Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad

Judul : Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo, Pidato Otikritik Di Volksraad 1927-1939 / Penulis : Azizah Etek, Mursyid A.M., dan Arfan B.R. / Penerbit : LKiS, Yogyakarta / Cetakan : 1, Mei, 2008 / Tebal : xvi + 512 halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad

Selama ini kita menganggap orator berbahasa Indonesia pertama pada sidang Volksraad adalah Mohammad Husni Thamrin(1938). Namun, tampaknya gelar “pertama” itu perlu dipertimbangkan ulang. Sebab, jauh sebelum Thamrin, pada 1927, Jahja Datoek Kajo telah mengawali langkah besar itu. Sejak menduduki Volksraad, Jahja selalu lantang meggunakan bahasa Indonesia setiap kali berpidato.

Volksraad merupakan majelis Dewan Rakyat yang dibentuk oleh Belanda. Dewan ini beranggotakan orang Belanda dan pihak pribumi. Dengan pembetukan Volksraad, harapannya orang-orang pribumi bisa berperan dalam jajaran pemerintahan. Sejak awal pendirian, bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi resmi adalah bahasa Belanda. Tak heran bila bahasa itulah yang selalu akrab terdengar pada tiap sidang-sidang Volksraad.

Dalam institusi Dewan Rakyat Volksraad, aspek bahasa bukanlah persoalan rutinitas keseharian yang remeh temeh. Sebab, bahasa merupakan salah satu alat kolonial untuk menghegemoni kaum inlander. Melalui bahasa lah Belanda menjaga cakar kekuasaannya di bangku pemerintahan. Sehingga, dalam sidang Volksraad, bahasa menjadi aspek yang amat sensitif bila diusik. Tak heran bila akhirnya seorang Jahja mengunduh beragam tanggapan, mulai sindiran bernada satire, teguran, peringatan, sampai pengucilan. Kondisi itu terus berlanjut selama Jahja berkesempatan duduk di Volksraad. Baru setelah Thamrin meneguhkan kembali posisi bahasa Indonesia, bahasa ini mulai awam digunakan dalam sidang Volksraad.

Jahja Datoek Kajo lahir di tanah Minang, Koto Gadang, pada 1 September 1874. Ia menghabiskan masa kecil di tanah kelahirannya. Namun demikian, jangkauan lokal itu tak membatasi cakrawala pengetahuannya. Sejak dulu, Sumatra Barat termasuk daerah yang memiliki kebudayaan amat maju. Dalam buku Booming Surat Kabar di Sumatra S Westkust karya Hendra Naldi disebutkan, bahwa sekitar periode 1900-an, setidaknya ada 53 media pers yang berkembang di daerah tersebut. Tak heran bila Koto Gadang banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional, diantaranya Haji Agus Salim, Sutan Syahrir, Muhammad Hatta, Rohana Kudus, Rohana Salim, dan Jahja sediri.

Selama perjalanan hidupnya, Jahja termasuk orang yang ulet mengukir prestasi. Ia sering menancapkan paku perubahan dimana ia berkiprah. Dalam buku Koto Gadang Masa Kolonial, Azizah Etak mengatakan bahwa Jahja lah yang menggerakkan roda kemajuan Koto Gadang. Ia menciptakan tanah subur bagi benih tokoh-tokoh unggul Indonesia. Langkah Jahja untuk mengawali penggunaan Bahasa Indonesia dalam Volksraad juga merupakan salah satu bentuk perubahan yang ia rintis.

Kisah pergumulan Jahja di bangku birokrasi kolonial dimulai saat ia magang di kantor Residen Padang Darat. Karena dianggap “berkondite” baik, kariernya semakin menanjak. Dari sekadar juru tulis (1892) melompat menjadi Tuanku Laras IV Koto (1895) dengan gelar Datoek Kajo. Bahkan tahun 1913, Jahja ditugaskan merangkap jabatan sebagai Kepala Laras Banuhampu. Pada putaran selanjutnya, ia sempat menjabat sebagai demang di Bukit Tinggi (1914-1915), Payakumbuh (1915-1918), dan Padang Panjang (1919-1928). Puncak perjalanan karier membawanya masuk dalam jajaran penghuni Volksraad untuk periode 1927-1931. Perjuangan Jahja dilembaga terakhir inilah yang diungkap tuntas dalam buku Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo, Pidato Otikritik Di Volksraad 1927-1939 ini.

Cerita keberanian Jahja bukanlah peristiwa sepele yang tak masalah bila dilupakan. Sebab, bila menengok semboyan “bahasa menunjukkan bangsa”, maka peran Jahja pada bagsa jelas teramat besar. Menggunakan bahasa Indonesia pada sidang Volksraad, ibarat meletakkan benih identitas bangsa dihamparan tanah kolonial yang kering nan terjal. Berkat hasil usaha Jahja lah Thamrin bisa leluasa menggunakan bahasa Indonesia di forum Volksraad. Sayangnya, penghargaan bangsa terhadap Jahja hanya terdengar sayup-sayup. Hingga kini nama Jahja Datoek Kajo masih jarang ditemui dalam kurikulum pelajaran sejarah di negeri berbahasa Indonesia ini. Padahal, megupayakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, sama halnya meletakkan batu pijakan keindonesiaan.

Bangsa Indonesia selama ini terlampau kerap melupakan usaha-usaha perjuangan keindonesiaan di luar gegap-gempita perang dan diplomasi akbar. Tengoklah, tak banyak masyarakat yang mengenal Tirto Adhi Soerjo(1908) dengan Medan Prijaji-nya, padahal ia turut memperjuangkan keindonesiaan melalui media pers. Contoh lain, misalnya, tak banyak pula yang mengenal pribadi Mpu Prapanca, sang pencetus “Bhineka Tunggal Eka”. Padahal, kalimat itulah yang melegitimasi ikatan kesadaran kita untuk berbangsa. Keadaan inilah yang disesalkan Syafii Maarif, menurutnya, kita kerap melewatkan pernik-pernik atau fragmen-fragmen kecil dalam mozaik sejarah. Padahal tak jarang peristiwa-peristiwa yag demikian juga turut mempengaruhi pembentukan bangsa.

Berangkat dari hal tersebut, perjuangan Jahja menjadi sesuatu yang menarik dan mendesak untuk dikaji kembali. Bagaimaapun, cerita Jahja turut mewarnai hamparan sejarah yang penuh perjuangan. Ia menempatkan martabat bahasa Indonesia pada aras yang tinggi dan vital dilingkungan Volksraad. Bagi jahja, selain sebagai perantara gagasan, bahasa adalah juga soal martabat, harga diri, identitas, dan kebanggaan terhadap tanah air. Pada titik inilah peran besar Jahja Datoek Kajo tergurat. Ia melepaskan bangsa Indonesia dari unsur-unsur kebudayaan Belanda yang telah ditancapkan selama ratusan tahun.

Melalui buku ini, secara gamblang Azizah Etek, Mursyid A.M., dan Arfan B.R mengungkap usaha-usaha Jahja untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan formal pemerintahan. Konsistensi Sang Demang Jahja Datoek Kajo untuk terus menggunakan bahasa Indonesia amat terasa. Ia menggunakan bahasa ini sebagai alat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, kritik kebijakan, dan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial. Sampai-sampai, koran-koran pribumi menyebutnya sebagai “Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad”.


Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo: Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo: Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939 by Azizah Etek

My rating: 3 of 5 stars
View all my reviews

Advertisements

One thought on “Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s