Solilokui

Subuh tadi gerimis. Kalau begini bisanya sore hari hujan. Apalagi, siang ini masih mirip seperti kemarin, cerah dan tenang. Eh, tepatnya panas dan sepi. Waga desa tidak terlihat. Hanya aku dan parmin yang nongkrong di perempatan utama desa. Jangan berfikir mereka sedang bekerja. Sebab, sawah desa ini jadi surga bagi para wereng. Pestisida dan pupuk yang dulu dijejalkan pemerintah, tak bisa kami beli. Peyuluhan dari orang-orang kota, yang katanya para ahli tanam-menanam, pun malah menambah ketergantungan kami pada pupuk-pupuk itu.

Ah jangan memikirkan itu, nanti rokok lintingan dan kopi yang aku seduh tak nikmat lagi, sedang permainan kartu ku tak asik lagi. Tapi memang itulah kenyataannya. Bukan apa-apa, cuma soal desa yang tak maju, tentang orang-orang miskin, dan pengangguran yang berhamburan. Tak ada kekayaan alam yang bisa kami olah. Mungkin sebentar lagi hutan sebelah akan habis. Jangan berfikir buruk pada kami. Orang kota lah yang menebangnya. Sudah bertahun-tahun mereka menghidupkan gergaji mesin yang meraung-raung tiap siang dan malam hari. Awalnya kami menerima saja, lagipula mereka mengatakan bahwa sebagian besar hasilnya digunakan untuk memperbaiki infrastruktur desa. Tapi nyatanya, jalan utama desa saja, masih memakai susunan bebatuan yang terjal. Tak ada pembangunan bagi desa kami. Kami tak bisa menghentikan. Konon mereka memiliki surat resmi, semacam kertas bertulisan yang bisa mendatangkan bencana bagi kami. Kalau melawan, kami akan dituduh melanggar hukum, dikurung. Ah, kalian. Orang-orang kota.

Tampaknya aku terlalu lama termangu meratapi nasib desa. Beberapa orang berseliweran. Mereka berangkat ke hutan untuk mencarikan rumput bagi ternak-ternaknya. Sebab hanya itu yang bisa mereka andalkan. Sekarang pukul tiga sore, biasanya ada truk dari kota yang membawa limabelas warga desa. Konon, mereka orang terpilih yang bisa jadi buruh pabrik-pabrik kota. Meski telah bertahun-tahun, mereka tak kunjung menikmati hasil keringatnya. Aku sampai hafal anatomi lusuh dari mereka-mereka ketika datang: rambut Wati yang terurai menjauhkan dia dari kesan seksi, tubuh Nuri yang kecil lebih pantas disebut ceking dari pada dianggap langsing; atau tubuh Slamet yang kekar bukan karena rajin fitness.

“Itu pasti orang kota”, seloroh parmin yang mengaburkan lamunanku. Kotan saja, aku kaget mendengar kata ”kota” dan “orang kota”. Maaf, jujur aku geram dengan dua jenis barang itu. Sepengalamanku, mereka suka menginjak-nginjak desa seenaknya, rakus, dan sombong. Ia menunjuk lelaki tampan yang baru turun dari truk, sembari terus mengerutu. Setelah agak lama lama menatap orang asing itu, aku pun turut mengamini, “ya, itu pasti orang kota,” ucapku. Tentu kalian ingat, bagaimana pegalaman interaksi kami dengan orang kota. Kami mengenal banyak hal bukan dari buku, bukan dari seminar, bukan pula dari kajian-kajian akademik. Pandangan dunia kami terbentuk sebagai dari hasil refleksi atas interaksi dan persingungungan. Salahkah kalau kami membenci orang kota karena pengalaman kami mengatakan demikian. Aku tau, kalian pasti tertawa ketika kembaca kisah ini. Kisah wagu dari desa yang pantas ditertawakan. Sudahlah….

Kulihat, ia—maksudku lelaki kota itu—cukup sumringah. Coba aku tebak, pasti kau datang kesini hanya untuk berlibur. Menghabiskan waktu untuk bersantai di sebuah desa terpencil, di kabupaten kecil yang terpinggir. Kalian tak perlu heran kenapa aku bisa tahu. Mudah sekali bagiku untuk menebak. Sebab, sejak dulu desa ini sering didatangi orang sepertimu, maksudku orang kota seperti dirimu. Macam-macam alasan mereka, ada yang tugas dari sekolah, praktik lapangan, penelitian, Kuliah Kerja Nyata atau sekadar berlibur. Tapi tak penting bagiku untuk tak tahu, tentang apa praktik lapanganmu, penelitianmu, atau apa Kuliah Kerja Nyata itu. Itu tak penting bagiku. Tepatnya, tak berpengaruh apapun untukku, untuk kami. Yang aku tahu, mereka—sekali lagi, maksudku orang sejenismu—biasanya melihat-lihat desa, menceramahi kami, dan menebar pesona kejantanan pada gadis-gadis desa.

