Film Kolosal Sejarah Rembang

Menarik sekali ulasan berita di Suara Merdeka sekitar 2 hari yang lalu, ialah “Rembang Gagas Film Sejarah”. Berita ini menyuguhkan bagaimana kini Pemerintah Kabupaten Rembang, salah satu kabupaten di pantau utara, berupaya untuk merangkum sejarahnya yang berpencar.

Tersebut kata Rembang, ingatan saya lantas terkenang pada sebuah kawasan di mana saya dibesarkan, sebuah kawasan di sepanjang pegunungan kapur utara. Ingatan ini lantas menyuguhkan pada saya sebuah gambaran kawasan yang jauh dari catatan, baik itu visual ataupun tulisan. Film ini kiranya bakal memungkasi pandangan itu. Continue reading

Sejarah Imajinasi Lokalitas dalam Hikayat Soto

Hampir tiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang menjadi penanda-penanda kedaerahan. Hanya saja ada bebarapa jenis masakan yang dianggap khas di banyak daerah, salah satunya adalah soto. Perbedaan yang kentara dari pelbagai soto itu adalah sematan nama kota yang melekat dalam nama soto tersebut, misalnya Soto Sokaraja, Soto Soto Kudus, Soto Betawi, Soto Makassar, Soto Madura, Soto Padang dan lain sebagainya.

Klaim kekhasan atas produk budaya kerap berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya asali (origin), karenanya ia terbatas pada ruang (lokalitas). Makanan pun demikian. Ia merupakan produk interaksi budaya dalam konteks lokalitas tertentu, yang tiap daerah tentunya berbeda. Menarik disini adalah, bagaimana Soto bisa menjadi makanan khas di banyak daerah? Padahal antara satu daerah dengan daerah lain memiliki konteks budaya yang berbeda, yang tentu saja akan berpengaruh terhadap perbedaan produk-produk kebudayaannya. Continue reading

Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner

Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi.

Saat itu, ketika tengah makan, saya merasa ada Jepang dalam diri saya. Selain menikmati makanan dan mendengarkan alunan musik jepang, saya pun [seakan] bertingkah sebagaimana orang jepang melahap makanan: sedikit pelan; tidak ada obrolan selama dan seusai makan; tidak ada rokok-rokok dulu meski sebatang; dan seusai makan pun kami langsung pulang. Continue reading