Pergumulan 1 Perempuan 14 Laki-laki

Saya mengetahui kumpulan cerpen ini dari teman kos. Sejenak memerhatikan covernya, sebuah kalimat menyentil menghadang mata kita. “Perlu 14 laki-laki untuk menulis buku ini dan hanya 1 perempuan untuk mengisahkannya,” demikian katanya.

Ternyata buku ini dibuat secara kolbortif oleh Djenar dan 14 rekan lelakinya. Tiga atau empat tahun tidak menulis cerpen, ternyata tak membuat Djenar tercerabut dari gayanya, sebagaimana yang ditampakkna dalam Mereka Bilang Saya Monyet! Demikian pula topik yang selalu seputar tubuh dan diri perempuan.

Bahkan kini ketika ia menakik ide bersama 14 laki-laki yang Djenar pilih secara berbeda bedasarkan profesi, cerita-cerita dalam buku ini nampak tetap berbau ‘Djenar’. Ke-14 laki-laki itu adalah Agus Noor, Arya Yudistira Syuman, Butet KartaredjasaEnrico Soekarno, Indra Herlambang, JRX “Superman is Dead”, Lukman Sardi, Mudji Sutrisno, Nugroho Suksmanto, Richard Oh, Robertus Robet, Sardono W. Kusumo, Sujiwo Tejo, dan Totot Indarto. Continue reading

Benang Merah Islamisme dan Fundamentalisme

Jejak KafilahJudul Buku : Jejak Kafilah; Pengaruh Radikalisasi Timur Tengah di Indonesia / Pengarang : Greg Fealy dan Anthony Bubalo / Penerbit : Mizan, Bandung / Cetakan : Cetakan I, Desember 2007 / Tebal : 202 Halaman

Peristiwa Pentagon dan World Trade Center pada 11 september 2001 telah menorehkan tinta kusam dalam lembaran sejarah diawal abad 21. Tak mengherankan kalau banyak reaksi yang muncul. Mulai dari pengucilan, kutukan, sampai aksi militer terhadap mereka yang dianggap sebagai terorisme pun terus berlanjut. Kalangan Islam garis keras lah yang menjadi sasaran, karena kelompok inilah yang dicurigai sebagai dalang semua aksi-aksi terorisme.

Sejak saat itu, banyak pihak yang memandang islam laiknya sekawanan kafilah fundamentalis berwajah tunggal, yang kalau dibiarkan, akan menjadi ancaman bagi dunia global. Akibatnya, pada dekade ini kita dihadapkan pada fenomena “perang melawan terorisme” yang ditujukan pada Islam. Demikianlah setidaknya kesan yang akhir akhir ini mencuat kepermukaan. Continue reading

Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad

Judul : Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo, Pidato Otikritik Di Volksraad 1927-1939 / Penulis : Azizah Etek, Mursyid A.M., dan Arfan B.R. / Penerbit : LKiS, Yogyakarta / Cetakan : 1, Mei, 2008 / Tebal : xvi + 512 halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad

Selama ini kita menganggap orator berbahasa Indonesia pertama pada sidang Volksraad adalah Mohammad Husni Thamrin(1938). Namun, tampaknya gelar “pertama” itu perlu dipertimbangkan ulang. Sebab, jauh sebelum Thamrin, pada 1927, Jahja Datoek Kajo telah mengawali langkah besar itu. Sejak menduduki Volksraad, Jahja selalu lantang meggunakan bahasa Indonesia setiap kali berpidato.

Volksraad merupakan majelis Dewan Rakyat yang dibentuk oleh Belanda. Dewan ini beranggotakan orang Belanda dan pihak pribumi. Dengan pembetukan Volksraad, harapannya orang-orang pribumi bisa berperan dalam jajaran pemerintahan. Sejak awal pendirian, bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi resmi adalah bahasa Belanda. Tak heran bila bahasa itulah yang selalu akrab terdengar pada tiap sidang-sidang Volksraad. Continue reading

Penyimpangan Pemimpin Agama

Judul Buku : Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler / Penulis : John Cornwell / Penerbit : Beranda, Yogyakarta / Cetakan : Pertama, 2008 / Tebal : xxxi + 520 Halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad (Koran Jakarta tanggal 5 juli 2008.)

Dalam setiap agama, pemuka agama menjadi segolongan orang yang memiliki otoritas untuk mengawal agama. Bulir-bulir kehormatan berpendar dalam aras pribadinya yang penuh kharisma. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit para agamawan yang memanfaatkan kepercayaan umatnya untuk melegitimasi kepentingan pribadi. Meski penyakit ini menjangkit disemua agama, namun tidak semua umat pemeluk agama menyadarinya. Agaknya, mereka belum siap dengan kabar-kabar semacam itu. Tidak heran apabila beberapa kecacatan para pendahulu agama yang kini mulai menyeruak sempat menggegerkan para umatnya.