Seperti kaummu yang lain, setelah turun dari truk, kau langsung menebar pandangan kesekitar. Wajahmu yang sebelumnya tampak kusut karena berdesak-desakan dengan puluhan warga desa dan kambing-kambing yang tak laku dijual, kini mulai menumpahkan senyum. Tubuhmu yang sebelumnya kuyup oleh keringat dan baumu yang pesing karena berkubang kencing kambing, kini kering dan tampak segar. Sekali lagi, seperti orang kota yang lain, kau tampak terpesona dengan suasana desa yang sepi, yang menurutmu indah. Aku tau, kau pasti merasa kalau pohon-pohon besar yang menghamburkan daunnya itu sedang menyambutmu. Asal kau tahu, pohon itu bisa bertahan karena berada di tengah desa. Kalau saja ia hidup di hutan, tentu saja nasibnya akan dipungkasi oleh gergaji teman-temanmu.

Ya, aku yakin kau sedang berlibur. Apalagi kalau melihat gaya pakaianmu, perhiasan tubuhmu, juga rambutmu yang berwarna merah dan biru. Dengan baju kecil yang menampakkan tubuhmu berisi, kau menggendong tas raksasa. Ya, kau adalah pelancong datang untuk berlibur. Engkau masih terpesona. Semerbak angin sepoi-sepoi seakan membuka lanskap kehidupan baru. Ditengah ketakjuban itu, kau pasti berfikir, betapa indahnya tempat ini. Bisa jadi ini adalah tempat paling sejuk yang pernah aku rasakan. Ya, pikiranmu akan keindahan semakin membuatmu nyaman di kampung ini.

Sebelum melangkah, kau bergegas menurunkan tas dan mengambil kamera. Setiap sudut kau potret, termasuk kucing-kucing yang berkejar-kejaran, dan kambing-kambing lapar di pematang sawah yang kering. Kau mulai berjalan. Coba ku tebak, kau pasti ke rumah Kusno, kepala desa kampung ini. Bagi kami, Ia adalah rentenir yang paling biadab dan koruptor yang kasar-kentara. Orang kota yang datang selalu singgah rumahnya. Hampir tiap tahun ia dikunjungai pemuda kota, katanya sedang Kuliah Kerja Nyata. Warga terlampau bosan dengan ulah mereka. Bertingkah sok tahu dan selalu mengatur. Warga sering dikumpulkan sekadar untuk mendengar ceramah muluk-muluk tentang banyak hal yang seolah tidak kami mengerti. Salahkah bila kami bosan dan benci pada mereka?

Eh, ternyata kau tak belok kiri. Kau tak mampir ke rentenir itu. Wajahmu yang ceria ibarat terbebas dari beban dosa-dosa. Kau pikir dirimu terlempar ke surga. Menengok kiri dan kanan sembari tersenyum; menggeleng-gelengkan kepala yang penuh ketakjuban. Jangan heran kalau semua orang melihatmu. Meski warga kampung tersenyum hangat, tapi sebetulnya kami beramai-ramai melaknatmu. Tunggu saja, sebentar lagi kau akan menjadi bahan gerutu. Kau hanya tahu kalau orang desa ramah dan mudah melampar senyum. Akh, kau adalah orang kota, tepatnya orang kota yang sedang berlibur. Kau tak mungkin berfikir aneh-aneh tentang kampung ini.

Ya, kau adalah orang kota. Kau datang untuk berlibur. Rumah paling besar milik rentenir itu masih di sampingmu. Kau pasti berfikir kalau pemiliknya adalah dermawan. Sebab kau sempat melihat ia sedang memberi uang pada mbah Suep. Kau pasti membayangkan betapa enaknya jadi warga desa. Saling membantu saat ada yang kesusahan. Kau tak mungkin tahu, orang tua yang menerima uang itu harus mengembalikan tiga kali lipat dari jumlah yang diterimanya. Itulah, siapa lagi kalau bukan kepala desa alias si rentenir biadab yang kau anggap dermawan itu.

