Sejarah Imajinasi Lokalitas dalam Hikayat Soto

Hampir tiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang menjadi penanda-penanda kedaerahan. Hanya saja ada bebarapa jenis masakan yang dianggap khas di banyak daerah, salah satunya adalah soto. Perbedaan yang kentara dari pelbagai soto itu adalah sematan nama kota yang melekat dalam nama soto tersebut, misalnya Soto Sokaraja, Soto Soto Kudus, Soto Betawi, Soto Makassar, Soto Madura, Soto Padang dan lain sebagainya.

Klaim kekhasan atas produk budaya kerap berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya asali (origin), karenanya ia terbatas pada ruang (lokalitas). Makanan pun demikian. Ia merupakan produk interaksi budaya dalam konteks lokalitas tertentu, yang tiap daerah tentunya berbeda. Menarik disini adalah, bagaimana Soto bisa menjadi makanan khas di banyak daerah? Padahal antara satu daerah dengan daerah lain memiliki konteks budaya yang berbeda, yang tentu saja akan berpengaruh terhadap perbedaan produk-produk kebudayaannya.

Bila kita kategorikan, Soto adalah salah satu dari sedikit sajian berkuah yang ada di Indonesia, contoh lain misalnya bakso dan sup. Dalam pelbagai kajian antropologis, jenis masakan atau sajian yang berkuah semacam ini diduga berasal dari daratan Cina. Secara umum, produk makanan dalam kategori itu memiliki beberapa kesamaan, diantaranya: pola masakan yang berkuah; penggunaan mangkuk sebagai media penyajian; dan kesamaan-kesamaan lain dalam hal komposisi atau ransum makanan. Pelbagai ciri itu semakin menguatkan anggapan bahwa jenis masakan-masakan itu memiliki akar yang sama.

Tak mengherankan apabila dalam buku Nusa Jawa; Silang Budaya, Dennys Lombard menyebutkan bahwa Soto pada mulanya adalah Caudo, sebuah makanan asal Cina. Lalu, oleh lidah pribumi, lambat laun penyebutan Caudo kemudian berubah menjadi Soto—meski ada juga yang menyebutnya Coto (Makassar) dan Tauto (Pekalongan). Menurutnya, mula-mula makanan ini terkenal di daerah Semarang. Bertolak dari kota itu lah kemudian Soto mulai menyebar ke pelbagai daerah di Indonesia.

***
Hikayat Tionghoa di Indonesia bermula ketika kafilah besar asal Cina datang di Nusantara melalui pelabuhan-pelabuhan. Pada masa itu banyak kaum imigran, pedagang, dan pengelana dari berbagai daerah yang saling berinteraksi di kawasan Nusantara. Tak bisa di elak, akibatnya tingkat interaksi antar pelbagai kebudayaan di sekitar lokasi itu cukup tinggi. Sejak itulah banyak orang yang mulai melirik praktik dan produk budaya dari kebudayaan lain. Mencermati sesuatu yang terasa asing tentu menjadi ketertarikan tersendiri bagi orang-orang yang terlibat disana. Bagaimanapun, kehendak untuk mencoba Yang lain, terlebih bagi para pengembara dan pedagang, itu menjadi sebuah pengalaman dan keasikan. Kehendak itulah yang kemudian menyebabkan banyak orang dari pelbagai kebudayaan mulai mengadopsi produk keudayaan lain untuk di bawa pulang ke daerahnya masing-masing. Soto termasuk salah satu produk budaya yang diminati.

Meskipun demikian, Soto tak lantas kemudian diterima begitu saja oleh orang-orang pribumi di daerah lain. Sebab, menjadi makanan yang diterima, terlebih dianggap khas di suatu daerah, tentu bukan perjalanan yang singkat. Setiap kehadiran produk kebudayaan—entah dari luar atau dari dalam, pasti mengalami persinggungan-persinggungan dengan produk makanan yang sebelumnya telah ada. Dan dalam konteks persebaran makanan, ia juga musti berhadapan dengan kebiasaan selera masyarakat. Penyesuaian-penyesuaian dengan kebiasaan selera inilah yang menjadi prasyarat mutlak agar produk budaya bisa diterima oleh masyarakat. Karena selera semacam itu adalah—bisa dikatakan sebagai—kondisi ketidaksadaran-kultural yang dialami oleh masyarakat di masing-masing daerah. Kondisi ini, yang oleh Pierre Bourdiu disebut sebagai Habitus, terjadi karena sebuah pengaruh budaya dan terkristalkan dalam sejarah, sehingga secara tak sadar dianggap alamiah oleh semua orang. Habitus, dalam wujud apapun, terbentuk sebagai akibat dari proses interaksi dengan budaya-masyarakat dalam ruang dan wantu tertentu.

