Penyimpangan Pemimpin Agama

Judul Buku : Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler / Penulis : John Cornwell / Penerbit : Beranda, Yogyakarta / Cetakan : Pertama, 2008 / Tebal : xxxi + 520 Halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad (Koran Jakarta tanggal 5 juli 2008.)

Dalam setiap agama, pemuka agama menjadi segolongan orang yang memiliki otoritas untuk mengawal agama. Bulir-bulir kehormatan berpendar dalam aras pribadinya yang penuh kharisma. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit para agamawan yang memanfaatkan kepercayaan umatnya untuk melegitimasi kepentingan pribadi. Meski penyakit ini menjangkit disemua agama, namun tidak semua umat pemeluk agama menyadarinya. Agaknya, mereka belum siap dengan kabar-kabar semacam itu. Tidak heran apabila beberapa kecacatan para pendahulu agama yang kini mulai menyeruak sempat menggegerkan para umatnya.

Tragedi-tragedi di lingkungan orang-orang suci tampaknya selalu tragis untuk ditulis. Jelas fenomena ini akan menjadi batu yang menandung keimanan para pemeluk agama. Tak bisa di hindari, fakta sejarah negatif ini tentu menyisakan kegetiran di kalangan umat. Itulah kenapa, cerita kehidupan orang-orang “langit” ini akan selalu dihantui oleh ironi-ironi terselubung. Demikianlah kiranya kesan yang muncul setelah buku bertajuk Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler beredar.

Kini, kisah kehidupan para Paus lamat-lamat menjadi sorotan publik. Utamanya setelah muncul buku yang membongkar penyimpangan seksual para Paus karya Nigel Cawthorne. Sejak itu, kalangan Paus mulai medapat pandangan negatif. Kesan serupa juga muncul kala membaca buku ini. Paus sebagai representasi orang-orang suci dan sebagai simbol moralitas akhirnya terjerat dengan kisah-kisah yang menjatuhkan moralitas. Kali ini, bentuk-bentuk destruksi moral yang terkuak adalah diskriminasi rasial.

Buku ini menyoroti kehidupan Eugenio Pacelli, Paus Pius XII yang lahir di Roma pada 2 Maret 1876. Gelar suci yang ia terima, meninggal dengan nama yang harum, lengkap dengan latar belakang keluarga yang baik, ternyata saat ini meyisakan banyak kontroversi, terutama kajian mengenai kepemimpinannya. Ia kerap mengeluarkan kebijakan-kebijakan konspiratif bernuansa rasial. Akan tetapi, karena selalu berlindung di bawah payung otoritas gereja, maka lengkah kelamnya selalu terdiam.

Jauh sebelum Pacelli lahir, peramal perancis bernama Nostradamus (1503-1566) sudah meramalkan akan kemunculan seorang Paus yang sangat membahayakan. Ramalan yang ditulis dalam bentuk syair ini tertera dalam buku Les Propheties yang diterbitkan di Lyon pada 1555. Dalam ramalan tersebut dituliskan bahwa paus ini tidak hanya berbahaya bagi umat Kristiani tetapi juga bagi masa depan umat manusia secara umum. Ternyata Nostradamus bukan peramal ingusan. Ramalannya benar-benar terbukti.

Kisah kelam Eugenio Pacelli dimulai ketika ia menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan. Saat itu, pada 1914, ia menandatangani perjanjian Konkordat Serbia. Dengan perjanjian tersebut, Vatikan secara tidak langsung memberi peluang kepada Serbia untuk melakukan pencabutan hak-hak protektorat Kekaisaran Austro-Hungaria atas kantong-kantong Katolik yang berada di wilayah Serbia. Lebih jauh, perjanjian ini berakibat meningkatnya ketegangan yang memicu Perang Dunia I.

Pada perkembangan lebih lanjut, cerita kelam Pacelli kian bertambah. Utamanya setelah bersama Adolf Hitler menandatangani sebuah Konkordat (1933) yang menjadi pemicu munculnya konfrontasi berbau rasial. Ternyata benar, perjajian Pacelli dengan Hitler melahirkan tragedi besar dunia. Konkordat inilah mengawali pembantaian oleh Nazi Jerman, pimpinan Hitler, terhadap jutaan warga keturunan Yahudi di berbagai negara Eropa semasa Perang Dunia II. Peristiwa ini sering disebut dengan tragedi Holocaust.

