Dosen Bicara Ngalor-ngidul

(Naskah ini dimuat di Harian Suara Merdeka, 3 Mei 2008)

Posisi dosen sebagai ujung tombak proses pendidikan sangat menentukan mutu Perguruan Tinggi. Tanggung jawab besar itu mesti dibarengi dengan kualitas keilmuan dan formulasi kompetensi mengajar yang profesional. Harapannya, ia dapat meningkatkan keilmuan mahasiswa tanpa menanggalkan prinsip student center learning. Selain itu, parameter keberhasilan dosen dan kualitas pendidikan tidak bisa sebatas pada hasil ujian akhir (aspek kognitif), namun juga peningkatan kualitas afektif mahasiswa.

Sayangnya, tak banyak dosen yang mengaktualisasikan formulasi tersebut. Aspek kognitif terlalu diutamakan. Buktinya, metode ceramah selalu jadi andalan dalam mengajar. Pada titik ini, seakan dosen adalah pusat dan satu-satunya sumber informasi yang bisa didapat mahasiswa. Ironisnya, mahasiswa juga tenang, bak botol kosong yang pasrah diisi. Celakanya, stok informasi dosen tidak rutin di-upgrade. Kondisi makin parah bila muncul arogansi intelektual, merasa terpandai, paling benar, dan tak perlu belajar lagi.

Seharusnya mahasiswa bersikap kritis dengan fenomena ini. Terlebih menghadapi dosen yang perbendaharaan ilmunya lemah; tak siap dengan materi; atau cuma bercerita ngalor-ngidul di luar materi. Demikian pula dengan dosen yang hanya serius ceramah materi. Kuliah mereka seperti ’dongeng’ diktat yang hanya memancing rasa bosan.

Untuk meningkatkan kualitas pengajaran, dosen perlu memperbaiki sistem kegiatan belajar-mengajar (KBM). Parameter ideal kinerja dosen harus berdasarkan peningkatan keilmuan (kognitif) dan kualitas personal (afektif) yang seimbang. Tak bisa timpang. Hal ini juga sesuai dengan konsep pendidikan orang dewasa Paulo Freire (andragogi).

Kualitas personal yang dimaksud mencakup nilai disiplin, tekun, inisiatif, berani berpendapat, mandiri, kerja sama, dan sopan santun (etika). Dosen ideal juga mampu memotivasi dan memahami keadaan setiap mahasiswanya. Sebagainana ungkapan Ignas Kleden, tugas pendidik atau pengajar selain memberi pengetahuan dan keterampilan, juga meningkatkan kemampuan belajar.

Rifqi Muhammad, Mahasiswa Ilmu Filsafat UGM


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s