Basa-basi Trans-mode Arsitektural Malioboro

Perkara dalam tulisan ini, semacam percikan ide seusai mereka-reka makna bab ketujuh buku Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia karya Abidin Kusno, dua bulan lalu kira-kira. Hasrat yang rapuh itu kemudian saya tambal lagi dengan membaca bukunya Rudolf Mrazek, Engineer of Happy Land.

Mula-mula memahami Jogjakarta. Jogja, sebagai sebuah kawasan, memiliki sederet penanda identitas. Malioboro adalah salah-satunya. Sebagai penanda, apapun yang berada di kawasan itu—mulai dari pertokoan, lapak-lapak kaki lima, alat kendaraan, dan hiasan kota yang ada—tentunya menguatkan daya tawar identitas. Continue reading

Sejarah Imajinasi Lokalitas dalam Hikayat Soto

Hampir tiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang menjadi penanda-penanda kedaerahan. Hanya saja ada bebarapa jenis masakan yang dianggap khas di banyak daerah, salah satunya adalah soto. Perbedaan yang kentara dari pelbagai soto itu adalah sematan nama kota yang melekat dalam nama soto tersebut, misalnya Soto Sokaraja, Soto Soto Kudus, Soto Betawi, Soto Makassar, Soto Madura, Soto Padang dan lain sebagainya.

Klaim kekhasan atas produk budaya kerap berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya asali (origin), karenanya ia terbatas pada ruang (lokalitas). Makanan pun demikian. Ia merupakan produk interaksi budaya dalam konteks lokalitas tertentu, yang tiap daerah tentunya berbeda. Menarik disini adalah, bagaimana Soto bisa menjadi makanan khas di banyak daerah? Padahal antara satu daerah dengan daerah lain memiliki konteks budaya yang berbeda, yang tentu saja akan berpengaruh terhadap perbedaan produk-produk kebudayaannya. Continue reading

Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner

Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi.

Saat itu, ketika tengah makan, saya merasa ada Jepang dalam diri saya. Selain menikmati makanan dan mendengarkan alunan musik jepang, saya pun [seakan] bertingkah sebagaimana orang jepang melahap makanan: sedikit pelan; tidak ada obrolan selama dan seusai makan; tidak ada rokok-rokok dulu meski sebatang; dan seusai makan pun kami langsung pulang. Continue reading

Solilokui

Subuh tadi gerimis. Kalau begini bisanya sore hari hujan. Apalagi, siang ini masih mirip seperti kemarin, cerah dan tenang. Eh, tepatnya panas dan sepi. Waga desa tidak terlihat. Hanya aku dan parmin yang nongkrong di perempatan utama desa. Jangan berfikir mereka sedang bekerja. Sebab, sawah desa ini jadi surga bagi para wereng. Pestisida dan pupuk yang dulu dijejalkan pemerintah, tak bisa kami beli. Peyuluhan dari orang-orang kota, yang katanya para ahli tanam-menanam, pun malah menambah ketergantungan kami pada pupuk-pupuk itu.

Ah jangan memikirkan itu, nanti rokok lintingan dan kopi yang aku seduh tak nikmat lagi, sedang permainan kartu ku tak asik lagi. Tapi memang itulah kenyataannya. Bukan apa-apa, cuma soal desa yang tak maju, tentang orang-orang miskin, dan pengangguran yang berhamburan. Tak ada kekayaan alam yang bisa kami olah. Mungkin sebentar lagi hutan sebelah akan habis. Jangan berfikir buruk pada kami. Orang kota lah yang menebangnya. Sudah bertahun-tahun mereka menghidupkan gergaji mesin yang meraung-raung tiap siang dan malam hari. Awalnya kami menerima saja, lagipula mereka mengatakan bahwa sebagian besar hasilnya digunakan untuk memperbaiki infrastruktur desa. Tapi nyatanya, jalan utama desa saja, masih memakai susunan bebatuan yang terjal. Tak ada pembangunan bagi desa kami. Kami tak bisa menghentikan. Konon mereka memiliki surat resmi, semacam kertas bertulisan yang bisa mendatangkan bencana bagi kami. Kalau melawan, kami akan dituduh melanggar hukum, dikurung. Ah, kalian. Orang-orang kota. Continue reading

Sesat

 

“Ada kesalahan ketika menyebut zaman sekarang sebagai modernisme”, ucap si adi kawan SMPku. Rupanya dia kini kuliah. Ku anggap biasa saja ocehan dalam pertemuan yang tak disengaja itu. Dalam warung Kopi satu-satunya dikampungku. “Kenyataannya, rupawan yang menawarkan keteraturan, kekerdilan, kepastian, kepraktisan itu telah dipermainkan. Modernisme sudah tidak ada!”, ucapnya menggebu.

“Adanya, postmodernisme telah berceloteh, bermain, dalam ruang-ruang ini. Apa maksud ‘ruang-ruang ini’. Jangan dipikirkan! Jika kamu menuntut ketepatan, disini bukan tempatnya. Ini postmodernisme kawan, suka-sukalah kamu sesukamu. Ya, Absurditas bersuka ria. Suka-sukamu, sukalah sesukamu”. Satu puntung terbakar tak paham juga apa yang di oloknya. Malam mulai larut. Pintu-pintu rumah mulai tutup, juga pengunjung kedai mulai rame. Continue reading