Basa-basi Trans-mode Arsitektural Malioboro

Perkara dalam tulisan ini, semacam percikan ide seusai mereka-reka makna bab ketujuh buku Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia karya Abidin Kusno, dua bulan lalu kira-kira. Hasrat yang rapuh itu kemudian saya tambal lagi dengan membaca bukunya Rudolf Mrazek, Engineer of Happy Land.

Mula-mula memahami Jogjakarta. Jogja, sebagai sebuah kawasan, memiliki sederet penanda identitas. Malioboro adalah salah-satunya. Sebagai penanda, apapun yang berada di kawasan itu—mulai dari pertokoan, lapak-lapak kaki lima, alat kendaraan, dan hiasan kota yang ada—tentunya menguatkan daya tawar identitas.

Penglihatan saya, mengeja arsitektur komplek pertokoan Malioboro sebagai fokus. Apa gerangan. Asumsi saya, karena Malioboro adalah salah satu penanda andalan Jogja, maka gedung-gedung di komplek Malioboro juga dibentuk untuk mendukung identitas Jogja. Malioboro yang saya masud, tentu sebagai sebutan komplek bangunan—pertokoan—di jalan Malioboro, bukan sebagai nama jalan.

Selepas cukup mendekam dalam pikiran, terkadang ide membucah praktik. Ketika keluyuran di jalan-jalan, misalnya, saya kemudian lebih kerap memelototi rentetan bangunan ketimbang memperhatikan beringasnya lalu-lalang kendaraan. Meskipun sejak dulu juga sering melakukannya, tapi kini lebih intim. Konsentrasi saya pun bersliweran untuk itu. Seperti mendapat mata baru, saat itu saya [merasa] lebih peka. Sesekali merasa bahwa banyak gedung yang berbaris timpang dipinggir jalan. Barisan gedung-gedung yang ganjil. Agak menohok keteraturan. Kasar.

Selanjutnya, melihat komplek arsitektur di malioboro yang heterogin, dugaan-dugaan malioboro sebagai kesatuan identitas arsitektur, terkaburkan. Jauh dari lazimnya penanda identitas, yang biasanya cenderung kuat dalam keserasian, di sana malah berjubel ketidakseragaman. Kalau keberagaman itu yang menjadi penanda, kenyataanya mereka saling mendominasi. Saya malah melihat mereka hendak menegaskan dirinya masing-masing. Akibatnya, bukan penanda perbedaan yang ada, melainkan keangkuhan dan persaingan. Lalu, kalau arsitektur komplek malioboro itu bukan bagian dari penanda, kenapa konstruksinya dibuat berbeda dengan bangunan-bangunan lain di jogja: dengan atap yang rata menjorok ke jalan.

Sebagaimana Kusno, lalu saya turut membayangkan bahwa setiap daerah memiliki basis kekukuhan politik dan budaya, yang bisa mempengaruhi pengetahuan dan praktik arsitektur di wilayahnya. Terlebih terhadap salah satu ikon, saya kira, malioboro tentu bisa dilihat dalam konteks tersebut. Inilah yang membuat deretan toko yang saling menempel di Jalan Malioboro itu menjadi istimewa.

Lalu bagaimana gagasan ini dikerangkai? Bagaimana menjelaskan keterkaitan antara identitas Jogja, yang menjaga budaya, dengan penguatan pilihan gaya arsitektur bangunan di komplek Malioboro.

Malioboro di sini diposisikan sebagai representasi. Tentang bagaimana imajinasi identitas budaya dan politik arsitektur di negara bekas jajahan; tentang hubungan identitas budaya dan politik terhadap pilihan gaya arsitektur sebagai praktik; tentang bagaimana pemerintah penguasa memposisikan bangunan kolonial dibawah pengaruh politik arsitektur identitas budaya lokal; tentang gejala-gejala yang menunjukkan keterkaitan antara dua kuasa gaya Arsitektural, bekas koloni dan bekas kolonial; tentang Jogja yang lokal, yang juga menjaga pilihan gaya arsitektur luar, kolonial. Kesemuanya terluap dalam rumpun bangunan Malioboro.

Gagasan ini akhirnya tidak bisa saya kendalikan sepenuhnya, selain hanya mengumpulkan apa saya yang menarik untuk dihubung[-hubung]kan sebagai gagasan.

# Dan…. entahlah.[RIFQI MUHAMMAD]

Advertisements

2 thoughts on “Basa-basi Trans-mode Arsitektural Malioboro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s