Surat Terbuka Kepada Mahasiswa Sekampung Halaman

–diposting juga di sedanonline.wordpress.com

Bagi kalian yang tengah kuliah, ini adalah masa liburan. Biasanya beberapa kawan, sanak, atau tetangga kita asal Kecamatan Sedan ini, memanfaatkannya untuk pulang. Kepada kalian yang akan merencanakan pulang kampong, saya ucapkan selamat jalan. Saya doakan, semoga sampai peraduan orang tua dengan selamat, melewati perjalanan indah nan lancar.

Hm.. mungkin harus sedikit bersabar bagi yang melalui Jalan Pantura.  Karena jalan Daendels itu tengah menderita, sekujur tubuhnya bonyok, koyak, dan penuh lubang. Bus Sinar Mandiri yang konon terbiasa gerak cepat, juga terpaksa harus turut merangkak. Ya. Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa membawa kabar baik untuk Ayah dan Bunda, atau Bapak dan Emak. Kalau kantongmu lagi tebal, bawalah sedikit oleh-oleh untuk adik, kakak atau teman.

Kawan, kalian kini mahasiswa. Lihatlah sedan sebagai desa yang penuh potensi; desa yang membesarkan kalian; desa tempat kalian dulu merajut pengharapan; desa yang memberikan segalanya untuk bekal hidup kalian. Bagaimanapun, kalian mungkin tidak akan mendapatkan suasana sedamai desa Sedan, sekalipun itu diperbandingkan dengan kepulaan Karibia yang konon begitu segar. Maka hidupilah desa ini sebaik-baiknya. Continue reading

Advertisements

Ted Williams, Toni Blank, dan Popularitas

Kalau di Jogja, ada Toni Blank, di Colombus, Ohio, AS, ada Ted Williams. Dua tuna wisma ini sama-sama mendadak popular di dunia maya. Toni Blank menarik perhatian orang karena gayanya yang kocak. Sedangkan Ted Williams meluas namanya berkat anugrah suara emasnya. Video rekaman yang diunggah dalam dunia maya telah menarik jutaan lirik mata. Sementara polularitas Toni Blank melonjak melalui situs jejaring sosial Facebook, Ted Williams mulai dikenal orang melalui YouTube.

Namun membandingkannya sebagai karya visual, barangkali Video Toni Blank lebih terkonsep ketimbang Ted Williams. Video Toni Blank secara rutin diunggah dalam Facebook oleh X-code Film, salah satu kelompok film indie Jogja. Bak video wawancara ekslusif, pelbagai pertanyaan dijawab dengan sangat jelas, elegan. Yang menarik dalam wawancara itu. Toni selalu bisa membuat kita terbahak. Ia kerap menggunakan kalimat dengan susunan yang unik. Kocak, tepatnya. Namun ekspresi dalam wajahnya tampak sangat serius. Itu Toni di Indonesia. Continue reading

Film Kolosal Sejarah Rembang

Menarik sekali ulasan berita di Suara Merdeka sekitar 2 hari yang lalu, ialah “Rembang Gagas Film Sejarah”. Berita ini menyuguhkan bagaimana kini Pemerintah Kabupaten Rembang, salah satu kabupaten di pantau utara, berupaya untuk merangkum sejarahnya yang berpencar.

Tersebut kata Rembang, ingatan saya lantas terkenang pada sebuah kawasan di mana saya dibesarkan, sebuah kawasan di sepanjang pegunungan kapur utara. Ingatan ini lantas menyuguhkan pada saya sebuah gambaran kawasan yang jauh dari catatan, baik itu visual ataupun tulisan. Film ini kiranya bakal memungkasi pandangan itu. Continue reading

Sejarah Imajinasi Lokalitas dalam Hikayat Soto

Hampir tiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang menjadi penanda-penanda kedaerahan. Hanya saja ada bebarapa jenis masakan yang dianggap khas di banyak daerah, salah satunya adalah soto. Perbedaan yang kentara dari pelbagai soto itu adalah sematan nama kota yang melekat dalam nama soto tersebut, misalnya Soto Sokaraja, Soto Soto Kudus, Soto Betawi, Soto Makassar, Soto Madura, Soto Padang dan lain sebagainya.

