Menelanjangi Maskulinitas Laki-laki

; Pembacaan Awal Masculinity Studies

Adakah alasan rasional dan eksistensial bagi keterlibatan laki-laki dalam upaya mendukung perjuangan emansipasi perempuan?” Demikian kiranya Rocky Gerung membuka tulisannya bertajuk “Feminisme dan Partisipasi Laki-laki” dalam Jurnal Perempuan edisi 64. Meski saya baca sepintas lalu, pertanyaan ini ternyata secara menohok mengintervensi nalar saya. Sekalipun sebetulnya tak begitu sulit untuk mencari jawabnya, saya justru terhenyak. Bukan karena tidak pernah terpikir. Ini lantaran saya merasa bahwa pertanyaan itu serasa belum pernah saya ajukan pada diri sendiri.

Ya. Beberapa legitimasi teoritis yang menopang keterlibatan laki-laki dalam proyek emansipasi cukup tersebar luas, dan beberapa sempat saya baca. Namun bukan itu yang mengusik di benak kepala. Saya merasa ini ironis. Sudah kepalang tanggung mendekati persoalan seksualitas sebagai tema prioritaskan. Namun pertanyaan paling dasar dalam diskursus emansipasi belum cukup matang saya refleksikan. Continue reading

Silang Kuasa Seksualitas

Seksualitas tergolong studi multidesipliner. Sebuah formula kajian terberat yang pernah saya kenal, tentu urutan ketiga setelah belajar meraih surga dan menjadi anak sholeh. Untuk membahasnya, kita musti [sok] kenal dengan dekonstruksi, feminisme, dan poskolonial. Kenapa? Keempat tema itu berjalin kelindan. Seksualitas berangkat dari wacana perempuan, lalu menjalar diskursus gender, karena wilayah ini kental dengan feminisme, mau tak mau ia harus merangsek kelamin dekonstruksi. Sementara, dekonstruksi tak terpisah dengan varian-varian koloni posmodern, salah satunya postkolonial. Celakalah, tidak mudah berkenalan dengan monster-monster itu.

Terpaksa jemari berhenti mengetik. Saat tangan ngilu, otak mengidap pusing dan paragraf tersumbat, obat yang paling tepat adalah musik. Ku panggil Mulan Kwok alias Mulan Jameela untuk berjoget dan mendengdangkan ‘Mahluk Tuhan yang Paling Seksi’. Kontan, otak langsung sehat kala mendengar ‘sajak yang menggelitik’. Bagaimana tidak, ‘Tuhan’ dan ‘seks’ disatukan dalam satu kalimat. Belum lagi alunan tembangnya dihiasi eksotisme atribut oriental arab [timur] dan belly dance­-nya yang sempurna menampilkan seksualitas. Continue reading

Solilokui

Subuh tadi gerimis. Kalau begini bisanya sore hari hujan. Apalagi, siang ini masih mirip seperti kemarin, cerah dan tenang. Eh, tepatnya panas dan sepi. Waga desa tidak terlihat. Hanya aku dan parmin yang nongkrong di perempatan utama desa. Jangan berfikir mereka sedang bekerja. Sebab, sawah desa ini jadi surga bagi para wereng. Pestisida dan pupuk yang dulu dijejalkan pemerintah, tak bisa kami beli. Peyuluhan dari orang-orang kota, yang katanya para ahli tanam-menanam, pun malah menambah ketergantungan kami pada pupuk-pupuk itu.

Ah jangan memikirkan itu, nanti rokok lintingan dan kopi yang aku seduh tak nikmat lagi, sedang permainan kartu ku tak asik lagi. Tapi memang itulah kenyataannya. Bukan apa-apa, cuma soal desa yang tak maju, tentang orang-orang miskin, dan pengangguran yang berhamburan. Tak ada kekayaan alam yang bisa kami olah. Mungkin sebentar lagi hutan sebelah akan habis. Jangan berfikir buruk pada kami. Orang kota lah yang menebangnya. Sudah bertahun-tahun mereka menghidupkan gergaji mesin yang meraung-raung tiap siang dan malam hari. Awalnya kami menerima saja, lagipula mereka mengatakan bahwa sebagian besar hasilnya digunakan untuk memperbaiki infrastruktur desa. Tapi nyatanya, jalan utama desa saja, masih memakai susunan bebatuan yang terjal. Tak ada pembangunan bagi desa kami. Kami tak bisa menghentikan. Konon mereka memiliki surat resmi, semacam kertas bertulisan yang bisa mendatangkan bencana bagi kami. Kalau melawan, kami akan dituduh melanggar hukum, dikurung. Ah, kalian. Orang-orang kota. Continue reading

Sesat

 

“Ada kesalahan ketika menyebut zaman sekarang sebagai modernisme”, ucap si adi kawan SMPku. Rupanya dia kini kuliah. Ku anggap biasa saja ocehan dalam pertemuan yang tak disengaja itu. Dalam warung Kopi satu-satunya dikampungku. “Kenyataannya, rupawan yang menawarkan keteraturan, kekerdilan, kepastian, kepraktisan itu telah dipermainkan. Modernisme sudah tidak ada!”, ucapnya menggebu.

“Adanya, postmodernisme telah berceloteh, bermain, dalam ruang-ruang ini. Apa maksud ‘ruang-ruang ini’. Jangan dipikirkan! Jika kamu menuntut ketepatan, disini bukan tempatnya. Ini postmodernisme kawan, suka-sukalah kamu sesukamu. Ya, Absurditas bersuka ria. Suka-sukamu, sukalah sesukamu”. Satu puntung terbakar tak paham juga apa yang di oloknya. Malam mulai larut. Pintu-pintu rumah mulai tutup, juga pengunjung kedai mulai rame. Continue reading