Trilogi Karya Kuntowijiyo

 

Judul Buku : Penjelasan Sejarah (Historical Explanation) / Penulis : Kuntowijoyo / Penerbit : Tiara Wacana / Cetakan : Februari 2008 / Tebal : xvi + 180 Halaman / Peresensi : Rifqi Muhamad

Kabar kepergian Kuntowijoyo, 22 Februari 2005 lalu, menoreh duka mendalam bagi bagsa Indonesia. Tangisan kepergiannya bukan saja milik ilmuan, akademisi, dan mahasiswa ilmu sejarah, melainkan juga peminat sejarah secara umum. Sebab, dia lah sang begawan yang membumikan sejarah. “mereka yang bekerja di pelelangan ikan, pertukangan sepatu, perusahaan batik, pabrik biskuit, dan dunia usaha lain tetap dapat menjadi sejarahwan. Titik.” Tulis Pak kunto (panggilan akrab Kuntowijoyo) dalam Metodologi Sejarah.

Beruntung, sebelum benar-benar menghembuskan nafas terakhir, ia sempat merampungkan naskah pamungkasnya. Tak lain yang dimaksud adalah buku bertajuk “Penjelasan Sejarah (Historical Explanation)”. Kematian ternyata lebih dulu menjemputnya, sebelum ia mengantar buku ini ke penerbitan. Kemudian, Berkat Ibu Susilaningsih (istri Almarhum), naskah yang tersusun rapi di atas meja dalam ruang kerja kediamannya, akhirnya bisa di nikmati oleh publik. Kabar yang menyesakkan dada itu menjadi sedikit terobati.

Disamping buku ini, kuntowijoyo telah menulis banyak karya. Selain buku bertema agama dan karya-karya sastra, sebelumnya ia telah menulis buku “Pengantar Ilmu Sejarah” (1995) dan “Metodologi Sejarah” (1994, 2003, ed). Dipungkasi dengan terbitnya buku ini, bisa dikatakan, lengkap sudah trilogi penjelasan Pak Kunto tentang Imu Sejarah.

Dalam buku-bukunya, penyandang gelar doktor Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia, Amerika Serikat ini, menyediakan asupan gizi bagi para peminat sejarah. Ingat, bukan hanya untuk pada mahasiswa, maupun akademisi sejarah, namun “peminat sejarah”. Hal inilah yang sedari awal ditekankan oleh Pak Kunto.

Ada yang khas pada setiap karya Pak Kunto, yakni nuansa ilmiah yang padat dan ketat. Tapi anehnya, nuansa itu tak membuat buku-bukunya menjadi kering dan rumit. Semua dijelaskan dengan bahasa yang tetap mengalir sederhana dan mudah dicerna. Ya, membaca bukunya, sama halnya dengan mendengarkan ceramah-ceramahnya. Santai namun berisi. Itulah kiranya yang dirasakan pembaca saat mengarungi kesembilan bab dalam buku ini. Kemampuan pak kunto untuk menjelaskan dengan bahasa yang ringan, memperlihatkan bahwa keilmuan Kuntowijoyo mencapai derajat paripurna. Sebab, ia tak hanya mampu berbicara sejarah di depan mahasiswa, ilmuwan, dan akademisi, namun juga kepada halayak awam.

Salam buku ini, berbagai konstruksi dan kronologi perdebatan sejarah dirangkum secara sistematis. Pada tiap bab, Pak Kunto membubuhkan daftar karya para sejarawan andal, tentu yang sesuai dengan topik. Dengan demikian, pembaca yang ingin mendalami lebih lanjut dapat merujuk pada daftar tersebut. Kelebihan lainnya, selain pembaca bisa memahami konsep dan teori ilmu bantu dalam diskursus sejarah, buku ini mampu menarik rasa ingin tahu. Ya, kajian komparasi yang kritis dan eksplanatif, membuat buku ini serasa menggelitik.

Kalau kita simak, pada dasarnya buku ini bertumpu pada dua bahasan pokok, yakni hakikat ilmu sejarah, dan cara memahami jenis-jenis pembahasan sejarah. Bagi Pak Kunto, ilmu sejarah laiknya serangkaian upaya untuk menafsirkan, memahami dan mengerti (hermeneutic and verstehen). Dalam rangka itu, sejarah menjadi ilmu mandiri, yang memiliki filsafat ilmu, permasalahan, dan penjelasan sendiri. Sedangkan penjelasan sejarah adalah upaya agar unit-unit sejarah dapat dimengerti secara serdas (intelligible).

