Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner

Sekitar dua bulan lalu, bersama beberapa teman, Saya bertandang ke salah satu warung makan khas Jepang di Jogja. Meski secara georgafis warung yang kira-kira berukuran 5 x 7 meter itu jelas jauh dari Jepang, tapi ia mampu menghadirkan Jepang. Mulai dari makanan, musik, tata ruang, perabot, sampai hiasan-hiasan, semua menguatkan imajinasi Jepang. Sepertinya sekat dan skala ruang memang bukan lagi menjadi halangan untuk saling mengadopsi.

Saat itu, ketika tengah makan, saya merasa ada Jepang dalam diri saya. Selain menikmati makanan dan mendengarkan alunan musik jepang, saya pun [seakan] bertingkah sebagaimana orang jepang melahap makanan: sedikit pelan; tidak ada obrolan selama dan seusai makan; tidak ada rokok-rokok dulu meski sebatang; dan seusai makan pun kami langsung pulang.

Mencocokkan kelakuan itu dengan imajinasi saya tentang jepang—yang tentu saja sangat dipengaruhi oleh film Doraemon, Dragon Ball, atau ninja Hatori—saya [merasa] saat itu saya men-Jepang. Meskipun memang tak sejelas itu sebetulnya. Kadang kabur. Kadang gamblang. Tak jarang saya pun berontak, menolak menjadi [mirip] Jepang. Semacam ada kompromi trans-identitas dalam diri saya. Ini barangkali yang disangkakan Arjun Appadurai, bahwa dalam proses persentuhan trans-budaya, selalu ada respon atau adaptasi lokalitas terhadap semua proyek luar. Pemaknaan ini jelas berbeda dengan logika linier globalisasi—tapi saya tak ingin membincangkan globalisasi disini.

***

Saat itu, ketika menjadi Jepang, ada ratapan tubuh yang saya bungkam. Saya sadar kalau makanan itu ditangkap sebagai benda asing oleh lidah. Saya juga merasa risih makan bersama dengan teman-teman tapi tidak mendengar guyonan. Tubuh pun beku. Apalagi tidak merokok dan berbincang seusai makan: rasanya benar-benar-gatal.

Namun saya yang seperti itu terkadang musti saya buang jauh. Yang terpikirkan adalah: bagaimana cara yang baik dan benar agar bisa menikmati makanan ini? ”Tentu dengan berusaha menjadi Jepang secara kaffah,” begitu kira-kira pikiran saya saat itu. Karenanya saya mengimitasi tata krama makan orang Jepang, meskipun secara serampangan. Singkat kata, saya tak ambil pusing dengan penolakan-penolakan. Saya kira teman-teman dan beberapa penjaja lain pun demikian. Mereka tampak [berusaha] khusyuk menikmatinya. Begitulah saya kira ihwal makanan dan ruang makan yang mengkonstruksi orang.

Di Yogyakarta banyak warung-resto yang menyediakan makanan-makanan khas, baik dari daerah Indonesia maupun dari mancanegara.. Siapapun bisa memilih. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian bisa mendapatkan makanan khas India, tanpa harus pergi ke Calcutta. Menikmati Sheesa sambil menyimak alunan instrumental timur tengah, tanpa bertolak ke Cairo. Atau menikmati sate ayam Madura tanpa perlu ke Bangkalan.

Konon, Yogyakarta adalah kota gudeg. Namun siapa meduga, kini ada juga orang yang datang ke Yogyakarta karena ingin menikmati ayam olahan dari California. Ada juga orang yang makan di angkringan dan warung gudek sebagai selingan, sebab biasanya ia makan di Mc Donald. Tuan dan Nyonya bisa melengkapi dengan kisah lainnya.

Atas dasar fragmen-faragmen itulah saya kira makanan bukan lagi sekadar soal mulut dan perut. Melainkan ia juga soal gaya dan identitas. Bagi orang yang hidup di Negara bekas jajahan, makanan juga bentuk dari persentuhan identitas dan imajinasi modernitas. Munculnya pelbagai resto kuliner bisa dipahami sebagai gelombang-gelombang yang hendak dikompromikan di setiap sudut kota. Gelombang yang saya maksud bukan soal globalisasi, melainkan sebuah kondisi yang penuh kompromi antara saya dan liyan.

Residu dari negosiasi-negosiasi dalam kondisi ini pun beragam. Bagi orang-orang-lokal, misalnya, makanan pizza bisa memunculkan kesan moderen. Karenanya, orang yang memakannya, bisa dianggap sebagai representasi dari jiwa-jiwa modern. Meski demikian, respon-sespon yang ada tentu tak melulu begitu. Hadirnya McDonald, misalnya, tak lantas membuat orang-lokal serempak menjadi kaum berkebudayaan barat ketika memakanya. Adaptasi tiap manusia-lokal inilah yang menyebabkan variasi atas respon kebudayaan.

Berdasarkan selera makanan, saya kira kita bisa menghamparkan proses terkoyaknya identitas manusia kolektif. Itulah kenapa kita kemudian kesulitan menentukan identitas tunggal kebudayaan antar orang-per-orang dalam bangsa ini. Kebudayaan yang ada itu kebudayaan trans-budaya. Barangkali ini bisa menunjukkan seberapa persentuhan imajinasi identitas dalam kebudayaan manusia Indonesia—kalau memang bisa dikatakan demikian.

Disinilah saya merasa kita bakal kesulitan pula mendefinisikan identitas kolektif manusia. Sebab jawabannya terlalu kabur. Sebab akhirnya yang kita temui adalah manusia mimesis, manusia yang tak bisa kita masukkan dalam kapling-kapling kategoris tertentu secara tegas. Lalu bagimana kita menjawab pertayaan who am I, who is other, and how is relation between I and other? [Rifqi Muhammad]


Advertisements

One thought on “Kolase Imagined Identity di Resto-resto Kuliner

  1. Pemaknaan yang cukup baik,walaupun awalnya saya sedikit tertawa geli. Sebuah kalimat yg serampangan tapi mensiratkan banyak arti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s