Pergolakan Puisi Gus Mus Tentang Lirboyo

; Apresiasi Puisi “Lirboyo, Kaifal Haal ?”

Menulis puisi model orang menulis surat dalam andai-andai, detil pula rekaman aspek penguat dan pilihan diksi yang tidak berorietasi pada matra, tetapi hasilnya jauh lebih mencengangkan, saya pikir Gus Mus—paggilan akrab KH Ahmad Musthofa Bisri—ini terlalu ber-skill. Kesan itu menggumuli saya seusai membaca sajak bertajuk “Lirboyo, Kaifal Haal ?” yang terhimpun dalam Antalogi Puisi Tadarus (Prima Pustaka Yogya, 1993).

“Lirboyo, Masihkah tebu-tebu berderet manis sepanjang jalan/ menyambut langkah gamang santri anyar menuju gerbang/ ataukah seperti dimana-mana/ digantikan bangunan-bangunan bergaya spanyolan/ dan pabrik-pabrik yang angkuh” demikian Gus Mus mengawali sajaknya melalui dialog ruang.

Lirboyo, pondok pesantren tradisional—sematan yang sudah kaprah digunakan untuk mengklasifikasi Pesatren—di Kediri, Jawa Timur, adalah salah satu tempat dimana Gus Mus menggunakan waktunya disana utuk belajar; merapal kitab, menyimak Kyai, dan mengilhami tradisi. Karenanya tak hanya soal agama yang bisa ditakik dari puisi yang ditulis di Rembang ini.

Menulis puisi ini, Gus Mus musti menarik kembali guratan-guratan ingatan. Ya, bagaimanapun ia harus menyimbolkan ingatan dalam secarik. Inilah barangkali yang dinamakan menghadirkan kembali koteks, untuk tidak mengatakan usaha meromantisasi. Ingatan antah berantah yang memercik kecil-kecil itu coba ditarik dalam rentang yang lebih nyata.

***

Membaca “Lirboyo, Kaifal Haal ?” saya dikonstruksi. Tiba-tiba saya menduga-duga, membayangkan, sembari merangkai-rangkai antara memori visual tentang pesantren dan rekaman visual saya tentang desa. Pada saat yang sama saya dilemparkan di kota; di ruang-ruang halte dan televisi. Saya kira Gus Mus sedang bercerita. Anehnya nuansa kisah tak sekuat paradoks-paradoksnya yang dihadirkan dari ruang berbeda. Tidak ada cerita tunggal disana, selain tumpang-tindih itu sendiri.

Saya menduga kegamangan itu ada sebagai sesuatu yang disegaja. Terlebih bagaimanapun Gus Mus tengah berjarak dari sebagian apa yang ingin dihadirkanya. Ia hedak membandingkan apa yang mengada disana waktu itu dan yang mengada disini saat ini; Ia teraleniasi. Bila Hans J. Morgenthau dan Ethel Person membagi keterasingan dalam dua kategori; keterasingan eksistensial dan keterasingan historis, saya kira puisi ini ditulis dalam momen keterasigan historis. Gus Mus tengah merespon terhadap hilangnya—atau perbedaannya, tepatnya—rumbai-rumbai bilik tempat dirinya berdiam.

Ada pertarungan peradaban dalam puisi bertajuk “Lirboyo, Kaifal Haal ?”. Ya, Gus Mus hendak menghadirkan makna-makna dalam bentuk binary opposition. Terasa sekali bagaimaa ia mempertentangkan antara yang tradisional dan yang modern, yang desa dan yang kota, atau, produk tradisi dan produk tekhnologi tinggi. Tak heran bila ia meyematkan representasi-representasi di setiap simpul pertetangan yang dihadirkan.

Salah satu wujud disokong dengan imaji tentang pesantren yang lazim diamini, sebagaimana banyak didiskripsikan oleh para akademisi, pengamat, dan peneliti dalam maupun luar negeri, yang kaprah diwakili oleh satu kata; tradisional. Secara sederhana konsepsi ini terbentuk karena pesantren umumnya dianggap memiliki tipologi yang sama, misalnya lembaganya selalu diasuh oleh kyai, atau ketaatan tinggi dari santri kepada kyai. Kontan, penghadiran Lirboyo, sebagai pesantren, mengambil peran yang besar dalam memperkuat puisi ini.