Klaim kekhasan atas produk budaya kerap berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya asali (origin), karenanya ia terbatas pada ruang (lokalitas). Makanan pun demikian. Ia merupakan produk interaksi budaya dalam konteks lokalitas tertentu, yang tiap daerah tentunya berbeda. Menarik disini adalah, bagaimana Soto bisa menjadi makanan khas di banyak daerah? Padahal antara satu daerah dengan daerah lain memiliki konteks budaya yang berbeda, yang tentu saja akan berpengaruh terhadap perbedaan produk-produk kebudayaannya. Continue reading

Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner

Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi.

Saat itu, ketika tengah makan, saya merasa ada Jepang dalam diri saya. Selain menikmati makanan dan mendengarkan alunan musik jepang, saya pun [seakan] bertingkah sebagaimana orang jepang melahap makanan: sedikit pelan; tidak ada obrolan selama dan seusai makan; tidak ada rokok-rokok dulu meski sebatang; dan seusai makan pun kami langsung pulang. Continue reading

Solilokui

Subuh tadi gerimis. Kalau begini bisanya sore hari hujan. Apalagi, siang ini masih mirip seperti kemarin, cerah dan tenang. Eh, tepatnya panas dan sepi. Waga desa tidak terlihat. Hanya aku dan parmin yang nongkrong di perempatan utama desa. Jangan berfikir mereka sedang bekerja. Sebab, sawah desa ini jadi surga bagi para wereng. Pestisida dan pupuk yang dulu dijejalkan pemerintah, tak bisa kami beli. Peyuluhan dari orang-orang kota, yang katanya para ahli tanam-menanam, pun malah menambah ketergantungan kami pada pupuk-pupuk itu.

Ah jangan memikirkan itu, nanti rokok lintingan dan kopi yang aku seduh tak nikmat lagi, sedang permainan kartu ku tak asik lagi. Tapi memang itulah kenyataannya. Bukan apa-apa, cuma soal desa yang tak maju, tentang orang-orang miskin, dan pengangguran yang berhamburan. Tak ada kekayaan alam yang bisa kami olah. Mungkin sebentar lagi hutan sebelah akan habis. Jangan berfikir buruk pada kami. Orang kota lah yang menebangnya. Sudah bertahun-tahun mereka menghidupkan gergaji mesin yang meraung-raung tiap siang dan malam hari. Awalnya kami menerima saja, lagipula mereka mengatakan bahwa sebagian besar hasilnya digunakan untuk memperbaiki infrastruktur desa. Tapi nyatanya, jalan utama desa saja, masih memakai susunan bebatuan yang terjal. Tak ada pembangunan bagi desa kami. Kami tak bisa menghentikan. Konon mereka memiliki surat resmi, semacam kertas bertulisan yang bisa mendatangkan bencana bagi kami. Kalau melawan, kami akan dituduh melanggar hukum, dikurung. Ah, kalian. Orang-orang kota. Continue reading

Sesat

 

“Ada kesalahan ketika menyebut zaman sekarang sebagai modernisme”, ucap si adi kawan SMPku. Rupanya dia kini kuliah. Ku anggap biasa saja ocehan dalam pertemuan yang tak disengaja itu. Dalam warung Kopi satu-satunya dikampungku. “Kenyataannya, rupawan yang menawarkan keteraturan, kekerdilan, kepastian, kepraktisan itu telah dipermainkan. Modernisme sudah tidak ada!”, ucapnya menggebu.

“Adanya, postmodernisme telah berceloteh, bermain, dalam ruang-ruang ini. Apa maksud ‘ruang-ruang ini’. Jangan dipikirkan! Jika kamu menuntut ketepatan, disini bukan tempatnya. Ini postmodernisme kawan, suka-sukalah kamu sesukamu. Ya, Absurditas bersuka ria. Suka-sukamu, sukalah sesukamu”. Satu puntung terbakar tak paham juga apa yang di oloknya. Malam mulai larut. Pintu-pintu rumah mulai tutup, juga pengunjung kedai mulai rame. Continue reading