Merevisi Statuta Universitas

Tahun ini adik saya akan menginjak bangku Perguruan Tinggi. Tentu saja ia berharap masuk dalam jajaran Perguruan Tinggi Terbaik. Satu satunya jalur yang saya gunakan untuk turut mencari informasi, ialah internet—karena memang hanya itu yang bisa saya lakukan. Melalui situs search engine google.com, saya lalu berselancar.

Keyword yang pertama kali saya tuliskan ialah Perguruan Tinggi Favorit Indonesia. Akhirnya terhamparlah beberapa link situs. Ternyata kebanyakan situs yang mengandung keyword tersebut ialah artikel yang diikut sertakan dalam Lomba Blog UII, oleh Universitas Islam Indonesia yang bertema Perguruan Tinggi Idaman.

Ya. Indonesia, selain terdiri dari ribuan pulau, juga terdiri dari ribuan Perguruan Tinggi. Secara tidak berlebihan, seakan fenomena itu ingin menegaskan bahwa Perguruan Tinggi menjadi semacam prasyarat utama penyokong bangsa. Saya lalu tergelitik, apa yang biasa dibayangkan orang tentang kehidupan dunia universiter, Perguruan Tinggi.

Zeitgeist zaman

Bagi saya, perkembangan Perguruan Tinggi tak bisa dilepaskan dari ruh dunia atau semangat zamannya (zeitgeist). Sebagaiamana kita dengar, telah jamak dikatakan oleh orang, bahwa ritme jaman telah berubah dalam perkembangan yang pesat. Modernisme, dan demokrasi liberal, menjadi spirit yang mutlak[i]. Laju teknologi telah melesat. Abad telah berlari, seakan lepas kendali. Salah satu buktinya, sebagaimana kita lihat, bahwa perkembangan kebutuhan primer manusia yang tak bisa dilekatkan hanya pada sandang, pangan, dan papan saja, melainkan juga komunikasi[ii].

Bagaimana Perguruan Tinggi menyikapi persoalan ini? Laju zaman, selain menghadirkan kelimpahan material yang luar biasa dan kemudahan akses yang luas, juga membawa ekses buruk yang membawa mala[iii]. Munculnya ekses yang seakan tidak bisa dihindari tentunya tidak perlu ditakuti. Bagaimanapun, ekses buruk hanya akan hadir apabila potensi kehadiran itu ada.

Salah satu kondisi yang bisa memunculkan potensi dalam menghadirkan ekses buruk zaman yang paling kentara adalah ketertinggalan[iv]. Ketertinggalan dalam sendirinya mambawa segudang implikasi. Dalam konteks dunia akademik, Perguruan Tinggi mesti berlari sangat cepat. Ia tak bisa dibiarkan saja berada dalam ketergilasan pada zaman. Kini, yang perlu diupayakan, ialah menyiapkan Perguruan Tinggi yang mampu mengimbangi zaman, bahkan mengarahkan. Di sinilah pentingnya kehadiran Perguruan Tinggi yang bukan sebagai artefak yang pasif.

Dalam beberapa buku yang pernah saya baca, pada abad-abad awal perkembangan modernisme, lembaga pendidikan menjadi wadah yang mampu memproduksi kebutuhan zaman. Bahkan gagasan modernisme—sendiri (it self)—pun lahir sebagai hasil dari semangat akademis yang kuat. Contoh lain ialah, misalnya, kelangsungan tradisi diskursus dalam madzhab kritis di Frankfurt, Jerman, yang digawangi oleh Adorno dan Habermas. Dalam konteks Indonesia, organisasi pergerakan Boedi Oetomo—sebagai salah satu faktor penentu kemerdekaan Indonesia—misalnya, tentu tak bisa dilepasakan dari keberadaan aktor-aktor terdidik yang ada di dalamnya. Dalam konteks Boedi Oetomo inilah, saya kira, kita bisa melihat sumbangan pendidikan terhadap usaha kemerdekaan Indonesia. Inilah yang kemudian saya sadari, bahwa kesadaran akan pendidikan, adalah kesadaran akan ruh sejarah zaman. Di masa lalu, kondisi ini tercermin dalam pribadi tokoh agung yang mementingkan sisi pendidikan, sebut saja R.A. Kartini, Ki Hajar Dewantoro, juga pendiri Boedi Oetomo, dr. Soetomo. Oleh mereka, pendidikan diorientasikan untuk masa saaat itu dan kemudian.

