Tentang Cak Nur sebagai Gagasan

Justru saya menjadi dekat dengan Cak Nur saat mengakrabinya sebagai Idea. Bukan semata kala bergumul dengan pemikirannya.

Pengalaman dan ingatan yang berkesan tentu tak mudah lekang. Demikianlah kiranya saat tokoh besar itu merangsek dalam relung kesadaran saya. Kala itu, saat saya berumur sebelas tahun, pak lek yang tengah menempuh Perguruan Tinggi di Yogyakarta kebetulan sedang pulang. Laiknya anak-anak yang hidup di desa terpencil, mendengarkan cerita tentang hiruk pikuk kota dengan sebongkah keindahannya tentu menjadi dambaan. Maka wajar bila saya meminta pak lek untuk mengkisahkan dunia barunya.

Di tengah kelindan kekaguman akan surga kota, saya kemudian merasa tergelitik untuk bertanya tentang sesuatu yang saat itu saya anggap penting. “disana kalau ngaji dengan siapa?” dan “Pondoknya sebesar apa?”, tanyaku berturut-turut. Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Mengaji—dalam hal ini mendalami agama dengan panduan kyai—merupakan kewajiban tak tertulis bagi segenap warga di kampung kami. Lagi pula dari kecil sampai SMA, Pak Lek salalu mondok. Lalu dengan mantap ia menjawab, “nama kyai-nya Nurcholish Madjid, pondoknya besar, juga lengkap dengan puluhan ribu kitab”. Belakangan baru saya ketahui kalau pondok yang ia maksud ternyata perpustakaan kampus.

Karena merasa tak cukup, pertanyaan lain kembali saya lontarkan. Sederhana memang, sekadar untuk mengorek kehebatan Kyai itu. Akhirnya pertanyaan seputar kemampuan supranatural bertubi-tubi saya tumpahkan. Sebab bagi saya, aspek itulah yang menjadi parameter untuk menilai kualitas kehebatan Kyai. Meski agak aneh, kriteria macam itu lazim diamini anak-anak kecil di kampung ini. Bagi kami, logika penilaian itu sesuai dengan kisah Nabi yang bagi kami hebat karena punya mukjizat.

Tak lama Pak Lek mulai berucap, “beliau selalu terdepan, pemberani, bijaksana dan berpemikiran luas”. Kemudia ia lanjutkan dengan kalimat yang sambung mengambung. Bahkan tak ada waktu bagi saya untuk menyela. Seperti ada kedekatan tertentu, Pak Lek tampak lancar membuka lanskap pribadi Kyainya itu. Meskipun semua jawaban tidak menyinggung pertanyaan, saya tidak bisa memprotesnya. Sebab lamat-lamat saya merasa kalau Kyai Nurcholish memang tampak istimewa. Ia terbukti memiliki kehebatan yang tidak biasa. Sejak itu, parameter kehebatan kiyai yang saya amini lenyap.

Entahlah, sejujurnya saya sulit menjelasakan kenapa tiba-tiba saya mengamininya. Sebab faktor yang membuat saya mati kutu tidak lah kentara. Penjelasan pak lek bukan soal pemikiran yang mudah disebutkan. Kalaupun menyinggung tentang pemikiran, mungkin saya pun juga tidak akan paham. Yang jelas, penjelasan yang saya cerap menggarakkan roda imajinasi saya tentang sosok ideal kyai Nurchalish Madjid.

Sejak saat itu, bayang-bayang ideal sang Kyai mulai berseliweran dalam hati dan pikiran saya. Karena baru sebatas bayang-bayang yang lalu-lalang, terpaksa otak saya harus berputar-putar untuk menangkapnya. Tak mudah bagi saya menjelaskan. Kejadian itu begitu intim. Sampai-sampai pikiran saya terforsir, dan nurani saya gelisah. Meski sebatas untuk meraba, hati dan pikiran saya seakan tak punya kuasa. Sebab, bayang-bayang ideal itu kalau didekati tampak samar, namun bila dibiarkan akan menjadi nyata dan mengajak bicara. Ya, benar-benar menggelisahkan.

Seperti telah terhipnotis, sejak itu, membahas tentang Kyai Nurchalish menjadi hal yang paling mencerahkan. Sebab dengan demikian saya menjadi bisa mendalami dan mengenali dirinya. Hal itu terus berlanjut hingga duka melanda, yakni saat Pak Lek kembali ke Yogyakarta. Benar-benar tak siap rasanya menanggung imajinasi Kyai Nurcholish yang belum genap. Seakan menghadapi coba yang baru mendera, tanda tanya yang begitu perih nan dalam bertubi-tubi datang. Semuanya hanya terbiarkan mengambang. Gelap dan menyesakkan dada. Rasa pilu dan gundah yang tak terucapkan, menyeruak ke relung hati paling dalam. Ya, sebongkah kekosongan terus membayang dalam jiwa itu hanya saya pendam.

