Mistisime Jawa dalam Belenggu Kebebasan Beragama

Adalah Niels Mulder, merupakan penulis, yang tertarik dan tergolong berhasil dalam mengungkap jagat mistik dan kepercayaan Jawa. Melalui buku Mysticism in Java; Ideology in Indonesia, antropolog belanda ini menerawang, memasuki, dan menjabarkan jagat mistik yang syarat problematika dan teka-teki. Oleh Mulder, mistisisme didefinisikan sebagai bentuk hepercayaan. Mistisisme dikategorikan sebagai kepercayaan lokal diluar mainstream agama-agama yang posisinya telah diresmikan negara.

Dalam terjemahan buku Mulder yang terbit di Indonesia dengan judul Mistisisme Jawa; Ideologi di Indonesia ini, mistisisme Jawa, menurutnya, pernah dua kali bangkit dalam kontestasi keagamaan nasional. Yakni, pada masa-masa akhir Soekarno dan awal kepresidenan Soeharto. Geliat pertama ditandai munculnya BKKI (Badan Kongres Kebatinan Indonesia). Wongsonegoro sebagai pentolannya, serta penganutnya, akhirnya “berbenturan” dengan tokoh-tokoh agama mapan di Indonesia, khususnya Islam. Continue reading

Mistisisme dan Filosofi Manusia Jawa

Mistisme jawa terjabar kedalam pelbagai bentuk pandangan dan filosofi diri manusia jawa. Misalnya kelahiran manusia yang merupakan anugerah Gusti, ditempatkan dalam possi yang sangat luhur. Sehingga, pertemuan lingga dan yoni sebagai perantaranya, menjadi proses magis yang penuh spiritualitas. Bothok bantheng winungkus godhong asem kabitingan alu bengkong, merupakan simbol yang menerangkan asal-usul perspektif manusia Jawa. Secara harfiah, bothok bantheng bermakna sperma, godhong asem merupakan kemaluan wanita, dan alu bengkong dimaknai alat kelamin laki-laki.

Dalam mistisme Jawa, manusia tidak hadir sendiri di muka bumi, melainkan berempat. Kehadirannya di bumi bersamaan dengan sedulur papat. Sehingga ditambah kita sendiri, totalnya sejumlah lima pancer. Sedulur papat lima pancer, merupakan penghormatan pada orang tua, khususnya ibu yang sudah melahirkan. Ibu juga sebagai sumber kasih sayang yang tiada habis-habisnya. Continue reading