Dari beberapa refleksi saya di atas, saya hendak menekankan, bahwa Perguruan Tinggi tak bisa dipandang sebagai institusi yang berdiri sendiri. Ia mesti diletakkan dalam keterkaitannya dengan persoalan zamannnya. Bagaimanapun, dunia akademik ialah dunia di mana gagasan dan inspirasi tentang dunia terlahir, ide dan inspirasi muncul, sehingga saat itulah perubahan demi perubahan berlangsung. Dengan demikian, untuk mencapai Perguruan Tinggi yang ideal, upaya pengembangannya pun perlu disesuaikan dengan potensi dan tantangan zaman.

Pada masa yang tengah kita alami, dimana pelbagai pandangan dunia, sarana berfikir, dan akses sudah tersebar luas, tentunya Perguruan Tinggi sekarang harus memposisikan diri dengan cara yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Karena sebetulnya tuntutan dan tantangan terhadap Perguruan Tinggi di zaman sekarang tentunya berbeda pula. Searah dengan akses perolehan sumber pengetahuan yang kian beragam dan terbuka luas, tantangan dalam pendidikan pun lebih besar dan kompleks. Kenapa Perguruan Tinggi harus dipahami dengan cara demikian? Karena dengan cara itulah gambaran idealitas tentang Perguruan Tinggi Idaman bisa dirumuskan.

Siklus Pengetahuan

Di masa kecil, dimana akses terhadap lingkaran pengetahuan terbatas, pengetahuan saya pun terbatas. Dari sini kemudian saya berfikir, apa yang membuat orang bisa terus meningkatkan pengetahuan. Akhirnya saya berkrsimpulan, dimensi penting dalam pendidikan ialah keragaman media pengetahuan dan keluasan sumber informasi. Ini yang saya kira perlu dimiliki oleh Perguruan Tinggi. Bagaimanapun, lembaga akademis tak bisa dilepaskan dari kebutuhan akan informasi dan pengetahuan. Informasi dan pengetahuan itulah yang kemudian menjadi bahan kajian dan pengembangan keilmuan.

Sejarah mengatakan, sejak teknologi cetak dikenal, pengetahuan tersebar secara luas melalui buku dan pelbagai terbitan cetak. Sekalipun waktu itu teknologi rekam dan radio juga telah berkembang pesat, namun kenyataannya proporsi media cetak jauh lebih besar. Ini berarti bahwa, sumber pengetahuan tertulis telah men-tradisi dalam menyuplai kebutuhan pengetahuan dunia akademis. Saya berfikir keras, mengapa media tulis? Ternyata, jika dibandingkan, perbedaan utamanya ada pada potensi kecepatan daya cerap. Pada media tulis, pembaca dapat dengan mudah membalik-balik bukunya dan membaca dengan kecepatan si pembaca. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan dalam memperlancar proses penyerapan pengetahuan. Berbeda dengan media audio atau visual yang pembaca harus mengalah pada media.

Tak mengherankan bila usaha untuk menunjang perbendaharaan media cetak terus dilakukan, yang tak lain ialah mengembangkan buku di perpustakaan. Sehingga pameo yang mengatakan, bahwa lembaga pendidikan yang baik, harus diimbagi dengan perpustakaan yang mendukung. Hal ini tentu saja didasari oleh anggapan bahwa perpustakaan adalah wadah pengetahuan. Anggapan ini kian ditegaskan oleh fenomena yang menunjukkan bahwa selama ini, hanya dalam perpustakaan lah pengetahuan disimpan dan berputar secara turun temurun.