Tragedi-tragedi di lingkungan orang-orang suci tampaknya selalu tragis untuk ditulis. Jelas fenomena ini akan menjadi batu yang menandung keimanan para pemeluk agama. Tak bisa di hindari, fakta sejarah negatif ini tentu menyisakan kegetiran di kalangan umat. Itulah kenapa, cerita kehidupan orang-orang “langit” ini akan selalu dihantui oleh ironi-ironi terselubung. Demikianlah kiranya kesan yang muncul setelah buku bertajuk Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler beredar. Continue reading

Karya Sultan Hamengkubuwono X

Judul Buku : Merajut Kembali Keindonesiaan Kita / Penulis : Sultan Hamengku Buwono X / Penerbit : Gramedia, Jakarta / Cetakan : Pertama, 2008 / Tebal : viii + 312 Halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad (Media Indonesia pada 29 Maret 2008.)

Jawa kerap kali dikenal karena kerajaannya. Padahal, Jawa memiliki aspek lain yang tak kalah hebat, yakni khasanah literaturnya. Dua aspek tersebutlah yang mengokohkan eksistensi Jawa. Juga, karena dua hal tersebut lah, Jawa banyak pengaruh terhadap pembentukan Indonesia. Sebab, secara filosofis, konsep mengenai “Indonesia” banyak berurat pada risalah-risalah Jawa.

Coba kita tilik magnum opus karya Mpu Prapanca, Negarakertagama. Dimana, dari karya inilah kita menemukan “Bhineka Tunggal Eka”. Sebuah kalimat yang melegitimasi ikatan kesadaran kita untuk berbangsa. Disamping itu masih banyak karya lain yang mampu menginspirasi founding father kita dalam memulai dan mengawal Indonesia. Misalnya kitab Darmagandhul karangan Ki Kalamwadi, atau karya-karya Raden Ngabehi Ranggawarsita seperti Ramalan Jayabaya, Sabda Tama, Serat Cemporet, Serat Kalatida, Suluk Saloka Jiwa, dan Wirid Wirayat Jati. Continue reading

Agar Jawa Kembali Njawani

 

Judul buku : Simbolisme Jawa / Penulis : Budiono Herusatoto / Penerbit : Ombak, Yogyakarta / Cetakan : I, April, 2008 / Tebal : xiv + 215 halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad

Kebudayaan Jawa penuh dengan nuansa filofofis. Semua tercermin dalam ritual, khasanah literatur dan ajaran prinsip kehidupan. Dalam dunia akademis, kekayaan Jawa ibarat lahan yang yang tak pernah puso untuk dikaji. Lumbung gagasannya amat melimpah, dan mata air yang tak kunjung kering.

Sayang, kini kekayaan itu tak sepenuhnya kita miliki lagi. Dalam khasanah literatur misalnya, manuskrip-manuskrip ringan maupun karya yang menembus magnum opus, banyak yang telah hilang. Meski keraton Yogyakarta masih menyimpan, namun sebagian besar telah tertimbun di berbagai museum dan universitas di Belanda. Continue reading

Sartono Kartodirdjo, Maestro Sejarah yang Asketis II

Judul : Sejarah Yang Memihak, Mengenang Sartono Kartodirdjo / Penulis : M. Nursam, Baskara T. Wardaya S.J., Asvi Warman Adam (ed.) / Penerbit : Ombak, Yogyakarta / Cetakan : I, 2008 / Tebal : xvii + 507 Hlm.: 14 x 21 cm / Peresensi : Rifqi Muhammad (Media Indonesia, 19 April 2008)

Jumat 7 Desember 2007 lalu, Indonesia terhenyak duka. Waktu itu, Prof. Aloysius Sartono Kartodirdjo berpulang kepada-Nya. Ia bukan presiden, atau konglomerat yang mempengaruhi pendapatan negara. Namun sumbangan Almarhum pada bangsa, tak bisa terhitung banyaknya. Tanpa jasa-jasanya, kita tidak akan sungguh-sungguh mengenali sejarah bangsa ini.

Praktis, saat kabar itu datang, benar-benar tak siap rasanya menghadapi coba yang baru mendera. Rasa kehilangan yang begitu perih nan dalam bertubi-tubi datang. Gelap, dan menyesakkan dada. Rasa pilu dan gundah yang tak terucapkan, menyeruak ke relung hati paling dalam. Muncullah sebongkah kekosongan yang membayang di udara. Continue reading