Basa-basi Trans-mode Arsitektural Malioboro

Perkara dalam tulisan ini, semacam percikan ide seusai mereka-reka makna bab ketujuh buku Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia karya Abidin Kusno, dua bulan lalu kira-kira. Hasrat yang rapuh itu kemudian saya tambal lagi dengan membaca bukunya Rudolf Mrazek, Engineer of Happy Land.

Mula-mula memahami Jogjakarta. Jogja, sebagai sebuah kawasan, memiliki sederet penanda identitas. Malioboro adalah salah-satunya. Sebagai penanda, apapun yang berada di kawasan itu—mulai dari pertokoan, lapak-lapak kaki lima, alat kendaraan, dan hiasan kota yang ada—tentunya menguatkan daya tawar identitas. Continue reading