Lawan Fasisme Berkedok Agama #1

 

Indonesia Memanggil; Lawan Fasisme Berkedok Agama!

(Poster Lainnya ada di Sini)

Melihat kehidupan toleransi keberagamaan di negeri ini yang akhir-akhir ini ramai dikejutkan oleh beberapa kasus, tentu saja tak bisa didiamkan begitu saja. Saya kira seluruh umat beragama mesti saling membantu untuk menekan kuasa represif kelompok agama fasis yang selalu bikin rusuh ini.

Ya, saya sebetulnya menghargai keberagamaan. Namun tidak untuk yang mebikin onar. Dalam sejarah islam masa Rasulullah pun, tidak ada bentuk penyampaian kebenaran yang melalui jalur kekerasan. Tidak ada. Pelbagai peperangan yang terjadi masa Rasulullah adalah murni peperangan politik semata. Bukan peperangan agama–sebagaimana yang kita dengar dari pelajaran agama mainstream. Kenapa tampak seperti perang agama, hanya karena kebetulan saja bangsa yang berperang itu memiliki mayoritas masyarakat yang berbeda secara agama. Continue reading

Mistisime Jawa dalam Belenggu Kebebasan Beragama

Adalah Niels Mulder, merupakan penulis, yang tertarik dan tergolong berhasil dalam mengungkap jagat mistik dan kepercayaan Jawa. Melalui buku Mysticism in Java; Ideology in Indonesia, antropolog belanda ini menerawang, memasuki, dan menjabarkan jagat mistik yang syarat problematika dan teka-teki. Oleh Mulder, mistisisme didefinisikan sebagai bentuk hepercayaan. Mistisisme dikategorikan sebagai kepercayaan lokal diluar mainstream agama-agama yang posisinya telah diresmikan negara.

Dalam terjemahan buku Mulder yang terbit di Indonesia dengan judul Mistisisme Jawa; Ideologi di Indonesia ini, mistisisme Jawa, menurutnya, pernah dua kali bangkit dalam kontestasi keagamaan nasional. Yakni, pada masa-masa akhir Soekarno dan awal kepresidenan Soeharto. Geliat pertama ditandai munculnya BKKI (Badan Kongres Kebatinan Indonesia). Wongsonegoro sebagai pentolannya, serta penganutnya, akhirnya “berbenturan” dengan tokoh-tokoh agama mapan di Indonesia, khususnya Islam. Continue reading

Benang Merah Islamisme dan Fundamentalisme

Jejak KafilahJudul Buku : Jejak Kafilah; Pengaruh Radikalisasi Timur Tengah di Indonesia / Pengarang : Greg Fealy dan Anthony Bubalo / Penerbit : Mizan, Bandung / Cetakan : Cetakan I, Desember 2007 / Tebal : 202 Halaman

Peristiwa Pentagon dan World Trade Center pada 11 september 2001 telah menorehkan tinta kusam dalam lembaran sejarah diawal abad 21. Tak mengherankan kalau banyak reaksi yang muncul. Mulai dari pengucilan, kutukan, sampai aksi militer terhadap mereka yang dianggap sebagai terorisme pun terus berlanjut. Kalangan Islam garis keras lah yang menjadi sasaran, karena kelompok inilah yang dicurigai sebagai dalang semua aksi-aksi terorisme.

Sejak saat itu, banyak pihak yang memandang islam laiknya sekawanan kafilah fundamentalis berwajah tunggal, yang kalau dibiarkan, akan menjadi ancaman bagi dunia global. Akibatnya, pada dekade ini kita dihadapkan pada fenomena “perang melawan terorisme” yang ditujukan pada Islam. Demikianlah setidaknya kesan yang akhir akhir ini mencuat kepermukaan. Continue reading

Tentang Cak Nur sebagai Gagasan

Justru saya menjadi dekat dengan Cak Nur saat mengakrabinya sebagai Idea. Bukan semata kala bergumul dengan pemikirannya.

Pengalaman dan ingatan yang berkesan tentu tak mudah lekang. Demikianlah kiranya saat tokoh besar itu merangsek dalam relung kesadaran saya. Kala itu, saat saya berumur sebelas tahun, pak lek yang tengah menempuh Perguruan Tinggi di Yogyakarta kebetulan sedang pulang. Laiknya anak-anak yang hidup di desa terpencil, mendengarkan cerita tentang hiruk pikuk kota dengan sebongkah keindahannya tentu menjadi dambaan. Maka wajar bila saya meminta pak lek untuk mengkisahkan dunia barunya.

Di tengah kelindan kekaguman akan surga kota, saya kemudian merasa tergelitik untuk bertanya tentang sesuatu yang saat itu saya anggap penting. “disana kalau ngaji dengan siapa?” dan “Pondoknya sebesar apa?”, tanyaku berturut-turut. Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Mengaji—dalam hal ini mendalami agama dengan panduan kyai—merupakan kewajiban tak tertulis bagi segenap warga di kampung kami. Lagi pula dari kecil sampai SMA, Pak Lek salalu mondok. Lalu dengan mantap ia menjawab, “nama kyai-nya Nurcholish Madjid, pondoknya besar, juga lengkap dengan puluhan ribu kitab”. Belakangan baru saya ketahui kalau pondok yang ia maksud ternyata perpustakaan kampus. Continue reading