhluk asing alias alien. Istilah Crop circle pertamakali diperkenalkan oleh Colin Andrew, salah satu peneliti crop circle ternama di dunia.

Crop circle ini muncul sekejap dalam dalam semalam di area ladang, baik gandum, jagung, keledai, sawah atau kebun bunga. Dulunya, crop circle hanya berbentuk lingkaran sederhana, kemudian memasuki 1980an, berkembang hingga memiliki pola yang lebih rumit. Crop circle dengan pola terrumit muncul di lading gandum pinggiran kota Wroughton, Wiltshire di Ingris. Continue reading

Sejarah Singkat Pers Mahasiswa

Pada mulanya diniati sebagai upaya perjuangan. Itulah alasan keberadaan (raison d’etre) Pers Mahasiswa di Indonesia. Maka di awal kemunculaya, pers mahasiswa kental dengan gerakan kemahasiswaan dan gerakan perjuangan kemerdekaan. Ia adalah upaya penyebarkan ide-ide pembaharuan, nasionalisme dan perjuangan Bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

Dalam literature sejarah, tercatat beberapa terbitan yang menjadi tonggak perjalanan pers mahasiswa, diantaranya, Jong java, Indonesia Merdeka, Oesaha Pemuda, atau Jaar Boek (Amir E. Siregar; 1983). Pada masa selajutya, ketika Demokrasi Liberal diterapkan, pers mahasiswa kian menjamur, di Jakarta misalnya, terbit Academia, Mahasiswa, Forum; di Bandung, Bumi Siliwangi (IKIP), Intelegensia (ITB); di Yogyakarta, Criterium (IAIN), GAMA (UGM); di Surabaya, Ut Omnes Umum Sint (GMKI); di Makasar Duta Mahasiswa (DEMA Hasanuddin); di Medan, Gema Universiter; dan di Padang, terbit Tifa Mahasiswa. Continue reading

Tentang Cak Nur sebagai Gagasan

Justru saya menjadi dekat dengan Cak Nur saat mengakrabinya sebagai Idea. Bukan semata kala bergumul dengan pemikirannya.

Pengalaman dan ingatan yang berkesan tentu tak mudah lekang. Demikianlah kiranya saat tokoh besar itu merangsek dalam relung kesadaran saya. Kala itu, saat saya berumur sebelas tahun, pak lek yang tengah menempuh Perguruan Tinggi di Yogyakarta kebetulan sedang pulang. Laiknya anak-anak yang hidup di desa terpencil, mendengarkan cerita tentang hiruk pikuk kota dengan sebongkah keindahannya tentu menjadi dambaan. Maka wajar bila saya meminta pak lek untuk mengkisahkan dunia barunya.

Di tengah kelindan kekaguman akan surga kota, saya kemudian merasa tergelitik untuk bertanya tentang sesuatu yang saat itu saya anggap penting. “disana kalau ngaji dengan siapa?” dan “Pondoknya sebesar apa?”, tanyaku berturut-turut. Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Mengaji—dalam hal ini mendalami agama dengan panduan kyai—merupakan kewajiban tak tertulis bagi segenap warga di kampung kami. Lagi pula dari kecil sampai SMA, Pak Lek salalu mondok. Lalu dengan mantap ia menjawab, “nama kyai-nya Nurcholish Madjid, pondoknya besar, juga lengkap dengan puluhan ribu kitab”. Belakangan baru saya ketahui kalau pondok yang ia maksud ternyata perpustakaan kampus. Continue reading

Penyimpangan Pemimpin Agama

Judul Buku : Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler / Penulis : John Cornwell / Penerbit : Beranda, Yogyakarta / Cetakan : Pertama, 2008 / Tebal : xxxi + 520 Halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad (Koran Jakarta tanggal 5 juli 2008.)

