Pulau Komodo agar Masuk 7 Keajaiban Dunia

Mari bertolak menuju ke Indonesia bagian tengah menjelang timur. Ada kaber gembira di sana. Pulau Komodo akhirnya lolos sebagai finalis tujuh keajaiban baru dunia. Pengumuman penting itu disampaikan oleh Komite New7Wonders senin lalu. Dengan demikian, pemungutan suara untuk Pulau Komodo sebagai finalis NW7 pun dilanjutkan. Tentu ini cukup menggembirakan, bukan?

Namun, saat ini juga New7Wonders menghapus Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) dari statusnya sebagai Pejabat Komite Penunjang Pulau Komodo di kampanye New7Wonders of Nature. Ini terkait dengan Polemik antara New7Wonder dengan Kemenbudpar.

Sebelum keputusan itu dikeluarkan, ada informasi beredar mengenai rencana penghapusan Pulau Komodo dari keikutsertaan New7Wonder. Hal itu lalu direspon, pemerintah berencana melemparkan tuntutan hukum. New7Wonder pun kecewa karena menurut mereka pemerintah terlampau menghiraukan informasi yang salah. Meski demikian, saya kira, hal ini berkaitan dengan polemik antara kedua kubu itu.

Perseteruan ini tentu seharusnya tak perlu terjadi, karena bagaimanapun akan berimbas pada dukungan terhadap Pulau Komodo pada pemilihan mendatang.

Kemelut Mesir dari Sebuah Warung

Dengan mempertahankan cengkeraman tangan besinya di Mesir selama 30 tahun, Hosni Mubarak disejajarkan dengan Firaun,” demikian tulis Egidius Patnistik dalam liputannya di kolom Internasional kompas.com, 31 Januari lalu. Sangat menohok.

Saya sebetulnya tak terlampau paham dengan konstelasi politik Timur Tangah. Ya, barangkali memang bukan bidang saya. Halah..—opo tho. Koran yang disajikan di warung di mana saya biasa makan, lah yang memaksa saya untuk mengikuti perkembangan ini. Karena memang nampaknya, ketika membolak-balik Koran di meja makan—tentunya setelah memonopoli Koran dari penjaja lain,  tak ada berita yang lebih cocok dibaca sembari makan selain berita huru-hara itu.

Bahkan melebihi kemelut soal cerpen “Perempuan Tua dalam Rashomon” karya Dadang Ari Murtono (Kompas, 30 januari 2011). Cerita pendek ini mengegerkan dunia sastra Indonesia lantaran dianggap sebagai hasil dari plagiat dari cerpen Akutagawa Ryunosuke, cerpenis terbaik jepang, yang berjudul “Rashomon”. Yah. Ini memang gempar. Tapi tak ada huru-hara, melainkan sedikit caci-maki, umpatan, atau kekecewaan, entah pada Kompas atau Dadang. Continue reading

Mistisime Jawa dalam Belenggu Kebebasan Beragama

Adalah Niels Mulder, merupakan penulis, yang tertarik dan tergolong berhasil dalam mengungkap jagat mistik dan kepercayaan Jawa. Melalui buku Mysticism in Java; Ideology in Indonesia, antropolog belanda ini menerawang, memasuki, dan menjabarkan jagat mistik yang syarat problematika dan teka-teki. Oleh Mulder, mistisisme didefinisikan sebagai bentuk hepercayaan. Mistisisme dikategorikan sebagai kepercayaan lokal diluar mainstream agama-agama yang posisinya telah diresmikan negara.

Dalam terjemahan buku Mulder yang terbit di Indonesia dengan judul Mistisisme Jawa; Ideologi di Indonesia ini, mistisisme Jawa, menurutnya, pernah dua kali bangkit dalam kontestasi keagamaan nasional. Yakni, pada masa-masa akhir Soekarno dan awal kepresidenan Soeharto. Geliat pertama ditandai munculnya BKKI (Badan Kongres Kebatinan Indonesia). Wongsonegoro sebagai pentolannya, serta penganutnya, akhirnya “berbenturan” dengan tokoh-tokoh agama mapan di Indonesia, khususnya Islam. Continue reading

Membaca Inspirasi dan Menulis Gagasan

 

Dalam situs pribadinya, Yayan Sopyan mengisahkan, pada suatu ketika ia mendapat pertanyaan dari Iwan Wibisono melalui email: Pak Yayan, apa dan jalan yang harus dimulai untuk menjadi penulis ? Yayan mengawali jawabannya dengan kalimat yang menurut saya sangat menggugah, “Untuk menjadi penulis, yang pertama-tama harus kita lakukan adalah menulis. Tak ada cara lain untuk mengawali langkah menjadi penulis selain menulis itu sendiri.Continue reading

Wawancara dengan Pencipta Lagu “Nurdin Turun Downk”

Di sela-sela menyelesaikan tulisan yang urung rampung juga. Sesekali saya membaca beberapa berita, atau sekadar melihat thread kocak di kaskus.us. Kabar merebaknya video lagu nurdin turun yang sempat saya unggah di blog ini pun bertolak dari hasil surfing singkat itu.

Sebagaimana lagu gayus, ternyata perkembangan vodeo itu bertambah pesat. Sehari yang lalu ketika saya memutar video itu di YouTube, pengunjungnya baru sekitar 700-an. Hari ini saya membuka ulang, ternyata pengunjungnya sampai 4000-an. Pun kini ada tiga video masing-masing di upload oleh jjnahanBrew0ks, dan AndaiAkuJadiGayusMP3, dari yang sebelumnya hanya satu. Kenaikan yang cukup fantastis. Continue reading

Video Lagu Nurdin Halid Turun

Tak lama selepas tembang “andai aku jadi gayus tambunan” booming di belantika dunia maya, kini muncul satu lagu lagi yang mencoba meraih perhatian publik kita. Nurdin Turun Down demikian judul tembang anyar ini. Berbeda dengan tembang yang dilantunkan Bona Paputungan, lagu nurdin ini masih sedikit berantakan. Barangkali lantaran kejar tayang. Continue reading

Film Kolosal Sejarah Rembang

Menarik sekali ulasan berita di Suara Merdeka sekitar 2 hari yang lalu, ialah “Rembang Gagas Film Sejarah”. Berita ini menyuguhkan bagaimana kini Pemerintah Kabupaten Rembang, salah satu kabupaten di pantau utara, berupaya untuk merangkum sejarahnya yang berpencar.

Tersebut kata Rembang, ingatan saya lantas terkenang pada sebuah kawasan di mana saya dibesarkan, sebuah kawasan di sepanjang pegunungan kapur utara. Ingatan ini lantas menyuguhkan pada saya sebuah gambaran kawasan yang jauh dari catatan, baik itu visual ataupun tulisan. Film ini kiranya bakal memungkasi pandangan itu. Continue reading