Seruan Kembali “Petisi Perlindungan Kebebasan Memeluk Kepercayaan dan Beribadah Sesuai Kepercayaannya”

Insiden penyerangan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Minggu, 6 Februari 2011 lalu, kembali membuka mata kita akan gelapnya nuansa keberagaman Indonesia, terutama menyoal kebebasan beragama. Pelbagai hujatan dan kecaman kepada pemerintah pun kembali dikumandangkan dengan lantang. Itu memang sudah sepantasnya dilakukan. Selain karena kasus ini telah berulangkali terjadi, pemerintah juga sangat mandul menyikapi persoalan ini.

Beberapa saat lalu saya menerima email dari seorang kawan, yang berisi ajakan untuk menyebarluaskan petisi perlindungan kebebasan beragama di negeri ini. Saya sudah pernah mengikuti petisi ini sebetulnya, tepatnya ketika awal petisi ini dibuat, September 2010.

Waktu itu, petisi yang diinisiasi oleh sejumlah tokoh dan komunitas sosial-budaya di Jakarta, ditujukan untuk merespon insiden penyerangan jamaah HKBP di Bekasi. Dengan terjadinya peristiwa yang sama atas jamaah Ahmadiyah, petisi ini pun disebarluaskan lagi.

Melihat pada tandatangan yang terkumpul, sebetulnya sebelum insiden Cikeusik telah terjaring 13500 tandatangan pada petisi ini, dan konon sudah dikirimkan juga ke pemerintah. Semoga kini setelag disebarkan ulang, jumlahnya semakin banyak.

Sangat ironis. Meskipun sudah berulangkali terjadi, serta telah banyak permohonan dari masyarakat untuk perlindungan kebebasan beragama, belum ada tindakan tegas nan serius dari pemerintah. Tindakan pemerintah dalam mencegah terjadinya kekerasan antar umat beragama bisa jadi tak pernah kita lihat. Hingga kemudian kita mendengar insinden Cikeusik terjadi.

Celakanya, presiden pun hanya sebatas mengatakan berduka. Lantas apa bedanya dengan kebanyakan masyarakat kalau hanya itu yang ia lakukan. Presiden kita ini memang parah. Seharusnya ia bisa melakukan yang lebih dari itu bukan? Ok. Sebetulnya yang lebih prinsipil bukan itu. Melainkan mengapa insiden semacam ini terus terulang. Padahal aktornya sama. Bisa saja pemerintah membekukan organisasi setan berjubah itu bukan? Tentu tak sulit untuk membubarkannya. Dari segi apa pun dan dengan alasan pun kita mudah saja menguatkan pembubaran FPI ini.

Namun apa daya. Indonesia dipimpin presiden yang klemar-klemer, alias lemah. Ia sosok yang sering berpenampilan mentereng, namun tak pernah melihat kondisi atau sekadar mendengar suara rakyatnya. Kuharap ada yang bisa mengobati telinga yang tuli dan matanya yang buta itu. Namun tak boleh lengah. Seruan, himbauan, aspirasi, dan gugatan rakyat harus selalu disuarakan. Semoga gaung suara rakyat bisa mencongkel penyumbat telinganya, bisa menusuk matanya yang buta—agar ia sadar kalau selama ini ia buta.[]

–Rifqi Muhammad

Berikut ini petisi dan ini link halamannya:

Petisi Perlindungan Kebebasan Memeluk Kepercayaan dan Beribadah Sesuai Kepercayaannya

Kepada Yth.

Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono

Di Tempat

Bapak Presiden yang terhormat,

Pada Minggu, 12 September 2010, atau 3 Syawal 1431 H, telah terjadi kekerasan terhadap jamaah Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Ciketing, Bekasi, yang menyebabkan paling sedikit sembilan orang luka, termasuk pendeta, dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Kekerasan ini bukan yang pertama kalinya terjadi pada gereja tersebut, pun bukan yang pertama kalinya terjadi pada kelompok agama minoritas. Institut Setara, sebuah kelompok pluralis, seperti yang dikutip oleh harian The New York Times pada 31 Juli 2010, menyebutkan telah terjadi 28 kasus pelanggaran hak terhadap kelompok Kristiani pada separuh tahun 2010 saja.

Kekerasan juga terjadi pada kelompok kepercayaan, seperti yang terus menerus terjadi pada kelompok Ahmadiyah, menjadikan ke-200.000 pengikutnya hidup dalam ketakutan. Tanpa proses pengadilan, bahkan berdasarkan interpretasi kepercayaannya sendiri, Menteri Agama Suryadharma Ali telah mengumumkan rencana untuk membubarkan Ahmadiyah.

