Pergumulan 1 Perempuan 14 Laki-laki

Saya mengetahui kumpulan cerpen ini dari teman kos. Sejenak memerhatikan covernya, sebuah kalimat menyentil menghadang mata kita. “Perlu 14 laki-laki untuk menulis buku ini dan hanya 1 perempuan untuk mengisahkannya,” demikian katanya.

Ternyata buku ini dibuat secara kolbortif oleh Djenar dan 14 rekan lelakinya. Tiga atau empat tahun tidak menulis cerpen, ternyata tak membuat Djenar tercerabut dari gayanya, sebagaimana yang ditampakkna dalam Mereka Bilang Saya Monyet! Demikian pula topik yang selalu seputar tubuh dan diri perempuan.

Bahkan kini ketika ia menakik ide bersama 14 laki-laki yang Djenar pilih secara berbeda bedasarkan profesi, cerita-cerita dalam buku ini nampak tetap berbau ‘Djenar’. Ke-14 laki-laki itu adalah Agus Noor, Arya Yudistira Syuman, Butet KartaredjasaEnrico Soekarno, Indra Herlambang, JRX “Superman is Dead”, Lukman Sardi, Mudji Sutrisno, Nugroho Suksmanto, Richard Oh, Robertus Robet, Sardono W. Kusumo, Sujiwo Tejo, dan Totot Indarto. Continue reading

Menelanjangi Maskulinitas Laki-laki

; Pembacaan Awal Masculinity Studies

Adakah alasan rasional dan eksistensial bagi keterlibatan laki-laki dalam upaya mendukung perjuangan emansipasi perempuan?” Demikian kiranya Rocky Gerung membuka tulisannya bertajuk “Feminisme dan Partisipasi Laki-laki” dalam Jurnal Perempuan edisi 64. Meski saya baca sepintas lalu, pertanyaan ini ternyata secara menohok mengintervensi nalar saya. Sekalipun sebetulnya tak begitu sulit untuk mencari jawabnya, saya justru terhenyak. Bukan karena tidak pernah terpikir. Ini lantaran saya merasa bahwa pertanyaan itu serasa belum pernah saya ajukan pada diri sendiri.

Ya. Beberapa legitimasi teoritis yang menopang keterlibatan laki-laki dalam proyek emansipasi cukup tersebar luas, dan beberapa sempat saya baca. Namun bukan itu yang mengusik di benak kepala. Saya merasa ini ironis. Sudah kepalang tanggung mendekati persoalan seksualitas sebagai tema prioritaskan. Namun pertanyaan paling dasar dalam diskursus emansipasi belum cukup matang saya refleksikan. Continue reading