Atas dasar itulah proses kompromi dan penyesuaian pun musti terjadi. Proses kompromi-kompromi inilah yang kemudian berpengaruh besar terhadap perbedaan penyikapan atas produk budaya tertentu di antara berbagai daerah. Dalam konteks makanan Soto, misalnya, hal itu berpengaruh terhadap perbedaan penyajian Soto di masing-masing daerah. Sesuai dengan kebiasaan kebanyakan masyarakat Indonesia, misalnya, Soto pun dihidangkan dengan nasi. Ada pula yang diracik dengan ketupat seperti Coto Makassar, dan memakai mie untuk Soto Mie Bogor. Pun demikian juga dengan lauk-pauk dan racikan dagingnya, kalau kebanyakan Soto dilengkapi dengan daging ayam, Soto Makassar cenderung menggunakan daging sapi dan kebau. Tak heran bila kemudian muncul banyak bentuk varian masakan Soto yang menyebar di pelbagai daerah di Nusantara.

***
Meski Soto telah banyak mengalami pelokalan, namun unsur Cina tak begitu saja menghilang. Kompromi produk kebudayaan yang terjadi dalam kebudaayaan lain tak lantas kemudian menghilangkan ciri awal. Karena bagaimanapun, tidak ada—atau kalau pun ada amat jarang sekali—proses dialog kemudian sungguh-sungguh merubah produk awal. Masyarakat yang menerima produk kabudayaan lain pun, selain berhasrat untuk menyesuaikan produk itu dengan habitusnya, juga berusaha menjaga unsur-unsur awal agar tetap terjaga. Dugaan ini terbukti dengan penggunaan Mi atau Soun dan sambel taoco sebagai pelengkap hidangan Soto yang masih bisa kita lihat di pelbagai daerah. Unsur-unsur kebudayaan Cina juga tampak dari penggunaan mangkuk kecil dan sendok bebek—alat-alat yang sering digunakan sebagai alat makan sup di Cina. Ciri kesamaan lain juga bisa kita cermati, yang berlaku di antara semua Soto, menurut ahli kuliner, Tuti Soenardi, yakni bahwa soto pastilah ada kuah kaldunya dan bumbu dasar yang sama.

Lalu pertanyaannya, seberapa banyakkah kaum Tionghoa di Indonesia sehingga mereka bisa memiliki daya tawar dalam proses dialog produk budaya? Dalam bukunya yang berjudul Munculnya Elite Modern Indonesia, Robert van Neil mengungkap bahwa Orang Cina merupakan kelompok terbesar yang menghuni Nusantara diluar orang Indonesia. Pada tahun 1900, di pulau Jawa saja misalnya, jumlah mereka kira-kira mencapai 280.000 orang. Jumlah ini jauh diatas kelompok-kelompok pendatang lain, seperti Arab misalnya yang pada tahun yang sama hanya mencapai 18.000 orang saja. Namun demikian, meskipun keberadaan mereka sudah beratus-ratus tahun hidup secara turun-temurun dan tentunya beranak-pinak di Indonesia, mereka tetap berporos kepada negri mereka sebagai sumber kebudayaan mereka. Hal inilah yang menyebabkan proses penjagaan kebudayaan Cina di Indonesia tetap terjaga.

Selain faktor diatas, soal intensitas hubungan mereka dengan kaum pribumi dan ketertarikan antar aktor-aktor pembawa kabudayaan untuk saling mengimitasi, konteks persebaran makanan ini juga dipengaruhi oleh faktor lain. Sejak awal kedatangannya, kebanyakan warga Tionghoa adalah kaum pedagang. Identitas mereka sebagai pedagang tentu memiliki nilai lebih. Sebab profesi itu juga berpengaruh terhadap tingkat keseringan interaksi mereka dengan orang-orang pribumi. Jelas hal itu sangat menguntungkan karena dengan berposisi sebagai pedagang, mereka bisa leluasa bersinggungan dengan masyarakat-lokal. Proses dialog kebudayaan antera keduanya pun berlangsung tanpa sekat. Apalagi dalam sejarah Indonesia kaum Cina menempati stratifikasi kuasa-sosial perbatasan (middle men) dalam masyarakat, yang berada di antara kolonial dan pribumi. Posisi ini pun memegang peran yang besar atas kemudahan proses dialog budaya antara pribumi dan Cina.

***
Demikian proses dialog produk-produk kebudayaan Cina yang sangat panjang dan lintas konteks budaya itu pun dimudahkan dengan adanya beberapa hal tersebut. Dari penjabaran di atas, kita bisa melihat bahwa Soto merupakan produk makanan campuran yang dihidupi oleh berbagai macam tradisi. Penyebarannya banyak diwarnai oleh proses usaha tarik-ulur untuk saling menjaga, mengisi, dan mengimitasi. Bisa dikatakan, Soto adalah makanan yang terbentuk melalui kompromi-kompromi dari persinggungan antar kebudayaan. Sifat produk budaya hybrid semacam ini biasanya tidak dikungkung oleh politik identitas tertentu—sebagaimana gudeg di jogja misalnya, atau oleh kaidah-kaidah baku yang dikeluarkan oleh ortoritas pemegang kuasa identitas. Tulisan selanjutnya, secara spesifik, akan menghubungkan dinamika terjabar lebih lanjut. [Rifqi Muhammad]


Advertisements

2 thoughts on “Sejarah Imajinasi Lokalitas dalam Hikayat Soto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s