Dalam setiap agama, pemuka agama menjadi segolongan orang yang memiliki otoritas untuk mengawal agama. Bulir-bulir kehormatan berpendar dalam aras pribadinya yang penuh kharisma. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit para agamawan yang memanfaatkan kepercayaan umatnya untuk melegitimasi kepentingan pribadi. Meski penyakit ini menjangkit disemua agama, namun tidak semua umat pemeluk agama menyadarinya. Agaknya, mereka belum siap dengan kabar-kabar semacam itu. Tidak heran apabila beberapa kecacatan para pendahulu agama yang kini mulai menyeruak sempat menggegerkan para umatnya.

Tragedi-tragedi di lingkungan orang-orang suci tampaknya selalu tragis untuk ditulis. Jelas fenomena ini akan menjadi batu yang menandung keimanan para pemeluk agama. Tak bisa di hindari, fakta sejarah negatif ini tentu menyisakan kegetiran di kalangan umat. Itulah kenapa, cerita kehidupan orang-orang “langit” ini akan selalu dihantui oleh ironi-ironi terselubung. Demikianlah kiranya kesan yang muncul setelah buku bertajuk Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler beredar. Continue reading

Pembatas Buku

Saat ini, telah banyak penerbit yang menyertakan “pembatas buku” dalam setiap produk terbitannya. Meski benda ini tampak sederhana, ternyata pembatas buku memiliki banyak fungsi. Berkaitan dengan hal ini, tak hanya pembaca yang merasakan gunanya, tetapi juga penerbit dan buku itu sendiri. Dikalangan masyarakat, selain dikenal dengan istilah “pembatas buku”, benda mungil itu juga sering disebut dengan “batas baca”.

Dulu, tidak banyak buku yang memiliki pembatas buku. Benda ini hanya akan ditemui pada buku-buku tebal, atau yang tergolong hardcover. Bentuk dan bahan dasar pembatas buku pun masih seragam. Yakni, dengan memakai seutas pita yang salah satu ujungnya menempel pada bagian dalam punggung buku. Tepatnya, bagian atas buku. Pita ini melekat erat, tak gampang lepas, dan menjadi bagian dari raga buku itu sendiri. Diantara buku yang dilengkapi dengan pembatas buku jenis tersebut adalah kamus, Al Kitab, Al Qur’an, dan jenis buku teks tebal yang lain. Sedangkan buku-buku golongan paperback, apalagi yang tipis, lazimnya tak dilengkapi pita (pembatas buku). Continue reading

Karya Sultan Hamengkubuwono X

Judul Buku : Merajut Kembali Keindonesiaan Kita / Penulis : Sultan Hamengku Buwono X / Penerbit : Gramedia, Jakarta / Cetakan : Pertama, 2008 / Tebal : viii + 312 Halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad (Media Indonesia pada 29 Maret 2008.)

Jawa kerap kali dikenal karena kerajaannya. Padahal, Jawa memiliki aspek lain yang tak kalah hebat, yakni khasanah literaturnya. Dua aspek tersebutlah yang mengokohkan eksistensi Jawa. Juga, karena dua hal tersebut lah, Jawa banyak pengaruh terhadap pembentukan Indonesia. Sebab, secara filosofis, konsep mengenai “Indonesia” banyak berurat pada risalah-risalah Jawa.

Coba kita tilik magnum opus karya Mpu Prapanca, Negarakertagama. Dimana, dari karya inilah kita menemukan “Bhineka Tunggal Eka”. Sebuah kalimat yang melegitimasi ikatan kesadaran kita untuk berbangsa. Disamping itu masih banyak karya lain yang mampu menginspirasi founding father kita dalam memulai dan mengawal Indonesia. Misalnya kitab Darmagandhul karangan Ki Kalamwadi, atau karya-karya Raden Ngabehi Ranggawarsita seperti Ramalan Jayabaya, Sabda Tama, Serat Cemporet, Serat Kalatida, Suluk Saloka Jiwa, dan Wirid Wirayat Jati. Continue reading