Bahasa, Makna, dan Letak Catatan Harian

Konon, tulisan diamini sebagai batas zaman, sebuah penanda di mana zaman pra-sejarah dipungkasi dan zaman-sejarah dimulai. Jika demikian, ini berarti, kelihaian merangkai tulisan, ialah kelihaian merawat zaman, menghidupi zaman.

Tulisan, sebagaimana yang kita kenal hingga sekarang, terlahir sebagai hasil dari pelbagai olah kreasi oleh orang-orang yang hidup ribuan tahun sebelum kita. Apa gerangan yang membuat tulisan demikian istimewa, hingga didapu sebagai titik tolok yang menandai pergantian zaman. Continue reading

Advertisements

Basa-basi Trans-mode Arsitektural Malioboro

Perkara dalam tulisan ini, semacam percikan ide seusai mereka-reka makna bab ketujuh buku Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia karya Abidin Kusno, dua bulan lalu kira-kira. Hasrat yang rapuh itu kemudian saya tambal lagi dengan membaca bukunya Rudolf Mrazek, Engineer of Happy Land.

Mula-mula memahami Jogjakarta. Jogja, sebagai sebuah kawasan, memiliki sederet penanda identitas. Malioboro adalah salah-satunya. Sebagai penanda, apapun yang berada di kawasan itu—mulai dari pertokoan, lapak-lapak kaki lima, alat kendaraan, dan hiasan kota yang ada—tentunya menguatkan daya tawar identitas. Continue reading

Pemilu dalam Legang dan Tegang

Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 usai digelar. Huru-hara politik pun begeser. Jika sebelumnya ruang-ruang itu diramaikan dengan iklan dan pelbagai basa-basi kepedulian, kini lebih berupa pertarungan angka-angka oleh para elit pemegang kekuasaan. Jika sebelumnya rakyat adalah pemain utama yang musti didekati, kini kondisinya mulai sepi. Politik selalu begitu; seperti pasar malam. Para penjaja ribut dengan obrolan membeli apa semalam, sedangkan para pengobral mulai menghitung laba dan rugi yang mereka dapatkan. Para pembeli, yang mendapati barang yang dibelinya buruk, tak bisa mengadu atau minta ganti, karena penjualnya pagi ini sudah pergi. Begitu pula pemilu kali ini.

Seusai hajatan demokrasi terbesar di negri ini berlalu, mari mencermati residu pemilu. Dari sekian dampak yang biasa muncul seusai Pemilu berakhir, atau setidaknya hampir berakhir, salah satunya adalah mengemukanya potensi konflik dan kekerasan. Di sini saya tak bakal membincangkan soal etika dan bagaimana mengelola koflik atau kekerasan itu—biarlah itu jadi kerjaan dosen-dosen kampus. Ya. Yang perlu kita bahas di sini tak lebih dari penjabaran mengenai kondisi-kondisi, atau mengira-ngira apa yang nantinya bakal terjadi. Continue reading

Sejarah Singkat Pers Mahasiswa

Pada mulanya diniati sebagai upaya perjuangan. Itulah alasan keberadaan (raison d’etre) Pers Mahasiswa di Indonesia. Maka di awal kemunculaya, pers mahasiswa kental dengan gerakan kemahasiswaan dan gerakan perjuangan kemerdekaan. Ia adalah upaya penyebarkan ide-ide pembaharuan, nasionalisme dan perjuangan Bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

Dalam literature sejarah, tercatat beberapa terbitan yang menjadi tonggak perjalanan pers mahasiswa, diantaranya, Jong java, Indonesia Merdeka, Oesaha Pemuda, atau Jaar Boek (Amir E. Siregar; 1983). Pada masa selajutya, ketika Demokrasi Liberal diterapkan, pers mahasiswa kian menjamur, di Jakarta misalnya, terbit Academia, Mahasiswa, Forum; di Bandung, Bumi Siliwangi (IKIP), Intelegensia (ITB); di Yogyakarta, Criterium (IAIN), GAMA (UGM); di Surabaya, Ut Omnes Umum Sint (GMKI); di Makasar Duta Mahasiswa (DEMA Hasanuddin); di Medan, Gema Universiter; dan di Padang, terbit Tifa Mahasiswa. Continue reading

di sekitarmu, aku mendoakanmu

aku tegar di sampingmu meski fajar dan lembayung senja bersua sembari membayangkan kita menikmati bubur ayam di balkon saat gerimis sore itu diketuk oleh lonceng kapel gereja yang bersahutan dengan geming adzan dari surau dekat sumur di sebuah desa lembah gunung sumbing di mana engkau dan aku memungkasi masa—semoga kau tahu itu.

Jogja. Juni 25, 2009

Continue reading

Entah

Hentakan karang yang embun pun hengkang. Hamba membeku, bertingkah juga layu. Jelaga arang hamba kuyup oleh ludah tabu. Seperti labirin tetap kusut membalutku. Topang diriku dengan senyum lapang, sayang. Yang semoga itu cermin dari sum-sum dalam. Tahukah kau, hadir menerka adalah gerbang keharapan. Mumpung ilalang tak menjamah tumit. Pinus tua melepas kaku. Aku mengarak bunga-bunga ke utara, kemarilah.

Jogja, Juni 2009

Continue reading