Rasa kangen dengan sang kyai kemudian terobati karena setengah tahun kemudian pak lek kembali pulang. Ibarat pertemuan terakhir sebelum ajal, kesempatan kedua itu tidak saya sia-siakan. Beberapa pecahan, lembaran, dan butiran bayang-bayang yang lama mengambang saya dekati lebih dalam. Sulit memang, tapi kini langkah untuk meraih pribadi ideal itu lebih terbantu.

Secara perlahan perkenalan saya dengan imaginasi pribadi Kyai Nurchalis kian dekat. Saya amat bahagia kala pak lek mengatakan kalau abah saya juga mengenal kyai itu. Setelah saya klarifikasi, ternyata benar, abah mengenalnya saat masih aktif di salah satu organsasi pergerakan. Dikala spirit kepribadian kyai Nurchalish sudah terasa sangat dekat, dan bahkan selalu menemani dalam setiap langkah saya, pak lek melontarkan ucapan yang mengagetkan.

Sebelum pulang pak lek mengakui kalau ia tidak pernah mondok. Nama Nurchalis Madjid yang mengagumkan itu bukanlah kyainya. Pak lek mengenal beliau dari perpustakaan dan diskusi dengan teman-temannya di perpustakaan. Saya menjadi paham, pak lek pernah mengatakan kalau Nurchalis Madjid adalah pemikir Islam Indonesia dan banyak menulis buku. Tak salah, buku-buku itulah pak lek mengenal Nurchalish Madjid. Meski demikian, harus saya akui, tanpa Pak Lek saya tidak akan sungguh-sungguh bisa dekat dengan Kyai Nurchalish.

Pada hari-hari selanjutnya, saya lebih banyak membahas tokoh tersebut dengan abah. Dari beliaulah saya mengetahui panggilan akrab Nurchalis Madjid. Kalau dulu saya selalu menyebutnya dengan panggilan Kyai Nurchalish, sejak dengan abah, saya lebih banyak menggunakan nama Cak Nur. Eksistensi Cak Nur dalam dunia idea saya menjadi kian kokoh.

Setahun setelah mengkonstruksi idea tentang Cak Nur, Saya baru berkesempatan untuk membaca pemikiranya. Beberarapa buku tentangnya saya adalah oleh-oleh dari Pak Lek. Tentu tak mudah bagiku saat itu untuk mendirikan bangunan pemikiran Cak Nur dalam pikiranku. Namun lamat-lamat kendala itu bisa teratasi. Namun sayang, pada tahun-tahun terakhir, setelah banyak berkesempatan menggeluti pemikiran Cak Nur, ia menjadi tak sehangat lagi. Dulu saat mengenalnya dalam selaksa ruang idea, kedekatan itu terasa sangat intim. Namun kala menggauli pemikirannya secara tidak sadar saya menempatkannya dalam ruang pikiran yang kaku.

Kini, hampir tiga tahun Cak Nur telah tiada. Betapa selama ini, orang jamak menekankan kelebihan pribadi Cak Nur pada produksi mega gagasannya. Meski tak sepenuhnya salah, rasanya tidak tepat bila hanya menempatkan Cak Nur pada aras pikiran (mind). Tempat itu terlalu dingin untuk pribadi Cak Nur yang terlampau luas nan hangat. Itulah mengapa saya sengaja tidak membahas gagasan dan pemikirannya. Namun bukan berarti saya bermaksud membangun distingsi antara keduanya. Bagi saya, ia adalah inspirator yang melampaui sekat pikiran dan hati. Agaknya, meneguk spirit yang terpancar dari olah refleksi kepribadiannya akan menjadi jauh lebih kaya ketimbang hanya mencerap gagasannya dari lembar-lembar buku. Dengan pandangan demikian, saya merasa lebih dekat dengannya bila menjadikan Cak Nur sebagai idea tentang insan ideal. [Rifqi Muhammad]

* Tulisan ini mulanya ditujukan untuk lomba penulisan kisah personal tentang Nurcholish Madjid.


Advertisements

11 thoughts on “Tentang Cak Nur sebagai Gagasan

  1. hai suluh, sebaiknya tulisan seganas ini kita masukkan dalam jurnal kacamata aja gimana, “edisi khusus”..

  2. Suluh dan najib, penyakitmu kambuh; terimakasih sarannya pak kusdiyono; Salam juga mbak Khuzaiyah, industri kreatif memang perlu digalakkan; Gita, mbok kamu buat lomba tentang Brigita Isabela; kid, aku hanya berpikir bagaimana tulisan ini bisa bersuara, tidak lebih, meski akhirnya tidak demikian, kurasa.

  3. kenapa dea, kurasa memang lebih mending daripada yang lalu, yang berulang-ulang aku tulis, yang aku tekuni ketika merangkak menulis; ini ibu budi. ha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s