Mistisime Jawa dalam Belenggu Kebebasan Beragama

Adalah Niels Mulder, merupakan penulis, yang tertarik dan tergolong berhasil dalam mengungkap jagat mistik dan kepercayaan Jawa. Melalui buku Mysticism in Java; Ideology in Indonesia, antropolog belanda ini menerawang, memasuki, dan menjabarkan jagat mistik yang syarat problematika dan teka-teki. Oleh Mulder, mistisisme didefinisikan sebagai bentuk hepercayaan. Mistisisme dikategorikan sebagai kepercayaan lokal diluar mainstream agama-agama yang posisinya telah diresmikan negara.

Dalam terjemahan buku Mulder yang terbit di Indonesia dengan judul Mistisisme Jawa; Ideologi di Indonesia ini, mistisisme Jawa, menurutnya, pernah dua kali bangkit dalam kontestasi keagamaan nasional. Yakni, pada masa-masa akhir Soekarno dan awal kepresidenan Soeharto. Geliat pertama ditandai munculnya BKKI (Badan Kongres Kebatinan Indonesia). Wongsonegoro sebagai pentolannya, serta penganutnya, akhirnya “berbenturan” dengan tokoh-tokoh agama mapan di Indonesia, khususnya Islam. Continue reading

Tahukah Harga untuk Nyawa Seorang Manusia ?

 

Di Afghanistan,  bila tentara NATO menewaskan warga sipil yang tak bersalah dalam sebuah serangan, keluarga korban akan mendapatkan kompensasi sejumlah 2.500 dollar. Sementara menurut Jendral AS di Afghanistan, Stanley McChrystal, tak ada kepastian jumlah kompensasi untuk warga sipil yang terbunuh (bacain.com).

Pertanyaan seperti “Akankah kompensasi itu mampu mengobati luka keluarga yang ditinggalkan ?” tentu begitu berat kita ajukan. Karena jawabannya tentu saja, tidak.

“Jika aku tidak mendapatkan hakku, aku akan latih anak-anakku menjadi martir, dan aku akan bergabung dengan Taliban, Tidak ada jalan lain. Aku akan serahkan mereka pada Usamah bin Laden“, kata Zmarai Hazrati, bapak yang kehilangan seorang anaknya akibat serangan tentara tentara Inggris (aljazeera.net). Bahkan ketika saya membaca liputan itu, suara geram sang bapak begitu sangat terasa [Rifqi Muhammad].

Benang Merah Islamisme dan Fundamentalisme

Jejak KafilahJudul Buku : Jejak Kafilah; Pengaruh Radikalisasi Timur Tengah di Indonesia / Pengarang : Greg Fealy dan Anthony Bubalo / Penerbit : Mizan, Bandung / Cetakan : Cetakan I, Desember 2007 / Tebal : 202 Halaman

Peristiwa Pentagon dan World Trade Center pada 11 september 2001 telah menorehkan tinta kusam dalam lembaran sejarah diawal abad 21. Tak mengherankan kalau banyak reaksi yang muncul. Mulai dari pengucilan, kutukan, sampai aksi militer terhadap mereka yang dianggap sebagai terorisme pun terus berlanjut. Kalangan Islam garis keras lah yang menjadi sasaran, karena kelompok inilah yang dicurigai sebagai dalang semua aksi-aksi terorisme.

Sejak saat itu, banyak pihak yang memandang islam laiknya sekawanan kafilah fundamentalis berwajah tunggal, yang kalau dibiarkan, akan menjadi ancaman bagi dunia global. Akibatnya, pada dekade ini kita dihadapkan pada fenomena “perang melawan terorisme” yang ditujukan pada Islam. Demikianlah setidaknya kesan yang akhir akhir ini mencuat kepermukaan. Continue reading

Tentang Cak Nur sebagai Gagasan

Justru saya menjadi dekat dengan Cak Nur saat mengakrabinya sebagai Idea. Bukan semata kala bergumul dengan pemikirannya.

Pengalaman dan ingatan yang berkesan tentu tak mudah lekang. Demikianlah kiranya saat tokoh besar itu merangsek dalam relung kesadaran saya. Kala itu, saat saya berumur sebelas tahun, pak lek yang tengah menempuh Perguruan Tinggi di Yogyakarta kebetulan sedang pulang. Laiknya anak-anak yang hidup di desa terpencil, mendengarkan cerita tentang hiruk pikuk kota dengan sebongkah keindahannya tentu menjadi dambaan. Maka wajar bila saya meminta pak lek untuk mengkisahkan dunia barunya.

Di tengah kelindan kekaguman akan surga kota, saya kemudian merasa tergelitik untuk bertanya tentang sesuatu yang saat itu saya anggap penting. “disana kalau ngaji dengan siapa?” dan “Pondoknya sebesar apa?”, tanyaku berturut-turut. Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Mengaji—dalam hal ini mendalami agama dengan panduan kyai—merupakan kewajiban tak tertulis bagi segenap warga di kampung kami. Lagi pula dari kecil sampai SMA, Pak Lek salalu mondok. Lalu dengan mantap ia menjawab, “nama kyai-nya Nurcholish Madjid, pondoknya besar, juga lengkap dengan puluhan ribu kitab”. Belakangan baru saya ketahui kalau pondok yang ia maksud ternyata perpustakaan kampus. Continue reading