Dalam puisi ini kita akan melihat distingsi imajinasi dalam benak penyairnya. Pada satu sisi Gus Mus merekam wajah yang ia hadapi ketika masih mondok, Lirboyo tampak begitu gamblang. Bahkan secara jelas bisa kita lihat bagaimaa pola-pola rumit tradisi, detail geografis, dan ritus-ritus khusus yang bertahun-tahun dijalankan itu ditangkapnya sebagai ketetapan.

Namun dalam puisi ini ketetapan itu dihadirkan dengan Yang lain. Karenanya, meskipun Gus Mus hendak memastikan, Lirboyo akhirnya terbetuk dalam wujud yang samar. Lirboyo hadir dalam wujud tarik ulur antara proses dan idealitas. Ya, Gus Mus melukiskan apa yang dialaminya sebagai idealitas. Lalu ketika ia bergumul dalam dunia luar, ia merasa ada gelombang besar yang melingkupinya. Dan apakah ini terjadi juga pada Lirboyo, ia bertanya; Lirboyo, Kaifal Haal ?

Sebagaimana pembedaan hitam dan putih, dikotomi antara lokal dan global juga jamak diamini siapapun. Terpaksa dengan hukum inilah kita menentukan eksistensi sebagai sesuatu yang baik dan ideal, tak hanya penjual tempe, para folosof pun tampaknya begitu saja mengamini hukum tersebut. Konsekuensi dari hukum dikotomis, maka sesuatu yang (sudah) tidak ideal dianggap buruk. Dari penjabaran diatas, satu hal yang bisa kita amini bersama, keterlepasan sesuatu dari dimensi tertentu, dianggap sebagai suatu kondisi yang menakutkan. Meski demikian, tampaknya ketakutan toh tak beralasan, karena mustinya goncangan akan selalu ada.

***

Puisi Lirboyo, Kaifal Haal ? ini kiranya tak hanya menojol dalam tema, namun juga menarik untuk diresapi. Menonjol dalam tema karena menggambarkan pertarungan antara Yang Ada dan Yang Hadir. Gus Mus menggambarkan bagaimana misi-misi pemberadaban, globalisasi, dan modernitas telah mejamah segala sisi; tanpa ampun.

“Lirboyo, masihkah perdebatan pendalaman alam halaqah-halaqah musyawarah menghidupkan malam-malammu penuh semangat dan gairah? taukah seperti dimana-mana diskusi-diskusi sarat istilah tanpa kelanjutan inilai lebih bergengsi dan bergaya?”

Pesantren sebagai sebuah komunitas epistemik, sebagai komunitas lokal, dan sebagai sebuah tradisi, tengah dihadapkan pada sebuah tren yang menggejala. “Ataukah seperti dimana-mana”. Ungkapan yang selalu digunakannya itu jelas menggambarkan seragam dunia luar yang bakal atau sudah melanda pesantren.

Puisi ini juga menarik untuk diresapi karena merefleksikan proses dialektika sejarah yang tidak adil. Keutuhan, keseimbangan, dan harmoni, yang bertahun-tahun dihidupi pun tidak mendapatkan ruang gerak untuk berdialog. Bukti bahwa lokalitas menjadi sosok yang tidak memiliki kuasa bukan isapan jempol belaka. Tak ayal bila tidak ada konsep akulturasi, yang ada adalah hegemoni.

Dialektika sejarah yang digagas G.W.F. Hegel ternyata tidak konstan. Logika itu tidak berlaku dalam kategori-kategori ini. Tepatnya, kosteks negara dunia ketiga barangkali. Bagaimana tidak, dalam banyak kasus kita selalu dipilihkan. Sejenak dipahami seperti ini, puisi yang sebagian tampak datar ini akan terasa subversif.

Kaidah-kaidah estetika dan penekanan diksi puisi tak begitu saja ditaggalka Gus Mus. Gaya pengucapan puisi Gus Mus cenderung tidak banyak bunga-bunganya. Sajak-sajaknya sengaja tidak banyak dipermak supaya tampak molek dalam gaya pengucapan. Melainkan melalui kewajaran dan kesederhanaan berucap atau berbahasa; Puisi Gus Mus tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada.

Dengan kerangka yang demikian, bisa dipahami mengapa bahasa puisi Gus Mus selalu gamblang. Apakah ini menjadikan puisinya terasa kering, tawar atau klise. Tidak sama sekali, jawabnya. Meski langsung, tapi tidak tergesa-gesa. Tentang gaya yang demikian, Sutardji Calzoum Bachri, presiden penyair Indonesia, perah mengomentari: “beliau bukan penjaga taman kata-kata, melainkan penjaga dan pendamba kearifan”. Ia memilih kata yang tepat yang mesti ada dalam tiap karya syairya itu.

