Silang Kuasa Seksualitas

Seksualitas tergolong studi multidesipliner. Sebuah formula kajian terberat yang pernah saya kenal, tentu urutan ketiga setelah belajar meraih surga dan menjadi anak sholeh. Untuk membahasnya, kita musti [sok] kenal dengan dekonstruksi, feminisme, dan poskolonial. Kenapa? Keempat tema itu berjalin kelindan. Seksualitas berangkat dari wacana perempuan, lalu menjalar diskursus gender, karena wilayah ini kental dengan feminisme, mau tak mau ia harus merangsek kelamin dekonstruksi. Sementara, dekonstruksi tak terpisah dengan varian-varian koloni posmodern, salah satunya postkolonial. Celakalah, tidak mudah berkenalan dengan monster-monster itu.

Terpaksa jemari berhenti mengetik. Saat tangan ngilu, otak mengidap pusing dan paragraf tersumbat, obat yang paling tepat adalah musik. Ku panggil Mulan Kwok alias Mulan Jameela untuk berjoget dan mendengdangkan ‘Mahluk Tuhan yang Paling Seksi’. Kontan, otak langsung sehat kala mendengar ‘sajak yang menggelitik’. Bagaimana tidak, ‘Tuhan’ dan ‘seks’ disatukan dalam satu kalimat. Belum lagi alunan tembangnya dihiasi eksotisme atribut oriental arab [timur] dan belly dance­-nya yang sempurna menampilkan seksualitas. Continue reading