Berdasarkan catatan historis, antipati Kristen pada orang-orang Yahudi telah lama muncul. Sebab, orang-orang Yahudi lah yang telah membunuh Yesus Kristus. Berangkat dari fakta tersebut, Pacelli membenarkan apa yang dilakukan oleh Hitler. Saat itu, agar Holocaust tidak menjadi keputusan yang kontroversial, Pacelli mengatakan bahwa negoisasi Konkordat-nya dengan Hitler merupakan upaya untuk membumikan perdamaian. Tujuan lainnya adalah mempererat hubungan antara Istana Kepausan dan Jerman. Tampaknya Hitler pun benar-benar memaksimalkan peluang ini. Apa yang dilakukan Hitler mirip dengan Soeharto. Untuk menyembunyikan kekejiannya, ia diam-diam melakukan pencekalan terhadap beberapa pihak maupun institusi yang berpotensi akan menentang kebijakannya.

Sepanjang masa jabatannya, tindakan Pacelli yang menggunakan lembaga Kepausan sebagai legitimasi dideskripsikan sacara kritis dalam buku ini. Termasuk bagaimana usaha pacelli dalam menjaga track record-nya sebagi Paus. Ya, pacelli memang sosok yang cerdik, ulet, dan piawai menggunakan kesempatan. Berkat kemampuannya itu, ia berhasil melindungi kisah dari sejarah kelamnya sampai akhir hayat. Dengan demikian, diusia tuanya, Pacelli meraih gelar sebagai orang bijak dan orang suci, lengkap dengan reputasi yang gemilang.

Namun demikian, setelah lama terdiam, akhirnya narasi besar Pacelli terbongkar. Akibatnya, nama besar Pacelli yang pernah terukir tidak lagi menjadi ikon yang dibanggakan. Pada kasus ini, Pacelli menanggalkan kasih Kristiani yang seharusnya selalu dijadikan sebagai pengangan. Secara gamblang fenomena ini dikuak tuntas oleh Cornwell dalam buku ini.

Cerita tentang Pacelli menambah daftar panjang tragedi-tragedi besar dalam lingkaran suci agama. Memang harus diakui, tragedi kemanusiaan akan selalu muncul dalam narasi perkembangan agama-agama di dunia. Dalam salah satu bukunya, Karen Amstrong mengatakan bahwa sejarah agama tak bisa lepas dari pertumpahan darah dan kepentingan pribadi pemuka agama. Kini, setiap para pemeluk agama bertaggungjawab memulihkan cerita-cerita tersebut dengan menjaga dan megamalkan nilai-nilai moral yang ada pada masing-masing agamaya.

 


Judul Buku : Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler / Penulis : John Cornwell / Penerbit : Beranda, Yogyakarta / Cetakan : Pertama, 2008 / Tebal : xxxi + 520 Halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad (Koran Jakarta tanggal 5 juli 2008.)

Dalam setiap agama, pemuka agama menjadi segolongan orang yang memiliki otoritas untuk mengawal agama. Bulir-bulir kehormatan berpendar dalam aras pribadinya yang penuh kharisma. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit para agamawan yang memanfaatkan kepercayaan umatnya untuk melegitimasi kepentingan pribadi. Meski penyakit ini menjangkit disemua agama, namun tidak semua umat pemeluk agama menyadarinya. Agaknya, mereka belum siap dengan kabar-kabar semacam itu. Tidak heran apabila beberapa kecacatan para pendahulu agama yang kini mulai menyeruak sempat menggegerkan para umatnya.

https://rifqiblog.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

Tragedi-tragedi di lingkungan orang-orang suci tampaknya selalu tragis untuk ditulis. Jelas fenomena ini akan menjadi batu yang menandung keimanan para pemeluk agama. Tak bisa di hindari, fakta sejarah negatif ini tentu menyisakan kegetiran di kalangan umat. Itulah kenapa, cerita kehidupan orang-orang “langit” ini akan selalu dihantui oleh ironi-ironi terselubung. Demikianlah kiranya kesan yang muncul setelah buku bertajuk Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler beredar.

Kini, kisah kehidupan para Paus lamat-lamat menjadi sorotan publik. Utamanya setelah muncul buku yang membongkar penyimpangan seksual para Paus karya Nigel Cawthorne. Sejak itu, kalangan Paus mulai medapat pandangan negatif. Kesan serupa juga muncul kala membaca buku ini. Paus sebagai representasi orang-orang suci dan sebagai simbol moralitas akhirnya terjerat dengan kisah-kisah yang menjatuhkan moralitas. Kali ini, bentuk-bentuk destruksi moral yang terkuak adalah diskriminasi rasial.

