Mistisisme dan Filosofi Manusia Jawa

Mistisme jawa terjabar kedalam pelbagai bentuk pandangan dan filosofi diri manusia jawa. Misalnya kelahiran manusia yang merupakan anugerah Gusti, ditempatkan dalam possi yang sangat luhur. Sehingga, pertemuan lingga dan yoni sebagai perantaranya, menjadi proses magis yang penuh spiritualitas. Bothok bantheng winungkus godhong asem kabitingan alu bengkong, merupakan simbol yang menerangkan asal-usul perspektif manusia Jawa. Secara harfiah, bothok bantheng bermakna sperma, godhong asem merupakan kemaluan wanita, dan alu bengkong dimaknai alat kelamin laki-laki.

Dalam mistisme Jawa, manusia tidak hadir sendiri di muka bumi, melainkan berempat. Kehadirannya di bumi bersamaan dengan sedulur papat. Sehingga ditambah kita sendiri, totalnya sejumlah lima pancer. Sedulur papat lima pancer, merupakan penghormatan pada orang tua, khususnya ibu yang sudah melahirkan. Ibu juga sebagai sumber kasih sayang yang tiada habis-habisnya.

Hitungan pasaran yang berjumlah lima menurut kepercayaan Jawa, juga berdasar pada filosofi sedulur papat lima pancer. Filosofi sedulur papat lima pancer memiliki pengertian bahwa, badan manusia yang berupa raga, wadag, atau jasad, lahir bersama empat unsur atau roh atau enima yang berasal dari tanah, air, api dan udara. Empatnya mempunyai kiblat di empat mata arah angin. Dan yang kelima berpusat di tengah. Persamaan tempat kiblat sedulur papat lima pancer bisa dilihat di bawah ini.

  • Pasaran Legi, bertempat di timur. Satu tempat dengan unsur udara, memancarkan aura putih.
  • Pasaran Paing, bertempat di selatan. Tempat dengan unsur api, selalu memancarkan aura sinar merah.
  • Pasaran Pon, bertempat di barat dengan unsur air, memancarkan sinar kuning.
  • Pasaran Wage, bertempat di utara, dengan unsur tanah, selalu memancarkan sinar hitam.
  • Kliwon, bertempat di tengah, sebagai tempat sukma dan jiwa berada, sinar manca warna.

Dilihat dari penangalan Jawa melalui filosofi sedulur papat lima pancer, dapat diketahui betapa pentingnya pasaran Kliwon. Selain karena berada di tengah atau pusat, juga merupakan tempat sukma yang memancarkan perbawa atau pengaruh kepada sedulur papat lainnya. Satu peredaran keblat papat kalima pancer, dimulai dari arah timur berjalan sesuai alur perputaran jam dan berakhir di tengah. Jika dianalogikan, sedulur papat lima pancer seperti ibu yang sedang melahirkan anaknya.

Penjabaran di atas baru sebagian kecil saja. Memahami manusia melalui sudut pandang mitologi Jawa, ternyata tidak hanya pada aspek fisiologi yang sederhana, melainkan juga filsafat manusia yang kaya makna. Dalam kerangka ini Jawa bisa dibilang sebagai bentangan mistisme dan mitologi yang penuh kearifan.

Tulisan ini adalah potongan tugas kuliah Filsafat Mistik.. Selengkapnya download di sini

Advertisements

One thought on “Mistisisme dan Filosofi Manusia Jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s