Tanpa Seleksi Mandiri, Masih ada Undangan selain SNMPTN

Barangkali Perguruan Tinggi kini berkerut dahi. Pasalnya berdasarkan kemdiknas, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) diwajibkan menyediakan 60 persen kursi untuk jalur SNMPTN 2011. Tak ayal, PTN pun harus mematuhi ketentuan pemerintah tentang penerimaan calon mahasiswa baru itu.

Selain harus mengutamakan 60 persen calon mahasiswa dari seleksi nasional dan baru 40 persen dari seleksi mandiri, PTN juga tidak boleh menyelenggarakan seleksi mandiri sebelum Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN yang akan dilaksanakan pada 1-2 Juni 2011. Demikian ditegaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2010 tentang Pola Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana. Continue reading

Sampah untuk Bahan Bakar Kendaraan

Kita mengenal sampah sebagai residu terbuang dari penggunaan barang, yang lazimya tak bisa dimanfaatkan ulang. Akibatnya, kumpulan sampah yang semakin menggunung tidak dibaregi dengan pertambahan orang yang piawai memanfaatkannya. Seakan hanya lalat yang mampu mendayagunakan sampah.

Wahyudi Budi Sediawan, Muslikhin Hidayat, Siti Syamsiah, dan Ria Millati, tergolong manusia bertangan ulet dan berotak terampil yang mampu mengalahkan lalat. Kalau selama ini pemanfaatan sampah kebanyakan berkutat pada barang kerajianan dan pupuk, mereka menyulap sampah menjadi bahan bakar bagi kendaraan. Continue reading

Penggelolaan Swakelola Sampah Kampung Sukunan

Di kampung itu, sampah dipilah-pilah. Tong sampah berwarna-warni. Sebuah kampung yang memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri. Ialah Kampung Sukunan, Kelurahan Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Para warganya menyadari, sejalan dengan kebutuhan manusia akan barang konsumsi yang semakin meningkat–sekaligus beragam, sampah sebagai residu dari barang produksi yang dikonsumsi manusiapun juga turut bertambah dan beragam. Dampaknya, sampah mengalami pembekakan secara frekuensi dan volume. “maka sampah perlu dikelola,” ujar anak Sekolah Dasar di kampung itu yang enggan menyebutkan ketika ditanya namanya.

Di Indonesia, di antara sedikit orang yang peduli akan keberadaan sampah, sangat sedikit orang yang memfokuskan diri untuk mengurus dan mengolah sampah. Iswanto ialah salah seorang diantara kaum yang sangat sedikit itu. Ia adalah orang yang kesehariannnya memikirkan, mengolah, dan memanfaatkan sampah di lingkungannya. Lalu untuk apa sampah dikelola dan dimanfaatkan? Bukankah kodrat dari sampah ialah untuk dibuang? Bukankah apa yang kita namakan sebagai sampah dengan sendirinya tidak akan memberikan manfaat? Pertanyaan-pertannyan itu akan gugur bila kita melihat kreatifitas Iswanto. Continue reading

Duet Ekonomi Syariah dan Koperasi

Sistem ekonomi apa yang dianggap paling cocok bagi Indonesia? Sistem ekonomi apa yang sesuai dengan kepribadian bangsa? Sistem ekonomi apa yang digagas oleh para pendiri bangsa? Ketiga pertanyaan di atas merujuk pada satu jawaban yang sama. Tak lain ialah sistem ekonomi koperasi, sistem ekonomi kerakyatan.

Sistem pengelolaan keuangan ala koperasi telah digagas oleh sang proklamator kita, Dr. Mohammad Hatta, sejak lama, sejak Indonesia merdeka. Tak salah bila ia dikukuhkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Mengapa koperasi dianggap sesuai dengan kepribadian bangsa? Continue reading

Bahasa, Makna, dan Letak Catatan Harian

Konon, tulisan diamini sebagai batas zaman, sebuah penanda di mana zaman pra-sejarah dipungkasi dan zaman-sejarah dimulai. Jika demikian, ini berarti, kelihaian merangkai tulisan, ialah kelihaian merawat zaman, menghidupi zaman.

Tulisan, sebagaimana yang kita kenal hingga sekarang, terlahir sebagai hasil dari pelbagai olah kreasi oleh orang-orang yang hidup ribuan tahun sebelum kita. Apa gerangan yang membuat tulisan demikian istimewa, hingga didapu sebagai titik tolok yang menandai pergantian zaman. Continue reading

Merevisi Statuta Universitas

Tahun ini adik saya akan menginjak bangku Perguruan Tinggi. Tentu saja ia berharap masuk dalam jajaran Perguruan Tinggi Terbaik. Satu satunya jalur yang saya gunakan untuk turut mencari informasi, ialah internet—karena memang hanya itu yang bisa saya lakukan. Melalui situs search engine google.com, saya lalu berselancar.

Keyword yang pertama kali saya tuliskan ialah Perguruan Tinggi Favorit Indonesia. Akhirnya terhamparlah beberapa link situs. Ternyata kebanyakan situs yang mengandung keyword tersebut ialah artikel yang diikut sertakan dalam Lomba Blog UII, oleh Universitas Islam Indonesia yang bertema Perguruan Tinggi Idaman.

Ya. Indonesia, selain terdiri dari ribuan pulau, juga terdiri dari ribuan Perguruan Tinggi. Secara tidak berlebihan, seakan fenomena itu ingin menegaskan bahwa Perguruan Tinggi menjadi semacam prasyarat utama penyokong bangsa. Saya lalu tergelitik, apa yang biasa dibayangkan orang tentang kehidupan dunia universiter, Perguruan Tinggi. Continue reading