Mistisime Jawa dalam Belenggu Kebebasan Beragama

Adalah Niels Mulder, merupakan penulis, yang tertarik dan tergolong berhasil dalam mengungkap jagat mistik dan kepercayaan Jawa. Melalui buku Mysticism in Java; Ideology in Indonesia, antropolog belanda ini menerawang, memasuki, dan menjabarkan jagat mistik yang syarat problematika dan teka-teki. Oleh Mulder, mistisisme didefinisikan sebagai bentuk hepercayaan. Mistisisme dikategorikan sebagai kepercayaan lokal diluar mainstream agama-agama yang posisinya telah diresmikan negara.

Dalam terjemahan buku Mulder yang terbit di Indonesia dengan judul Mistisisme Jawa; Ideologi di Indonesia ini, mistisisme Jawa, menurutnya, pernah dua kali bangkit dalam kontestasi keagamaan nasional. Yakni, pada masa-masa akhir Soekarno dan awal kepresidenan Soeharto. Geliat pertama ditandai munculnya BKKI (Badan Kongres Kebatinan Indonesia). Wongsonegoro sebagai pentolannya, serta penganutnya, akhirnya “berbenturan” dengan tokoh-tokoh agama mapan di Indonesia, khususnya Islam.

Namun itu gagal karena Kementrian Agama—yang didominasi orang-orang Islam—ingin ‘mensucikan’ penganut dan penyebar keyakinan yang dianggap sinkretis. Misalnya, pada tahun 1952, Kementrian Agama mengajukan definisi agama secara sempit. Agama disyaratkan memiliki nabi, kitab suci, dan juga diakui masyarakat internasional. Definisi itu menutup peluang mistisisme sebagai kepercayaan untuk menjadi sebuah ekspresi keagamaan yang sah. Sebab, bagi kalangan penganut mistik, menganggap bahwa untuk menuju pada “Tuhan”, bukan melalui perantaraan seseorang atau kitab suci. Melainkan terpancar langsung dari Tuhan yang tertuju pada hati seseorang.

Ciutnya definisi itu akhirnya mengecewakan penganut mistisisme Jawayang juga membawa banyak nilai–untuk meminta pemerintah agar memasukkan mistisisme sebagai salah satu agama resmi di negara ini. Selain menimbulkan konfrontasi, definisi itu juga menyudutkan agama tertentu, semisal umat Hindu Bali. Penganut mistisisme murni dan umat Hindu pun berontak. Akhirnya, dengan terpaksa Kementrian Agama menarik kembali definisi yang diajukan. Pada tahun-tahun berikutnya, Kementrian Agama mendirikan Pakem (Pengawas tentang Kepercayaan Masyarakat) pada tahun 1954.

Namun, pada tahun 1961, Kementrian Agama kembali “berulah”, dengan mengajukan definisi agama yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Yaitu, agama harus didirikan dengan kitab suci, seorang nabi, ketunggalan absolut Tuhan Yang Maha Esa, dan sebuah sistem hukum yang mengatur penganutnya. Demi optimalisasi mencegah timbulnya keresahan sosial, pihak kepolisian dilibatkan. Akhirnya, Soekarno dengan tegas mengeluarkan pengukuhan sekaligus ultimatum. Hanya Islam, Khatolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu yang mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. Kelompok lain yang dianggap mengancam agama-agama mapan dilarang dan dibubarkan. Ultimatum ini atas rekomendasi Menteri Agama, Jaksa Agung atau Menteri Dalam Negeri.

Munculnya sekat-sekat kepercayaan ini akhirnya memaksa penganut mistisisme untuk meredam perjuangan mereka. Keinginan untuk disejajarkan dengan penganut salah satu enam agama yang terekomendasi itu buntu. Hal ini diperparah dengan peraturan baru masa pemerintahan orde baru (Orba). Bahwa semua rakyat Indonesia diharuskan memeluk Negara, dibuktikan melalui Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Kini di era yang lebih memfasilitasi kebebasan berekspresi, bagaimanakah nasib mereka? Ternyata tidak juga bebas. Barangkalai kalau dulu yang merepresi adalah Negara, kini tekanan itu muncul dari kelompok-kelompok keagamaan yang mengatasnamakan diri dari agama mainstream. Sebut saja kelompok fundamentalis yang menamakan diri sebagai FPI, kelompok ini telah berkali-kali tercatat sebagai agen perepresi kebebasan beragama di Indonesia. Pelbagai fakta tentunya telah terhampar, baik dimedia cetak, televise, maupun kajian akademis. Alhasil, kelompok keagamaan non-mainstream pun tetap terbelenggu dalam ketidakbebasannya [RIfqi Muhammad].

Kajian terkait mengenai Mistisisme Jawa bisa diunduh di Halaman Download

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s