Kosmologi, antara Filsafat dan Ilmu Alam

Is cosmology relevant to philosophy? Pertanyaaan yang sifatnya sangat mendasar seperti ini sangat jarang saya temui di pelbagai kajian filsafat yang lain. Padahal melalui pernyataan—sekaligus pertanyaan—semacam itulah kita bisa mengetahui kedududukan dan keterkaitan sebuah kajian dalam filsafat. Kosmologi, sebagai suatu kajian, yang dibahas dalam ilmu filsafat, tentunya tak luput dari pertanyaan tersebut.

Implikasi dan kemungkinan pola jawaban dari pertanyaan di atas bisa beragam. Secara sederhana, bisa kita lihat dari apa yang telah dilakukan oleh para filsuf untuk kosmologi. Bisa pula, dengan menelusuri dan menelaah isi kajian, lalu mengkaitkannya dengan kecendrungan kajian dalam filsafat. Misalnya, sebagaimana filsafat, kosmologi juga berbicara tentang materi, waktu, atau universalalitas. Melalui kesamaan kajian ini, tentu perdebatan filsafat telah memberikan banyak kontribusi dalam kajian kosmologi.

Perkembangan pengetahuan eksperimentalis-empiris dalam kajian kealaman ternyata menjadi dilema tersendiri bagi kosmologi. Di satu-sisi itu bisa membantu ilmu-ilmu alam dalam memberikan bekal-bekal pemahaman tentang pengetahuan alam dengan sangat gamblang. Sehingga pada sisi lain, menguras kemungkinan kosmologi dalam menjelaskan alam dengan mengandalkan kemampuan reflektif dan spekulatif. Akibatnya ada pandangan bahwa filsafat alam hanya memberikan kepuasan atas hausnya pengetahuan bagi orang-orang masa lampau, dan tidak untuk sekarang. Bahkan P. C. W. Davies, yang telah banyak mengkaji kosmologi, menggelitik kosmologi dengan ucapannnya bahwa apa yang dilakukan oleh filsafat selama ribuan tahun tidak lebih daripada apa yang telah disumbangkan astronomi radio selama sepuluh tahun. Apakah sesuram itu posisi kosmologi?

Apa yang dikatakan diatas sebetulnya terkait dengan obyek formal dan obyek material kajian. Ini beberarti, kita juga musti membicarakan tentang objek kajian dan metode kajian kosmologi. Dalam arti luas, metode dapat dipahami sebagai cara berfikir menurut cara tertentu, yang menjamin hakikat ilmu pengetahuan yang berwatak sistematis-metodis. Dalam kosmologi, kita akan menemukan banyak model-mode pemikiran kosmologi dengan watak, orientasi, dan perspektifnya masing-masing. Menurut Anton Baker, dalam kosmologi filsafat, sekurang-kurangnya terdapat tiga metode yang penting, yakni metode kritis, metode fenomenologi, dan metode transendental.

Untuk melihat apakah kosmologi relefan menjadi bagian dalam kajian filsafat, tentu kita juga harus melihat kontribusi kosmologi dalam kajian umum filsafat. Dalam sistematika filsafat, kosmologi dekat dengan ontologi. Bila ontologi berbicara tentang prinsip-prinsip rasional tentang yang-ada, kosmologi berbicara tentang prinsip-prinsip yang-ada yang teratur. Keduanya sama-sama mencari struktur dan norma kesemestaan.

Dalam rangka itu, Andrew Van Melsen mencatat, setidaknya ada empat kemungkinan yang dapat dilakukan oleh kosmologi: sintesis hasil-hasil ilmu; refleksi filosofis tentang ilmu; analisis metode-metode ilmu; pendekatan keilsafatan terhadap alam. Di sini filsafat bisa memberikan pandangan, merefleksikan, dan mensintesiskan hasil-hasil yang telah dicapai oleh ilmu, bahkan koreksi terhadap kerangka metodis yang digunakan oleh ilmu itu sendiri. Sehingga dicapai pandangan dunia yang lebih komprehensif-substantif tentang Alam. [RIFQI MUHAMMAD]

Tulisan ketika pertama kali mengambil Mata Kuliah Kosmologi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s