Bersuka-suka lah kamu sesukamu. Biarkan pikiranmu menangkap yang baik-baik. Sebab, kau sedang berlibur. Silahkan menangkap sinyal indah di kampung kecil nan pelosok ini. Ditengah kenyamanan berlibur, kau tak sempat tahu betapa susahnya hidup di kampung. Banyak yang tak sekolah sehingga dianggap bodoh oleh pemerintah, pekerjaan kami hanya beternak sehingga dianggap pengangguran, juga hidup yang serba susah payah. Pernah suatu ketika sawah dan lading kami mengunduh hasil yang melimpah. Namun hasil-hasil terbaik pertanian kami tak bisa  kami nikmati. Semua dibawa ke kota oleh tengkulak. Ya, kau tak mungkin mengotori pikiranmu dengan kondisi warga desa yang seba sulit. Silahkan melihat sesukamu. Silahkan berselancar dalam surga pikiran mu.

Kini kau melewati sekolah yang rapuh dindingnya dan rontok atapnya. Kau membaca papan yang terpampang didepanya, “Akan Diperbaiki Dalam Waktu Dekat”. Kau pasti berfikir, pembangunan desa ini lancar dan pendidikan sangat diperhatikan. Ah, kau tak tahu, sudah lima tahun papan itu bertengger. Konon, bangunan itu dihancurkan pemerintah karena akan direnovasi. Namun hutang janji yang bertahun-tahun tertunda itu tak kunjung dilunasi. Alhasil, sudah tujuh tahun sekolah itu tak berfungsi lagi.

Kau mulai menjauh dari sekolah dan kini melintasi jembatan. Kau makin yakin kalau pembangunan di desa ini lancar. Sebab, jembatan itu tampak masih baru. Kalau kau cari tahu, jembatan itu sebetulnya dibuat untuk melintas truk-truk besar pengangkut kayu-kayu dari hutan. Pembangunan fisik desa hanya dipersiapkan untuk orang kota pengangkut hasil hutan. Warga kampung tak mendapatkan apa-apa. Kecuali sedikit upah karena menjadi tenaga penebang.

Saat mendengar gemercik aliran bening, kau terusik untuk turun ke sungai di bawah jembatan. Aku yakin, kau ingin meraup air jernih dan merasakan perciknya masuk dalam pori-pori kulitmu. Kau sudah membayangkan, betapa segarnya air murni ini. Di sungai itu, engkau melihat anak kecil yang berumur sekitar empat tahun sedang mandi. Di tepi sungai, seorang wanita cantik seumuranmu sedang mencuci. Mungkin sekitar dua puluh dua tahun. Kau senyum dan berucap, “permisi, mau nyuci muka sebentar”. Dia menjawab dengan senyum yang dipaksakan. “Adeknya, ya?” tanyamu. Dengan menahan hati yang koyak dan raut muka merah yang tersembunyi, ia terpaksa menganggukkan kepala.

Engkau adalah orang kota. Engkau sedang berlibur. Kau tak mungkin menghiraukan raut muka itu. Sebab, itu tak penting bagi liburanmu. Kau tahu, anak kecil yang mandi itu adalah anak malang yang terpaksa ia terima. Lima tahun lalu, ada sepuluh anak muda yang datang ke desa ini, konon sedang Kuliah Kerja Nyata. Salah seorang di antara mereka tertarik pada wanita di depanmu. Dengan gayanya yang khas orang kota, pemuda itu mengungkapkan rasa. Karena masih polos, sang bunga desa pun takluk akibat janji dan pesona. Setahun kemudian anak itu lahir. Sayangnya pemuda itu tak kunjung kembali sejak selesai Kuliah Kerja Nyata. Wahai orang kota, salahkah bila dia membenci kalian?

Ya, kau tak mungkin menghiraukan apa yang dirasakan oleh gadis itu. Dalam pikiranmu hanya ada kekaguman, senang, dan hal-hal yang membuatmu nyaman. Kau tampak khusyuk mendengarkan gemercik air. Ikan-ikan yang saling berlarian bebas manjadi atraksi terbaru bagimu. Kau makin terpesona. Kau tak lupa memotret wanita dan anak itu, termasuk ikan dan panorama sungai yang menurutmu indah. Lagi-lagi kau tak tahu. Puluhan ikan yang kau lihat itu adalah ikan beruntung yang selamat dari pembantaian. Dua minggu yang lalu, orang kota saudara kepala desa berlibur di kampung ini. Orang desa menyebutnya malaikat biadab. Dia menabur serbuk dan cairan aneh ke sungai. Lima menit kemudian ribuan ikan sekarat dan ratusan yang menggeliat dipermukaan. Tiga keranjang besar yang penuh ikan akhirnya dibawanya pulang. Begitulah orang kota, biadab, jahat, dan menjijikkan. Kau tak mungkin merasakan pikiran itu, sebab, kau sedang menikmati masa indahmu.

