Pengakuan Waktu

Panggil saja aku waktu. Orang mengenalku sebagai penanda apa pun. Dalam sebuah kamus, aku dimengerti sebagai rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan, berada atau berlangsung. Aku digeneralisasi ke dalam bentuk yang baku.

Menurutku, cara mereka dalam melakatkan aku pada segala hal cukup ceroboh. Padahal mereka sendiri yang menegaskan, aku dipakai untuk menandai interval keadaan/kejadian, yang ini tentu saja berbeda untuk tiap hal. Bukannya itu menempatkan waktu dalam keunikannya? Menurutku, Einstein menjadi orang yang cukup jeli dalam mengenalku.

Engkau juga tentu kerap mendengar, bagaimana orang seringkali menyandingkan aku dengan ruang. Padahal aku juga ingin dimengerti sebagai ruang. Ya. Aku adalah ruang, dimana pengetahuan diproduksi, manusaa berkelahi, dan pelbagai hal dijalani. Ah. Sia-sia saja aku jelaskan. Kau tentu tidak mengerti, entah tidak mau mengerti. Makanya sesekali dengarlah si Marx. Aku cukup senang mendengar celotehnya tentang diriku.

Sudahlah, tak usah terlalu dipikir. Pahami saja aku sebagaimana engkau diajari guru-gurumu, yang tidak mengerti tentang aku. Kali ini mereka merayakan ku, katanya ini tahun baru. Bergabunglah dengan mereka. Kalau kau lebih senang begitu.

Begitu kira-kira si fulan mengisahkan mimpinya di malam pergantian tahun 2011 ini.

Advertisements

4 thoughts on “Pengakuan Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s