Kami, anggota masyarakat yang sangat peduli, sangat prihatin terhadap maraknya kekerasan terhadap kelompok kepercayaan minoritas dan minimnya usaha dari pemerintah untuk menghentikan kekerasan ini. Negara Indonesia adalah negara hukum dan Undang-Undang Dasar 1945 serta dasar negara Pancasila menjamin kebebasan memeluk kepercayaan dan beribadah menurut kepercayaan masing-masing.

Kami meminta kepada pemerintah, polisi, maupun pihak-pihak berwenang terkait, untuk tidak terburu-buru mengumumkan kesimpulan prematur bahwa kekerasan terhadap kongregasi Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Bekasi adalah tindak pidana murni. Perlu digarisbawahi bahwa telah terjadi serangkaian kekerasan atas jamaah Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Bekasi sebelum aksi penyerangan berdarah pada Minggu, 12 Agustus 2010.

Kami, warga negara Indonesia, menuntut hal-hal sebagai berikut:

1. Adanya jaminan kebebasan dan perlindungan dari negara bagi warga negara menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing sesuai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29.

2. Presiden mengambil tindakan nyata untuk membuktikan janji kampanye dan pidato-pidatonya tentang bahwa pemerintah telah memberi jaminan kebebasan dan perlindungan dari negara bagi warga negara menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing, sebagaimana terakhir disampaikan dalam Pidato Kenegaraan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat pada 16 Agustus 2010.

3. Menuntut pemerintah menindaklanjuti laporan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri pada 30 Agustus 2010 tentang organisasi-organisasi kemasyarakatan yang berbuat anarkis. Menurut laporan Kapolri, beberapa organisasi itu terlibat 49 tindakan kekerasan pada 2010 dan total 107 tindakan kekerasan pada beberapa tahun terakhir, termasuk penyerangan terhadap kebebasan beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing, baik terhadap penganut agama dan keyakinan tersebut maupun tempat-tempat ibadah mereka.

4. Mendesak polisi mengusut tuntas berbagai tindakan kekerasan terhadap kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing, dan menangkap pelaku dan otak pelanggaran terhadap hak asasi manusia tersebut, serta memrosesnya secara hukum.

5. Mendorong dialog antar anggota masyarakat dan elemen kebangsaan tentang kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing dengan presiden sebagai aktor utama yang sensitif di dalam negeri, alih-alih memprioritaskan isu serupa di luar negeri.

Demikian petisi ini ditulis, ditandatangani, dan disampaikan oleh Warga Negara Indonesia kepada Presiden Republik Indonesia sebagai pernyataan yang menuntut respon dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Terimakasih.

Jakarta, 13 September 2010.

Advertisements

2 thoughts on “Seruan Kembali “Petisi Perlindungan Kebebasan Memeluk Kepercayaan dan Beribadah Sesuai Kepercayaannya”

  1. sebenarnya ini maslah mendasar gan: di indonesia negara hanya melindungi 5 agama yang dianggap sah dan 1aliran kepercayaan terhadap TYME….untuk agama/sekte lain belum ada payung hukumnya!! mungkin beda lagi kalo negara bukan berdasar pancasila tapi berlandaskan HAM….
    jika ahmadiyah tidak melenceng…pasti juga biasa2 ajah…lihat ajah FPI yang suka bikin bergidig ajah dibiarkan….karena mereka tidak melnceng secra fundamental…..islam kejawen aja tetep nganggap muhammad sebagai nabi terakhir…meski mereka juga memuliakan para wali….itu cuma pandangan ane sih….

    • perlu diketahui juga bahwa ahmadiyah ada dua aliran, tak bisa dipukul rata. bagaimanapun, hukum melenceng atau tidah itu sangat bisa diperdebatkan. interpretasi saya tentang sebuah hadis misalnya, tentu akan dianggap melenceng bila diperbandingkan dengan interpretasi orang. begitu juga sebaliknya. dari cara pandang ini, menetapkan ahmadiyah sebagai aliran sesat tentu terlampau kelewatan. toh ahmadiyah yang berkembang di indonesia adalah kaliran ahmadiyah yang ajarannya tetap menjunjung tinggi Muhammad sebagai nabi terakhir.
      namun yang perlu kita ingat, gan. kasus kemarin ane kira murni kasus kriminal. jadi harus dipandang dalam kacamata hukum, bukan agama. mau dipandang sesat atau tidak, harus diperlakukan sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s