Pada dunia Perguruan Tinggi, tentunya, kemampuan mahasiswa dalam mengakses media dan sumber pengetahuan, menjadi prasyarat yang sangat penting. Bahkan boleh dibilang, bisa jadi, menjadi salah satu elemen penting dalam menentukan tingkat kemajuan Perguruan Tinggi. Dalam konteks ini, keberadaan sumber pengetahuan dalam Perguruan Tinggi menjadi sesuatu yang tak bisa diganggu gugat.

Apakah ini berarti, Perguruan Tinggi yang ideal harus membangun perpustakaan yang besar dan lengkap? Tidak sepenuhnya demikian. Kini, paradigma tentang sumber pengetahuan harus diperluas. Pada perkembangannnya sekarang, kenyataannya sumber pengetahuan telah tersebar dalam pelbagai bentuk, termasuk internet. Untuk menjadi Perguruan Tinggi Idaman, lembaga akademis tingkat tinggi ini harus bisa merespon peluang-peluang persebaran informasi tersebut. Sehingga tuntutan mengembangkan perpustakaan yang besar dan lengkap, bisa disiasati dengan pemanfaatan teknologi internet.

Di era keterbukaan informasi, ditandai dengan kemajuan teknologi elektronik, internet bisa menjadi satu-satunya bentuk sumber pengetahuan yang paling melimpah. Keuntungan penggunaan teknologi informasi internet, bagi Perguruan Tinggi, selain menunjang proses pemerataan, keterjangkauan akses, juga secara praktis meringankan tugas tenaga pengajar dalam memberikan kerangka pengetahuan, karena mahasiswa bisa belajar mandiri dengan jangkauan yang luas. Peluang ini sangat terbuka lebar. Persebaran internet di Indonesia sudah sangat massif. Rata-rata penduduk Indonesia, terlebih lagi mahasiswa, telah sangat mengenal dan mampu menggunakan teknologi ini. Data Internet World Stats menunjukkan, di kawasan Asia, sepanjang tahun 2009 Indonesia menempati ranking ke-5 pengguna internet terbanyak, yakni sekitar 25 juta orang[v].

Keberadaan teknologi ini menjadi sangat penting karena, saat ini, produksi pengetahuan telah berjalan dengan demikian cepat. Jeda perkembangan intra dan antar ilmu pengetahuan sangatlah singkat. Otomatis waktu untuk mencerap pengetahuan semakin menipis. Sehingga tuntutan kemampuan dalam mengakses pengetahuan secara utuh, juga dalam waktu yang singkat, semakin besar. Apabila hanya mengandalkan sumber pengetahuan cetak—yang relatif lebih lambat daripada online—tentunya perbendaharan pengetahuan sebuah institusi pendidikan kian tertinggal.

Keterdesakan itu ditambah lagi dengan tantangan Perguruan Tinggi yang semakin mengglobal. Bagaimana saat ini persaingan pengembangan keilmuan, sudah tidak berada di level lokal—intra-negara, melainkan telah melintasi batas-batas teritorial. Universitas Islam Indonesia, tentu saja sudah harus bersaing dengan Universitas Malaya di Malaisyia, atau dengan Perguruan Tinggi lain di Spanyol atau Turki. Inilah kiranya kenapa pemanfaatan teknologi informasi menjadi hal yang tidak bisa dielakkan lagi.

Dalam konteks persebaran pengetahuan ilmiah, lalu apa yang akan kita peroleh dari internet, sedangkan sumber pengetahuan yang secara keilmuan bisa dipertanggung jawabkan kebanyakan berupa referensi cetak. Apakah carut-marut jutaan artikel dan esai yang tersebat di laman-laman dinia maya? Itu hanya salah satunya. Di samping artikel, di internet juga terdapat pelbagai situs yang menyediakan referensi ilmiah, baik yang berbayar—semisal jstore.com dan amazon.com—maupun yang gratis—semisal gigapedia.com dan scribd.com. Referensi ilmiah yang dimaksud bisa beragam bentuknya, baik berupa buku atau jurnal. Yang tentunya kebanyakan berupa soft-copy.