Buku ini menyoroti kehidupan Eugenio Pacelli, Paus Pius XII yang lahir di Roma pada 2 Maret 1876. Gelar suci yang ia terima, meninggal dengan nama yang harum, lengkap dengan latar belakang keluarga yang baik, ternyata saat ini meyisakan banyak kontroversi, terutama kajian mengenai kepemimpinannya. Ia kerap mengeluarkan kebijakan-kebijakan konspiratif bernuansa rasial. Akan tetapi, karena selalu berlindung di bawah payung otoritas gereja, maka lengkah kelamnya selalu terdiam.

Jauh sebelum Pacelli lahir, peramal perancis bernama Nostradamus (1503-1566) sudah meramalkan akan kemunculan seorang Paus yang sangat membahayakan. Ramalan yang ditulis dalam bentuk syair ini tertera dalam buku Les Propheties yang diterbitkan di Lyon pada 1555. Dalam ramalan tersebut dituliskan bahwa paus ini tidak hanya berbahaya bagi umat Kristiani tetapi juga bagi masa depan umat manusia secara umum. Ternyata Nostradamus bukan peramal ingusan. Ramalannya benar-benar terbukti.

Kisah kelam Eugenio Pacelli dimulai ketika ia menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan. Saat itu, pada 1914, ia menandatangani perjanjian Konkordat Serbia. Dengan perjanjian tersebut, Vatikan secara tidak langsung memberi peluang kepada Serbia untuk melakukan pencabutan hak-hak protektorat Kekaisaran Austro-Hungaria atas kantong-kantong Katolik yang berada di wilayah Serbia. Lebih jauh, perjanjian ini berakibat meningkatnya ketegangan yang memicu Perang Dunia I.


Pada perkembangan lebih lanjut, cerita kelam Pacelli kian bertambah. Utamanya setelah bersama Adolf Hitler menandatangani sebuah Konkordat (1933) yang menjadi pemicu munculnya konfrontasi berbau rasial. Ternyata benar, perjajian Pacelli dengan Hitler melahirkan tragedi besar dunia. Konkordat inilah mengawali pembantaian oleh Nazi Jerman, pimpinan Hitler, terhadap jutaan warga keturunan Yahudi di berbagai negara Eropa semasa Perang Dunia II. Peristiwa ini sering disebut dengan tragedi Holocaust.

Berdasarkan catatan historis, antipati Kristen pada orang-orang Yahudi telah lama muncul. Sebab, orang-orang Yahudi lah yang telah membunuh Yesus Kristus. Berangkat dari fakta tersebut, Pacelli membenarkan apa yang dilakukan oleh Hitler. Saat itu, agar Holocaust tidak menjadi keputusan yang kontroversial, Pacelli mengatakan bahwa negoisasi Konkordat-nya dengan Hitler merupakan upaya untuk membumikan perdamaian. Tujuan lainnya adalah mempererat hubungan antara Istana Kepausan dan Jerman. Tampaknya Hitler pun benar-benar memaksimalkan peluang ini. Apa yang dilakukan Hitler mirip dengan Soeharto. Untuk menyembunyikan kekejiannya, ia diam-diam melakukan pencekalan terhadap beberapa pihak maupun institusi yang berpotensi akan menentang kebijakannya.


Sepanjang masa jabatannya, tindakan Pacelli yang menggunakan lembaga Kepausan sebagai legitimasi dideskripsikan sacara kritis dalam buku ini. Termasuk bagaimana usaha pacelli dalam menjaga track record-nya sebagi Paus. Ya, pacelli memang sosok yang cerdik, ulet, dan piawai menggunakan kesempatan. Berkat kemampuannya itu, ia berhasil melindungi kisah dari sejarah kelamnya sampai akhir hayat. Dengan demikian, diusia tuanya, Pacelli meraih gelar sebagai orang bijak dan orang suci, lengkap dengan reputasi yang gemilang.

Namun demikian, setelah lama terdiam, akhirnya narasi besar Pacelli terbongkar. Akibatnya, nama besar Pacelli yang pernah terukir tidak lagi menjadi ikon yang dibanggakan. Pada kasus ini, Pacelli menanggalkan kasih Kristiani yang seharusnya selalu dijadikan sebagai pengangan. Secara gamblang fenomena ini dikuak tuntas oleh Cornwell dalam buku ini.

Cerita tentang Pacelli menambah daftar panjang tragedi-tragedi besar dalam lingkaran suci agama. Memang harus diakui, tragedi kemanusiaan akan selalu muncul dalam narasi perkembangan agama-agama di dunia. Dalam salah satu bukunya, Karen Amstrong mengatakan bahwa sejarah agama tak bisa lepas dari pertumpahan darah dan kepentingan pribadi pemuka agama. Kini, setiap para pemeluk agama bertaggungjawab memulihkan cerita-cerita tersebut dengan menjaga dan megamalkan nilai-nilai moral yang ada pada masing-masing agamaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s