Silang Kuasa Seksualitas

Seksualitas tergolong studi multidesipliner. Sebuah formula kajian terberat yang pernah saya kenal, tentu urutan ketiga setelah belajar meraih surga dan menjadi anak sholeh. Untuk membahasnya, kita musti [sok] kenal dengan dekonstruksi, feminisme, dan poskolonial. Kenapa? Keempat tema itu berjalin kelindan. Seksualitas berangkat dari wacana perempuan, lalu menjalar diskursus gender, karena wilayah ini kental dengan feminisme, mau tak mau ia harus merangsek kelamin dekonstruksi. Sementara, dekonstruksi tak terpisah dengan varian-varian koloni posmodern, salah satunya postkolonial. Celakalah, tidak mudah berkenalan dengan monster-monster itu.

Terpaksa jemari berhenti mengetik. Saat tangan ngilu, otak mengidap pusing dan paragraf tersumbat, obat yang paling tepat adalah musik. Ku panggil Mulan Kwok alias Mulan Jameela untuk berjoget dan mendengdangkan ‘Mahluk Tuhan yang Paling Seksi’. Kontan, otak langsung sehat kala mendengar ‘sajak yang menggelitik’. Bagaimana tidak, ‘Tuhan’ dan ‘seks’ disatukan dalam satu kalimat. Belum lagi alunan tembangnya dihiasi eksotisme atribut oriental arab [timur] dan belly dance­-nya yang sempurna menampilkan seksualitas.

Tampaknya, seakan wanita memang menempati kodratnya sendiri. Mereka memiliki kelihaian dalam menampilkan kulaian lembut tubuhnya yang sewaktu-waktu bisa dikonsumsi kaum adam. Hampir tak ada lelaki yang bergoyang laiknya Dewi Persik dan Inul Daratista. Apalagi, meliuk-liuk dengan pakaian yang minimalis. Padahal, kedua jenis makhluk ini memiliki modal yang sama untuk saling memamerkan modal tubuhnya untuk mendapat sematan Sensual.

Dalam bukunya, Ania Loamba berucap, pada dasarnya sensualitas merupakan gairah dasar terhadap citra atas yang lain. Bagi Barat, timur menimbulkan pengalaman seksual yang baru. Apalagi wanita timur dianggap memiliki gambaran kesetiaan, ketidakberdayaan, patuh dan mudah dirayu.

Konstruksi yang terbentuk di dunia menujuk lelaki sebagai subyek yang “mengendalikan” atau “menggarap” perempuan sebagai obyek seksualnya. Penaklukan akan tanah jajahan juga membawa fantasi bagi laki-laki Eropa. Hingga kini, bercinta dengan wanita timur selalu menjadi bagian dari kisah-kisah kolonial. Tak heran kalau lelaki eropa keranjingan dengan penyanyi-penyayi keturunan timur. Misalnya pada Shakira, dara seksi belsteran Lebanon (Arab) dan Colombia (Amerika Selatan). Andai pernah menonton tubuh Mulan jarak dekat, mungkin imaginasi saya berucap, “dipandang saja enak, bagaimana kalau dinikmati?”

Lepas dari itu, loomba mengatakan bahwa kaum kolonial lah yang mengkonstruksi kategori oposisi biner. Struktur oposisi yang merugikan kelompok-kelompok marjinal itulah yang di gugat [dekonstruksi] oleh kaum postkolonial. Karena dualitas yang saling [me- di-] tindas itu telah terproduksi menjadi mitos, kini kebenarannya disembah mati-matian. Hal itu juga berlaku antara lelaki dan perempuan. Kedigjayaan lelaki yang mampu mengangkangi perempuan dianggap sebagai sesuatu yang natural. Inilah bentuk kolonialisme dalam ruang privat.

Permasalahan perempuan sebenarnya boleh dikata merupakan persinggungan dari dua sisi, yaitu konstruksi masyarakat yang menyematkan sederet identitas gender padanya dan keinginan personal perempuan untuk keluar dari konstruksi itu. Dalam ideologi patriarki, pola di atas jelas banyak kita temui. Perempuan selalu diletakkan dalam wilayah dikotomi yang tak rasional karena dihubungkan dengan fungsi reproduksi.

Menurut hemat saya, faktor kemunculan wacana dan gerakan feminisme untuk menandingi diskursus dominasi nalar laki-laki, sekaligus membongkar ketertindasan perempuan dalam wilayah sosial, politik, budaya serta pengetahuan. Namun, menurut saya, sayangnya landasan epistemologi feminisme masih banyak terjebak dalam wilayah binary oposition. Posisi yang menempatkan perempuan sebagai We dan laki-laki sebagai Others. Hal ini membuat gerakan feminisme jatuh pada eksistensialis dan ideologis.

Pada awal perkembangannya, ide feminisme hanya pada tatanan agar dibolehkannya para wanita untuk aktif di luar rumah, misalnya untuk sekolah, dan bisnis. Kini wacana itu bergeser secara radikal dengan gugatan bahwa domestikasi perempuan adalah sebuah kehinaan dan pelecehan terhadap kaum perempuan.