Untuk mengimbangi pencapaian pengetahuan yang tengah berkembang, jurnal menjadi media pengetahuan yang paling vital. Karena bagaimanapun, salah satu media untuk menilik perkembangan pengetahuan ilmiah, yang tingkat produksi dan kajiannya lebih cepat ketimbang buku, ialah Jurnal. Perkembangan buku, tentunya, tidak se-up-to-date jurnal. Sebagaimana disinggung di atas, bahwa persaingan Perguruan Tinggi sudah meng-global, tentu saja kebutuhan pengetahuan melalui jurnal pun mengikuti. Artinya, disamping tuntutan untuk mengakses jurnal-jurnal terbitan dalam negri, tuntutan untuk dapat mengakses jurnal-jurnal internasional niscaya juga harus terfasilitasi. Dalam kerangka inilah kenapa teknologi informasi online menjadi sangat penting.

Perguruan Tinggi idaman, saya kira, perlu menyediakan akses pengetahuan yang luas bagi mahasiswanya. Namun demikian, pemenuhan hasrat pengetahuan itu, juga harus disesuaikan dengan zamannnya. Dalam arti, kebutuhan pengetahuan dalam skala besar yang semakin meng-global, tak bisa dipenuhi dengan media pengetahuan yang lokal saja. Sehingga Perguruan Tinggi harus menyediakan sarana untuk mengakses literatur-literatur berskala internasional yang selalu up to date, yakni dengan melanggan jurnal-jurnal internasional yang melingkupi pelbagai disiplin ilmu. Dengan demikian, mahasiswa dan sivitas akademika yang lain termasuk dosen dan peneliti bisa mengambangkan dan mengkaji pengetahuan dengan lebih maksimal.

Kenyataannya, pada Perguruan Tinggi di Indonesia, dengan semakin ketatnya persaingan, pengaruh akses data referensi dan informasi berkualitas memang sangat menonjol. Kedepan, saya kira, akan berlangsung pelbagai persaingan akademis yang mengandalkan penyediaaan serta pemenfaatan data dan informasi. Hal ini kiranya mendorong perlunya penanganan yang lebih dini tentang keterjangkauan data referensi dan informasi bagi sifitas akademika.

Ibarat sebuah perusahaan, kelangsungan hidupnya akan sangat ditentukan oleh kemantaban bersaing di pasar. Kemampuan bersaing ini memerlukan strategi yang dapat memanfaatkan semua kekuatan dan peluang yang ada, menutup kelemahan dan menetralisasi hambatan dalam dinamika bisnis yang dihadapi perusahaan. Dalam konteks persingan Perguruan Tinggi, untuk menjadi Perguruan Tinggi Favorit Indonesia, kemampuan-kemampuan di atas mutlak dimiliki. Melalui penyediaan akses bagi kebutuhan data dan informasi dunia akademik, kekhawatiran akan rendahnya kompetensi mahasiswa dan dosen akan terjawab.

Atmosfir Akademik

Setiap Perguruan Tinggi mengandung suasana akademisnya yang unik. Saya melihat masing-masing memiliki atmosfir akademik yang berbeda. Lalu apa penyebabnya? Pelbagai faktor dan unsur yang melingkupi Perguruan Tinggi menjadi penentu, diantaranya ialah suasana lingkungan, tradisi ilmiah, kompetisi dan peran keluar, juga beberapa entitas yang lain. Suasana akademik alias atmosfir akademik merupakan akumulasi dari pelbagai unsur tersebut. Mendambakan Perguruan Tinggi Idaman, ialah mendambakan Perguruan Tinggi dengan atmosfir akademik yang mendukung.

