Surat Terbuka Kepada Mahasiswa Sekampung Halaman

–diposting juga di sedanonline.wordpress.com

Bagi kalian yang tengah kuliah, ini adalah masa liburan. Biasanya beberapa kawan, sanak, atau tetangga kita asal Kecamatan Sedan ini, memanfaatkannya untuk pulang. Kepada kalian yang akan merencanakan pulang kampong, saya ucapkan selamat jalan. Saya doakan, semoga sampai peraduan orang tua dengan selamat, melewati perjalanan indah nan lancar.

Hm.. mungkin harus sedikit bersabar bagi yang melalui Jalan Pantura.  Karena jalan Daendels itu tengah menderita, sekujur tubuhnya bonyok, koyak, dan penuh lubang. Bus Sinar Mandiri yang konon terbiasa gerak cepat, juga terpaksa harus turut merangkak. Ya. Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa membawa kabar baik untuk Ayah dan Bunda, atau Bapak dan Emak. Kalau kantongmu lagi tebal, bawalah sedikit oleh-oleh untuk adik, kakak atau teman.

Kawan, kalian kini mahasiswa. Lihatlah sedan sebagai desa yang penuh potensi; desa yang membesarkan kalian; desa tempat kalian dulu merajut pengharapan; desa yang memberikan segalanya untuk bekal hidup kalian. Bagaimanapun, kalian mungkin tidak akan mendapatkan suasana sedamai desa Sedan, sekalipun itu diperbandingkan dengan kepulaan Karibia yang konon begitu segar. Maka hidupilah desa ini sebaik-baiknya. Continue reading

Membaca Inspirasi dan Menulis Gagasan

 

Dalam situs pribadinya, Yayan Sopyan mengisahkan, pada suatu ketika ia mendapat pertanyaan dari Iwan Wibisono melalui email: Pak Yayan, apa dan jalan yang harus dimulai untuk menjadi penulis ? Yayan mengawali jawabannya dengan kalimat yang menurut saya sangat menggugah, “Untuk menjadi penulis, yang pertama-tama harus kita lakukan adalah menulis. Tak ada cara lain untuk mengawali langkah menjadi penulis selain menulis itu sendiri.Continue reading

Duet Ekonomi Syariah dan Koperasi

Sistem ekonomi apa yang dianggap paling cocok bagi Indonesia? Sistem ekonomi apa yang sesuai dengan kepribadian bangsa? Sistem ekonomi apa yang digagas oleh para pendiri bangsa? Ketiga pertanyaan di atas merujuk pada satu jawaban yang sama. Tak lain ialah sistem ekonomi koperasi, sistem ekonomi kerakyatan.

Sistem pengelolaan keuangan ala koperasi telah digagas oleh sang proklamator kita, Dr. Mohammad Hatta, sejak lama, sejak Indonesia merdeka. Tak salah bila ia dikukuhkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Mengapa koperasi dianggap sesuai dengan kepribadian bangsa? Continue reading

Menggempur Pasar Mancanegara dari Desa

Membayangkan indonesia sebagai gudang potensi, saya tergelitik. Selama ini Indonesia selalu dimaknai sebagai gudang bahan baku produksi. Ya, memang itu yang secara nyata amat kentara. Potensi alam yang tergelar dari sabang sampai merauke, sepertinya memang menegaskan pandangan demikian. Namun bila hanya kelaziman ini yang melulu diamini, saya kira, “kebangkrutan” adalah kata yang cukup futuristik untuk melukiskan Indonesia dimasa depan. Kenapa? Bagaimanapun, potensi alam selalu memiliki kecendrungan menyusut. Dan bila demikian yang terjadi, Indonesia sebagai gudang potensi, lamat-lamat menjadi lahan yang puso.