Menganalisis ketertindasan perempuan bisa berbuah resolusi yang beragam. Sebab, analisis para feminis yang jamak dan kompleks. Sangat mustahil bila ketertindasan perempuan bisa diselesaikan dengan mengubah satu unsur saja. Hal itu tentu tidak menyisakan ruang kesepakan epistemologis dalam menyusun kesadaran resolusi.

Salah satu dari keragaman itu misalnya Jill Jhonston dan Charrolate Bunch (1970). Definisinya mengenai ketertindasan perempuan adalah pada rumusan seks yang direproduksi melalui institusi heteroseksual. Dengan demikin, ketertindasan dapat dihindari dengan menolak seluruh institusi heteroseksual dan segala definisinya. Tawaran yang diajukan Bunch adalah lesbianisme, sebab tidak akan ada penindasan didalamnya.

Mengutip Mansour Fakih, feminis dikelompokkan dalam empat aliran besar, yaitu golongan feminisme Liberal, Marxis, Radikal dan Sosialis. Meski ada friksi–friksi, namun inti perjuangannya relatif sama, yakni membawa gerakan perempuan kearah masyarakat egaliter, tanpa ketimpangan gender (genderless society), dan didominasi oleh kebebasan individu. Disamping itu, Feminisme juga cenderung pada wilayah perebutan relasi kuasa dari tubuh dan sistem seks/gender di ruang diskursif.

Kini muncul terminologi Post-feminisme yang memberi solusi pengambilan jarak terhadap nalar binary oposition. Feminisme posmodern (postmodern feminism) merupakan sebuah pendekatan blasteran antara teori posmodern dan postrukturalisme terhadap teori feminis. Para tokoh feminisme ini menghindari istilah-istilah yang mengisyaratkan adanya suatu kesatuan yang membatasi perbedaan.

Para feminis posmodern membuka peluang bebas bagi siapapun untuk menjadi feminis. Mereka menentang karakterisasi dan rumusan tertentu untuk menjadi ‘feminis yang baik’. Namun demikian, ada satu tema atau kesamaan orientasi pada konsep-konsep tawaran mereka, yakni bahwa seksualitas dikonstruksi oleh bahasa; pengalaman manusia terletak pada bahasa, termasuk opresi terhadap perempuan juga bersumber pada bahasa. Oleh karena sumber opresi adalah bahasa, maka lewat bahasa pula mereka mengatasinya. Bertolak dari eksistensialisme dari Simone de Beauvoir, dekonstruksi Jacques Derrida, dan psikoanalisis-nya Jacques Lacan, para feminis posmodern seperti Hélène Cixous, Luce Irigaray, dan Julia Kristeva menawarkan pandangan masing-masing mengenai bahasa

Dalam bahasa Indonesia, bias gender tak bisa dihindarkan. Mulai dari konotasi sebutan feminin dan maskulin. Sebutan-sebutan feminim misalnya ‘ibu kota’, ‘induk semang’, ‘dewi malam ‘, ‘ibu pertiwi’, atau ‘ratu adil’. Dengan memakai ibu, induk, dewi, dan ratu, nuansa yang berpendar adalah kedamaian, kepasifan, ketenangan, atau kesabaran. Tampaknya, secara kodrati kata-kata itu dikhususkan untuk yang serba pasif, diam, dan damai. Sebaliknya, sebutan bercorak maskulin bisa berkesan menguasai, agresif, dan pemberani, misalnya ‘raja hutan’, ‘raja siang’, ‘dewa maut’, ‘bapak pembangunan’, atau ‘jago matematika’.

***

Saat di kantin bonbin, saya mendengar celetuk seorang mahasiswi—karena cantik, mungkin dari Psikologi, bukan FIB—,“Duh, kok hari ini belum ada cowok yang ngeliatin gua.”. Kulitnya yang putih menandakan tiap hari ia direpotkan dengan berbagai krim. Memang, kebanyakan perempuan sangat memikirkan kecantikan. Bahkan teman pun bisa jadi lawan bila dianggap lebih cantik.

Dalam buku The Second Sex, Simone de Beauvoir juga menghamparkan realitas kecintaan perempuan pada tubuh. Simak saja, masa kanak-kanak perempuan dipenuhi polesan bedak dari ibu. Sedikit dewasa, ia akan kebingkungan bila payudara yang tak juga membengkak. Saat hamil, kepedulian pada tubuh kian besar, tak segan ia melahap jamu, krim, dan pil. Pada titik ekstrim, terkadang menyusui bayi jadi soal dilematis, antara hak bayi dan keindahan payudaranya. Semakin kulit berkerut dan perut semakin gendut, kian banyak pernak-perniknya. Mengapa hal ini dapat terjad

Sigmund Freud punya teori menarik mengenai hal tersebut. Dalam teori perkembangan seksualnya ia mangatakan bahwa manusia telah memiliki libido (energi seksualitas) sejak lahir. Namun, libido anak belum ditujukan dan terlokalisasi pada satu area tubuh tertentu (polymorphous perversity). Seiring pertumbuhannya, libido anak itu kemudian kian terarah dan terlokalisisasi pada area yang disebut erogenic zones, yakni bagian tubuh yang sensitif terhadap stimulasi kenikmatan.