Suasana lingkungan di sini tak bisa dibatasi pada persoalan fisik semata, melainkan juga suasana interaksi intra sivitas akademika. Faktor lingkungan dalam wujud ruang yang di mana Perguruan Tinggi berada, memiliki peran yang tidak sepele dalam menunjang kenyamanan kampus. Kenyamanan ini tentunya bukan berarti bahwa Perguruan Tinggi musti memiliki sarana fisik yang megah. Ibarat rumah, rumah besar yang megah tidak berarti lebih nyaman ditempati ketimbang rumah mungil, demikian juga sebaliknya.

Rumah yang nyaman ialah rumah yang tertata, juga ditunjang dengan keharmonisan penghuninya. Secara fisik, Perguruan Tinggi yang nyaman tentu saja Perguruan Tinggi yang asri. Asri atau tidaknya ruang tergantung pada kesesuaian penataan, pemanfaatan area lapang, dan sistematisasi ruang. Kenapa hal ini menjadi demikian penting? Saya kira anda juga bakal sepakat, bahwa siapa pun tak akan betah menghidupi kampus yang sumpek dan semrawut. Atas dasar inilah pengembangan atmosfir Perguruan Tinggi juga mesti disokong dengan lingkungan fisik yang mendukung.

Lingkungan yang berupa sarana fisik cenderung lebih bisa diukur pencapaiannya, ketimbang lingkungan yang berupa suasana kultural sivitas akademika. Suasana lingkungan yang kedua ini, sebagai wujud keharmonisan keluarga sivitas akademika, perlu dibangun sebagai tradisi yang terus dihidupi. Interaksi ilmiah antar penghuni kampus, dalam hal ini, perlu ditumbuhkan. Dialog antar pelbagai disiplin, bisa menjadi kerangka dasar yang sangat penting dalam mengembangkan iklim akademis yang sehat.

Disamping itu, hal lain yang juga tercakup dan mendukung atmosfir akademik ialah tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah bisa diterjemahkan dalam pelbagai bentuk laku akademis, di antaranya, misalnya, penerbitan jurnal dan menghidupkan wadah-wadah diskursus akademis[vi]. Penerbitan jurnal menjadi sarana yang paling tepat, saya kira, untuk menumbuhkan tradisi ilmiah, khususnya dalam konteks diskursus tulis. Adanya jurnal, kalau untuk kalangan dosen, tentu saja sudah biasa adanya, bahkan telah menjadi keharusan sejak lama. Melainkan yang saya maksud di sini ialah, jurnal mahasiswa.

Di negeri ini, setahu saya, penerbitan jurnal mahasiswa masih amat jarang. Pada celah ini lah saya kira pentingnya membudayakan para mahasiswa untuk menghidupi jurnal, tentu saja melalui tulisan-tulisan mereka. Dengan demikian, Perguruan Tinggi Idaman mesti mampu melatih dan memberikan ruang yang besar kepada mahasiswa untuk dapat memanfaaatkan segala sarana berfikir mereka, baik melalui lisan, tulisan, maupun praktik lapangan. Jurnal, merupakan sarana yang paling tepat untuk memacu, menantang, dan melatih daya fikir analisa dari para mahasiswa[vii]. Hal ini juga sekaligus mengikis bahaya plagiarisme yang selalu menghantui dunia akademis.

Bagi kalangan Dosen, sebagaimana dikatakan di atas, menulis di jurnal adalah sebuah keniscayaan. Untuk masa sekarang, bahkan tulisan para dosen sudah harus mampu menembus jurnal-jurnal internasional. Apakah ini penting? Iya. Sebab dengan demikian, daya pengetahuan dan penalaran seorang dosen selalu terasah dan ter-update. Yang pada saat yang bersamaan, hal ini tentu akan bisa memacu semangat belajar para mahasiswa. Sederhana saja, para mahasiswa tentu mendambakan dosen yang memiliki kemampuan keilmuan yang bisa diandalakan. Bagi saya, sebuah Perguruan Tinggi tentu tidak bisa disebut sebagai Perguruan Tinggi Terbaik bila ia tak mampu mendorong semua apparatus yang ada di dalamnya untuk mengembangkan diri.