Puisi “Lirboyo, Kaifal Haal ?” ini dibuat saat ia berada di kediamanya, Rembang. Saya membayangkan Gus Mus duduk di ruang tengah ndalem seusai meyeduh kopi. Ia menenteng beberapa carik kertas, menduga-duga apa yang terjadi di Lirboyo, sembari merokok yang tentu saja agar tidak tegang. Saya menduga dia tengah dilanda kerinduan. Ia akhirnya berusaha menostalgia apa-apa yang ingin dikenangya. Saya kira demikian itulah proses kreatif penciptaan puisi “Lirboyo, Kaifal Haal ?” ini berjalan.

“Lirboyo, masihkah penghuni-penghunimu percaya pada percikan/ sawab-sawab mbah Manaf, mbah Marzuqi, dan mbah Mahrus rachimakumullah? / ataukah seperti dimana-mana itu tidak mempunyai arti apa-apa / kecuali bagi dikenang sesekali dalam upacara haul yang gegap gempita.”

Petikan sajak itu melukiskan ia getir. Gus Mus adalah Kyai. Sebelumnya, ia adalah santri. Tentunya ia memahami bagaimana keseriusan Kyai memandang santri. Ia juga mengerti mengapa santri sangat taat kepada Kyai. Karenanya ia juga memahami untuk apa ritual-ritual dan upacara yang berlangsung. Lagi pula relasinya degan pesantren sangat intim. Maka ketika orang luar sering berteriak, “kalian feodal, ritualmu tidak rasional”; ia geram. Dan dalam puisi inilah ia menumpahkan.

Dalam kancah sastra nasional, kepiawaiannya dalam membacakan puisi diperhitungkan seusai pementasan pertamanya pada 1987 dalam acara “Mubalig Baca Puisi” di Teater Arena, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sajak-sajak yang ia baca kemudian dihimpun dalam buku puisi pertamanya berjudul “Ohoi” (Pustaka Firdaus, 1991). Dan Antologi puisi Tadarus hadir dalam wujud buku, sebagai terbitan kedua setelah “Ohoi”. Ya, Gus Mus meroket, namun tetap santun dan arif, bukan saja dalam keseharian, namun pula bahkah dalam tiap puisinya[]

–Rifqi Muhammad

Advertisements

12 thoughts on “Pergolakan Puisi Gus Mus Tentang Lirboyo

  1. hmmm… jadi teringat puisi gus mus itu, juga teringat lirboyo. dan saya pun tergoda untuk bertanya, “lirboyo, kaifal hal?”

  2. lirboyo oh lirboyo…lirboyo pesantren…bagaimana kabar mbah idris, mbah war, gus kafabih, gus imam…dan bagaimana pula kabar Cak lis….
    salam kenal dr cah HMP en HMC M15…98-03

  3. kurindu kau ,lirboyo……………..
    dimana aku cari ilmu,penuh keberkahan……..
    ku ingin kesana………lirboyo oh lirboyo pesantrenku….

  4. terkadang ku melamun dan membayangkan seandainya aku slalu di dekatmu dan mengikis semua ke barokahanmu……………>mungkin aku skrang sudah menjadi orang yang paling beruntung di dunia dan akherat……………….lirboyo aku rindukau

  5. LirboyoKu…..kau inpirasi hidupKu…..rasanya Aku ingin kembali menjadi Santri yang rindu akan kerukunan….keharmonisan….jauh dari kebisingan Duniawi…..Kehidupan yang selalu mengharap ke Ridhoan Allah SWT….Mudah2an Apa yg pernah kudapat di LIRBOYO…menjadi Obat dalam HidupKu……”ada satu pesan yg disampai oleh KH. Khafabi Mahrus saat Sowan kpnya” JAGALAH SIFAT DAN SIKAP KESANTRIANMU

  6. saya orang N tapi ndak pernah mondok.
    Ngefans sama Kyai yang santun dan sejuk seperti beliau…
    Semoga Allah memberkahi umur beliau agar umat dapat mendapat banyak hikmah dan manfaat.

  7. saya orang NU tapi ndak pernah mondok.
    Ngefans sama Kyai yang santun dan sejuk seperti beliau…
    Semoga Allah memberkahi umur beliau agar umat dapat mendapat banyak hikmah dan manfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s