Awalnya, kepuasan anak dimulai dari tahap oral, yakni melalui mulut. Karena mereka mendapat kepuasan melalui payudara ibu, sang ibu lah yang menjadi obyek cinta pertama bagi anak. Selanjutnya usia dua sampai tiga tahun, muncul tahap anal, dimana anak mendapat sensasi kala menahan dan mengeluarkan kotoran. Menyusul tahap phallic pada usia tiga sampai empat tahun, pada titik ini anak mulai meraih kepuasan dari alat kelaminnya melalui masturbasi. Kepuasan anak laki-laki didapatkan dari stimulasi penis, sedang perempuan pada klitoris. Bagi freud, masa ini, anak laki-laki mengalami kompleks Oedipus, yakni, bernafsu terhadap sang ibu. Namun saat melihat klitoris, baik milik ibunya maupun anak perempuan lain, ia menyangka mereka telah dikastrasi oleh ayahnya. Akhirnya ia menjadi takut dikastrasi oleh ayahnya. Hal itu mematikan cinta kepada ibunya dan membuatnya patuh pada aturan-aturan sang ayah.

Pada tahap phallic, perkembangan laki-laki dan perempuan mulai berbeda. Berbeda dengan ank laki-laki, saat melihat klitorisnya, anak perempuan malah tidak takut akan dikastrasi. Setelah mencermati klitoris, baik miliknya, ibu, dan anak perempuan lain, serta membandingkan dengan penisnya laki-laki, ia juga menyangka bahwa semua perempuan telah dikastrasi oleh ayahnya. Menyadari hal itu, ia justru jijik terhadap ibunya dan mengalihkan cinta kepada ayahnya.

Ketakutannya pada dikastrasi dan kepatuhannya pada Hukum Ayah justru membuat laki-laki belajar mengendalikan hasrat terhadap ibunya dan bersabar menunggu perempuannya sendiri. Kondisi ini memungkinkan mereka berkembang menjadi kematangan kedewasaan. Ia mampu mengendalikan diri, memiliki moralitas, dan dapat belajar mengikuti aturan-aturan yang berlaku.

Sedangkan perempuan, karena tidak mengalami ketakutan akan kastrasi, Ia tidak patuh pada Hukum Ayah. Dengan demikian, super ego-nya tidak berkembang sempurna. Akibatnya ia kesulitan berpartisipasi pada ranah publik.

Dipihak lain, pada perempuan, perubahan obyek cinta dari ibu ke ayah mempengaruhi perubahan pemuas seksual, yakni dari klitoris ke vagina. Disinilah kepasifan wanita kian kukuh. Sebab, klitoris adalah seksualitas aktif, sedang vagina adalah sesuatu yang pasif yang butuh penis untuk mencapai kepuasan. Jadi saat perempuan mengalihkan cinta pada lelaki, ia kehilangan maskulinitasnya (aktif) dan mengambil nilai-nilai feminin (pasif).

Celakanya, perempuan ternyata juga cemburu pada laki-laki karena memiliki penis. Setelah dewasa, kecemburuan itu diobati dengan keluarnya bayi sebagai pengganti penis. Meski demikian, masih ada sisa-sisa/residu kecemburuan yang ditanggungnya. Pertama, perempuan menjadi terokupasi pada diri. Akibatnya, ia ingin dicintai, suatu keinginan pasif khas kepasifan vagina. Kedua, berfokus pada penampilan fisik. Keindahan tubuh digunakannya untuk menutupi kekurangan atas penis yang tidak dimilikinya. Terakhir, ketiga, rasa malu yg dibesar-besarkan. Ia membutuhkan ruang tertutup untuk mengganti pakaian karena malu melihat tubuhnya yang telah terkastrasi.

Tidak dapat disangkal bahwa Freud adalah seorang yang cerdas dan analitis. Olehnya, seks dibawa dalam perbincangan dunia intelektual. Benarkah perempuan cemburu terhadap penis? Kalau benar, tepatkah perempuan harus menjadi ibu untuk mengganti penisnya yang telah dikastrasi menjadi klitoris? Kalau tidak, bagaimana caranya? Yah, hanya Tuhan yang tahu mengembalikan klitoris menjadi penis. Ups, kini Tuhan menyatu sekalimat dengan klitoris dan penis.

Rifqi Muhammad, Pegiat Komunitas Kembang Merak


Advertisements

3 thoughts on “Silang Kuasa Seksualitas

  1. Tulisan yang bagus untuk menceritakan tentang Sindrom iri penis yang diderita oleh perempuan. Dalam apandangan Freud memang kecenderungan yang seperti inilah yang sekarang lagi melanda dan menjadi gejala pada wanita. kajian perempuan terlebih tentang feminis dan gender sebenarnya tidak lain adalah Kecemburuan perempuan karena tidak memiliki penis saja….
    😀

    Edhenk

  2. artikel yang bagus untuk seorang rifqi.pada kenyataannya seksualitas adalah sinergitas dari tubuh dan keinginan,seperti layaknya malaikat yang tau dan harus melaksanakan perintah tanpa harus tau esensinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s