Hal yang juga tak kalah penting dalam menghidupkan atmosfir akademik Perguruan Tinggi ialah kultur kompetisi yang bersahabat dan peran keluar. Harus dapat diakui bawa terkadang daya dorong progresifitas hanya akan muncul kalau terjadi kompetisi. Kultur kompetisi yang bersahabat dalam sebuah Perguruan Tinggi bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan mahasiswa.

Dengan membiasakan mahasiswa dalam kultur ini, mereka sejak awal juga akan terlatih untuk menghadapi dunia kompetisi global, yang tak jarang terkesan sangat kasar dan sporadis. Tentu saja dengan demikian daya psikis para mahasiswa akan terasah. Kultur kompetisi juga sejatinya akan melahirkan standar mutu yang tinggi bagi Perguruan Tinggi. Hal demikian tentunya bisa menghindari, setidaknya meminimalisasi, orang-orang yang hanya mengejar status sarjana saja, sarjana yang tanpa kesungguhan niat untuk mereguk ilmu dan pengalaman.

Sedangkan poin ‘peran keluar’ di atas dimaksudkan sebagai gambaran tentang peran Perguruan Tinggi bagi lingkungan di sekitarnya, daerahnya, maupun bagi bangsanya, baik dalam konteks sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Bagi Perguruan Tinggi sebagai wadah akademis, peran keluar Perguruan Tinggi menjadi sangat penting dalam rangka implementasi diskursus teoritis. Lalu keberadaan Perguruan Tinggi sebagai wadah asahan insan berpendididkan dan penyokong bangsa, peran keluar diartikan sebagai sumbangan sosial atas kebaradaan mereka. Dan ini tentu saja penting.

Hal ini terkait dengan tugas institusi Perguruan Tinggi sebagai wadah produksi insan-insan terdidik yang bervisi, berpekerti luhur dan peduli. Dan yang perlu ditekankan, hampir tidak ada jaminan keluhuran moralitas lulusan dari semua Perguruan Tinggi kecuali memang ada yang sungguh-sunguh mengusahakannya.

Cyber-universiter

Selain kemudahan akses data pengetahuan-kajian-referensi untuk kebutuhan akademik, kemudahan akses dalam segi adeministrasi juga perlu diperhatikan. Bagi calon mahasiwa saja, misalnya, kemudahan akses dalam Perguruan Tinggi juga menjadi bahan pertimbangan. Mereka memerlukan informasi tentang Perguruan Tinggi dengan cepat dan lengkap. Sistem komputerisasi tentu saja akan sangat memudahkan mereka.

Kemudahan administrasi yang lain, misalnya, seorang calon mahasiswa tidak perlu repot mengantri untuk membeli formulir pendaftaran, cukup melakukan transfer biaya dan mengunduh formulir melalui situs. Demikian juga dalam dalam sistem pengisian Kartu Rencana Studi. Semuanya cukup dilakukan melalui teknologi online. Keuntungannya, mahasiswa tidak diruwetkan dengan sengkarut  persoalan administrasi yang sifatnya sangat teknis.

Jaringan dunia maya merupakan jaringan global. Sebagaimana kita tau, dengan teknologi tersebut, komputer-komputer yang ada di seluruh pelosok Indonesia, bahkan dunia, terkait satu sama lain, yang tentu saja akan sangat memudahkan pengiriman berkas-berkas data akademik secara elektronik dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam mendukung proses mengkaji pengetahuan dan segala hal yang berkait-kelindan dengannya, faktor kecepatan pemindahan informasi dalam jumlah yang besar menjadi sangat penting. Teknologi informasi mampu menjawab kebutuhan tersebut.