Setelah menikmati pesona sungai yang sebetulnya malang itu, kembali kau melanjutkan perjalanan indahmu. Sesampainya di pertigaan utama desa, kau berhenti, mungkin bingung, tak tahu arah tujuanmu. Kau merogoh saku dan mengeluarkan benda kecil yang biasa dibawa orang kota. Memencet benda itu dengan jempol tangan dan mendekatkannya ke telinga. Warga kampung menyebutnya benda aneh. Sebab, orang yang memegang benda itu bertingkah aneh. Bicara sendiri, melotot, dan sesekali tertawa. Tak berselang lama, kau masukkan kembali. Anehnya, kau tak bicara sendiri saat membawa benda itu. Kau hanya sedikit mengeluarkan ucapan singkat, mungkin sedang mengumpat. Namun sebentar senyum kembali. Sebab, kau tak mungkin membiarkan hari liburanmu rusak gara-gara benda kecil itu.

Sebenarnya kau tak perlu mengumpat kalau menara seluler masih berdiri. Sayangnya benda yang sama sekali baru bagi kami itu telah roboh diterpa angin. Sebenarnya tak ada warga yang setuju dengan pembangunan menara. Sebab benda itu tak mendatangkan manfaat bagi kami. Orang desa yang tak paham teknologi. Tapi karena didirikan di atas tanah kosong milik kepala desa, kami tak bisa berbuat apa-apa. Bulan lalu kekhawatiran kami terbukti. Dua puluh lima warga yang tengah terlelap terpaksa remuk dan rata dengan tanah saat istirahat malam, bersama rumah mereka tentunya. Mereka menjadi tumbal bisnis kapital orang kota. Kalaupun kau melihat reruntuhan rumah dan bekas menara, kau tak mungkin memotretnya. Sebab itu akan mengurangi keindahan desa.

Disebelah barat pertigaan, kau melihat rumah besar dengan pagar menjulang. Kalau kau bertanya pada warga, mereka akan menjawab kalau rumah itu milik orang kota. Ia adalah pemilik ratusan hektar kebun tambakau di kampung ini. Tembakau bisa hidup karena ia mampu membeli pupuk. Berbeda dengan kami, warga desa. Dia bukanlah rentenir, melainkan orang paling pelit di kampung ini. Bagi pekerja kebun tembakau, dia adalah bos yang sering memotong gaji. Tak penting bagimu untuk tau hal itu. Pandanganmu bahwa orang desa hidup dengan nyaman akan luntur seketika.

Kau terus memandangi sekitar. Mungkin sambil berfikir, betapa indahnya kampung ini. Kampung yang kaya, banyak dermawan, dan harmonis. Atau mungkin kampung dengan alam yang mempesona. Ya, engkau adalah orang kota. Engkau maskulin. Kau adalah orang yang datang ke kampung ini untuk berlibur. Bukan untuk yang lain. Kini lembayung senja memadati cakrawala. Kau menghampiri salah satu warga dan bertanya, “permisi pak, losmennya di mana?” Ia menggeleng dan balik bertanya, “losmen itu apa?” Kampung yang kau pikirkan, bukanlah kampung yang kami rasakan. Tak ada kenyamanan, keindahan, dan kekayaan alam, apalagi losmen.

Rifqi Muhammad, pegiat Komunitas Kembang Merak.

Advertisements

7 thoughts on “Solilokui

  1. Bingung memberikan pendapat dan pandangan. Tulisan ini jauh diatas pemikiran saya.

    Saya terlalu rendah. Tapi Dari merdarah-darahnya saya menjelajah dunia blog. Inilah satu-satunya blog ter”luar biasa”.

    Maaf, saya tidak ada niat memuji dan menghebatkan kamu. tapi ini blog paling ok dari makna dan tujuan dibuatnya blog ini.

    Tidak ada unsur “Aku”

    Luar biasa.

    salam kenal dari aceh

  2. Rifqi, tolong publikasikan undangan menulis jurnal di blogmu. Silakan ngopi di blogku.

    salam,
    sahabatmu

  3. Mas Rudi., tulisan dibuat harapannya mencerahkan, dan untuk itu perlu dipublikasikan. Terimakasih telah membantu usaha itu.

  4. hm… cerpen yg satu ini pas banget ma keadaanku yg lg KKP, hehe… Kita bukan hanya sekedar singgah di bumi orang, tetapi baiknya memahami bukan hanya melihat dari luar..

    great story, my friend..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s