Tahun Industri Kreatif, demikian frasa menohok yang disematkan pemerintah untuk tahun 2009. Ini adalah langkah yang cukup revolutif untuk mengubah paradigma mengenai potensi indonesia. Disinilah Indonesia dibayangkan sebagai potensi gudang kreatifitas. Membincangkan soal industri, tentu Indonesia indonesia masih tertinggal dimata internasional, bahkan termasuk di asia tenggara. Karenanya, hasrat untuk membasiskan proyek industri, kiranya perlu ditingkatkan lagi. Dari berbagai macam basis industri yang ada, seperti industri tekstil, kuningan, dan yang lain, saya kira industri furniture adalah lahan yang paling potensial. Continue reading

Silang Kuasa Seksualitas

Seksualitas tergolong studi multidesipliner. Sebuah formula kajian terberat yang pernah saya kenal, tentu urutan ketiga setelah belajar meraih surga dan menjadi anak sholeh. Untuk membahasnya, kita musti [sok] kenal dengan dekonstruksi, feminisme, dan poskolonial. Kenapa? Keempat tema itu berjalin kelindan. Seksualitas berangkat dari wacana perempuan, lalu menjalar diskursus gender, karena wilayah ini kental dengan feminisme, mau tak mau ia harus merangsek kelamin dekonstruksi. Sementara, dekonstruksi tak terpisah dengan varian-varian koloni posmodern, salah satunya postkolonial. Celakalah, tidak mudah berkenalan dengan monster-monster itu.

Terpaksa jemari berhenti mengetik. Saat tangan ngilu, otak mengidap pusing dan paragraf tersumbat, obat yang paling tepat adalah musik. Ku panggil Mulan Kwok alias Mulan Jameela untuk berjoget dan mendengdangkan ‘Mahluk Tuhan yang Paling Seksi’. Kontan, otak langsung sehat kala mendengar ‘sajak yang menggelitik’. Bagaimana tidak, ‘Tuhan’ dan ‘seks’ disatukan dalam satu kalimat. Belum lagi alunan tembangnya dihiasi eksotisme atribut oriental arab [timur] dan belly dance­-nya yang sempurna menampilkan seksualitas. Continue reading

Pertahanan, Peradilan dan Nelayan Lautan

(Kabar Indonesia, 3 Juli 2008)

Indonesia laiknya surga yang nyata, iklimnya tropis dan dua per tiga lautan. Posisi strategis ini menawarkan habitat yang mendukung bagi kehidupan jutaan jenis ikan. Sayang, harta melimpah itu bukan lagi milik kita. Sebab, kita tak sepenuhnya bisa memanfaatkannya. Sebaliknya, anugrah tersebut malah dilahap oleh orang lain Ironi bukan?

Dapat dipastikan, siapapun akan tergiur dengan kekayaan hasil laut Indonesia. Bagi mereka yamg melirik, beragam cara akan dilakukan untuk mengeruk lautan kita. Tak ayal, penangkapan ikan ilegal (illegal fishing) menggejala di lautan Indonesia. Celakanya, hingga kini fenomena ini belum juga ditanggapi secara serius. Buktinya, pertahanan laut indonesia masih dilihat sebelah mata. Akibatnya, sektor tumpuan keamanan ini menjadi lemah. Sebab, tak ada niatan untuk memperbaiki atau mengganti sarana infrastruktur dan alat-alat pengaman banyak yang sudah usang. Continue reading

Mengangkat Sastra (Refleksi Ulang tahun Putu Wijaya ke-64)

Dunia kesusastraan Indonesia tak bisa dilepaskan dari nama Putu Wijaya. Bahkan, berkat kiprahnya lah kesusastraaan menjadi terangkat. Track record-nya yang gemilang, menempatkan Putu sebagai sastrawan besar dalam belantara sastra Indonesia. Tak kurang dari 40 novel, lebih 40 naskah sandiwara, sekitar seribu cerpen, juga ratusan esei, kritik drama, hingga buku teks drama karyanya telah dilepaskan. Kesemuanya terbang mengitari rimba kesusatraan Indonesia.

Dedikasi Putu tak bisa diremehkan. Bahkan, Jakob Sumardjo (1983 : 133) menyebut nama Putu Wijaya sebagai tokoh utama sastrawan Indonesia, terutama pada era 1970-an. Pengaruh sastrawan yang tak pernah lepas dari topi pet putih ini terekam jelas pada 1970-an dan 1980-an. Bisa dikatakan, ia bisa berdiri di titik avant garde Sastra Indoneasia. Continue reading