Hal ini berarti pula pelajaran-pelajaran dapat disebarkan secara cepat. Bahkan apabila dimungkinkan, tidak terbatas pada aplikasi pengiriman berkas saja, dalam proses pembelajaran, mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan dosen yang mungkin tengah berada di tempat yang jauh. Cukup dengan cara mengirimkan berkas yang berisi pertanyaan-pertanyaan dan materi yang diharapkan kepada profesor di luar negeri, misalnya, kuliah dengan dosen tamu dari negara lain bisa dilakukan dengan mudah.

Tenaga ahli dan pakar dalam sebuah bidang pengetahuan tertentu, bisa jadi sangat langka di indonesia, bahkan di dunia. Melalui pemanfaatkan teknologi informasi, memungkinkan para mahasiswa berinteraksi dengan para pakar tersebut, dengan tanpa mendatangkan mereka di lokasi perkuliahan. Problem keterbatasan ahli dalam bidang tertentu, yang kadang juga berarti keterbatasan sumber pengetahuan, tentu aja dapat terselesaian. Hal ini akan sangat menunjang effisiensi pembelajaran. Dari segi finansial, tentu saja langkah ini akan lebih murah ketimbang harus mendatangkan para ahli sebagai dosen tamu, mahasiswa juga tidak perlu membayar mahal.

Aplikasi jaringan komputer ini juga tidak hanya terbatas pada proses administrasi dan perkuliahan, tapi juga dapat berkembang menjadi hubungan antar mahasiswa dari pelbagai belahan bumi. Para mahasiswa di Indonesia bisa terlibat dalam pelbagai diskusi atau konferensi elektronik dengan mahasiswa lain di belahan bumi lain. Untuk tercapainya proses tersebut, tentu saja peran Perguruan Tinggi tak bisa absen. Perguruan Tinggi harus menyediakan perangkat dan membantu mahasiswa untuk membiasakan diri dengan proses belajar yang demikian.

Proses pembelajaran global ini membuka terjadinya Global Brain yang memungkinkan percepatan mengembangan Sumber Daya Manusia yang diinginkan. Penggunaan teknologi merupakan ke-tak-terelakkan zaman. Terlebih atas dorongan kerja yang dituntut seefisien mungkin. Perguruan Tinggi berbasis teknologi informasi ini membuka kemungkinan pembangunan insan didik secara effisien tanpa terikat pada dimensi ruang dan waktu.

Lagipula, hak mendapatkan pendidikan yang layak, tentu perlu dibarengi dengan kelayakan layanan dan fasilitas pendukung pendidikan yang berkualitas. Melalui atmosfir akademik yang ketat dan basis data yang berkualitas internasional, Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan tertinggi diharapkan mampu menjadi penopang utama di pelbagai bidang, diantaranya bidang penciptaan, informasi-ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

###

Beberapa hal di ataslah, kiranya, biasa kita pahami sebagai jalan menuju Perguruan Tinggi Terbaik yang menjawab persoalan pasar dan persaingan Peguruan Tinggi, dengan tanpa berorientasi pada pasar. [RIFQI MUHAMMAD]

Tulisan ini ditujukan untuk memeriahkan Lomba Blog UII.


[i] Francis Fukuyama, the last man,

[ii] http://alkalamu.wordpress.com/2009/12/31/136/

[iii] Tia Setiadi dalam Dari Zaman Citra ke Metafiksi; Bunga rampai Telaah Satra DKJ. 2009. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta. hlm 132.

[iv] Alvin Toffler, Gelombang Ketiga (Bagian Kedua). 1992. Jakarta: Pantja Simpati. Hlm 307.

[v] http://www.internetworldstats.com/stats3.htm

[vi] Lihat F. Budi Hardiman, Menuju Masyarakat Komunikatif. 1993. Kanisius: Yugyakarta. hlm 3.

[vii] Merupa Buku

Advertisements

2 thoughts on “Merevisi Statuta Universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s