Ted Williams, Toni Blank, dan Popularitas

Kalau di Jogja, ada Toni Blank, di Colombus, Ohio, AS, ada Ted Williams. Dua tuna wisma ini sama-sama mendadak popular di dunia maya. Toni Blank menarik perhatian orang karena gayanya yang kocak. Sedangkan Ted Williams meluas namanya berkat anugrah suara emasnya. Video rekaman yang diunggah dalam dunia maya telah menarik jutaan lirik mata. Sementara polularitas Toni Blank melonjak melalui situs jejaring sosial Facebook, Ted Williams mulai dikenal orang melalui YouTube.

Namun membandingkannya sebagai karya visual, barangkali Video Toni Blank lebih terkonsep ketimbang Ted Williams. Video Toni Blank secara rutin diunggah dalam Facebook oleh X-code Film, salah satu kelompok film indie Jogja. Bak video wawancara ekslusif, pelbagai pertanyaan dijawab dengan sangat jelas, elegan. Yang menarik dalam wawancara itu. Toni selalu bisa membuat kita terbahak. Ia kerap menggunakan kalimat dengan susunan yang unik. Kocak, tepatnya. Namun ekspresi dalam wajahnya tampak sangat serius. Itu Toni di Indonesia. Continue reading

Sejarah Imajinasi Lokalitas dalam Hikayat Soto

Hampir tiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang menjadi penanda-penanda kedaerahan. Hanya saja ada bebarapa jenis masakan yang dianggap khas di banyak daerah, salah satunya adalah soto. Perbedaan yang kentara dari pelbagai soto itu adalah sematan nama kota yang melekat dalam nama soto tersebut, misalnya Soto Sokaraja, Soto Soto Kudus, Soto Betawi, Soto Makassar, Soto Madura, Soto Padang dan lain sebagainya.

Klaim kekhasan atas produk budaya kerap berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya asali (origin), karenanya ia terbatas pada ruang (lokalitas). Makanan pun demikian. Ia merupakan produk interaksi budaya dalam konteks lokalitas tertentu, yang tiap daerah tentunya berbeda. Menarik disini adalah, bagaimana Soto bisa menjadi makanan khas di banyak daerah? Padahal antara satu daerah dengan daerah lain memiliki konteks budaya yang berbeda, yang tentu saja akan berpengaruh terhadap perbedaan produk-produk kebudayaannya. Continue reading

Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner

Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi.

Saat itu, ketika tengah makan, saya merasa ada Jepang dalam diri saya. Selain menikmati makanan dan mendengarkan alunan musik jepang, saya pun [seakan] bertingkah sebagaimana orang jepang melahap makanan: sedikit pelan; tidak ada obrolan selama dan seusai makan; tidak ada rokok-rokok dulu meski sebatang; dan seusai makan pun kami langsung pulang. Continue reading