Lantas, bagaimana penjelasan sejarah dikerjakan? Pak kunto memposisikan diri sebagai seorang pemandu wisata yang menjalaskan banyak hal mengenai ini dan itu. Wisatawan tak akan jemu mendaki tema-tema besar dalam ilmu sejarah yang dikupas tuntas oleh pak kunto. Dintaranya, periodisasi, kausalitas, analisis struktural, paralelisme, generalisasi sejarah, sejarah dan teori sosial, kuantifikasi, dan yang terakhir, sejarah naratif. Tema-ema itulah yang dieksplorasi habis-habisan oleh Kuntowijoyo.

Setelah menjelaskan semua model penjelasan sejarah, ia mengajak wisatawan untuk mengunjungi karya-karya ilmuwan dan akademisi sejarah. Disanalah para wisatawan dapat mencermati dan melihat langsung bagaimana para ilmuwan meramu sejarah. Dalam hal ini, Pak Kunto mengajak pembaca mengupas proses kerja sejarawan melalui review terhadap enam puluh (60) sumber bacaan, baik dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, para wisatawan akan tahu betul proses para sejarawan dalam menyusun sejarah.

Berkat kepiawaiannya, semburat makna dalam penjelasan sejarah yang sangat luas, bisa diungkai dalam 180 halaman saja. Disamping akan menelusuri telaah komprehensif yang mendalam, para pambaca juga akan mengetahui contoh konkrit buku yang memakai metode penjelasan sejarah tertentu. Pada titik inilah, karya ini dapat diposisikan sebagai buku sejarah paling detail yang mudah dipahami oleh kaum awam.

Memang bagi sebagian pembaca, bisa jadi gambaran yang diberikan Pak Kunto terkesan mendetail dan teknis. Namun keuntungannya, pembaca dapat secara lengkap memperoleh informasi aplikatif dari topik yang diulas oleh pak kunto. Bertolak dari hal itu, buku ini menjadi sangat penting sebagai bahan bacaan bagi siapapun, tak hanya peminat sejarah atau akademisi sejarah. Dengan membaca buku ini, kita akan mengetahui dan memahami bagaimana sejarah ditulis.

Kehadiran karya paripurna Prof Kuntowijoyo ini jelas akan menjadi cahaya terang ditengah gejala “pikun sejarah” yang sedang melanda bangsa kita. Lebih lanjut, buku ini tidak hanya akan mengingatkan kita pada sejarah, tetapi juga membantu kita untuk menafsirkan, memahami dan mengerti (hermeneutic and verstehen) sejarah bangsa. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi memposisikan sejarah sebagai seuatu yang diterima begitu saja (takan for granted).

Kini, pak kunto telah tiada. Ia telah membuktikan dedikasi dan konsistensinya dalam memberi pemahaman tentang sejarah kepada masyarakat. Tak henti-hentinya ia menyeru bahwa sejarah bukan hanya milik dosen, atau ilmuwan sejarah, namun juga bagi peminat sejarah, sekalipun ia tukang parkir. Baginya, cerpenis adalah orang yang memiliki minat pada cerpen, apapun pekerjaannya, ia tetap cerpenis, demikian juga sejarawan.

Bahkan, hingga sepercik nafas terakhir dalam hayatnya, ia masih sempat memberikan seruan pada kita. Kini, begawan sejarah Kuntowijoya telah menggelitik kesadaran kita untuk [kembali] peduli dengan sejarah bangsa. Meski Almarhum Kuntowijoyo telah tiada, kita masih ditemani oleh karya-karyanya. Apakah kita hanya diam dalam keterpurukan “pikun sejarah”? padahal, trilogi Kuntowijoyo, telah terwariskan.[]


Penjelasan SejarahPenjelasan Sejarah by Kuntowijoyo

My rating: 4 of 5 stars

Kalau kita simak, pada dasarnya buku ini bertumpu pada dua bahasan pokok, yakni hakikat ilmu sejarah, dan cara memahami jenis-jenis pembahasan sejarah. Bagi Pak Kunto, ilmu sejarah laiknya serangkaian upaya untuk menafsirkan, memahami dan mengerti (hermeneutic and verstehen). Dalam rangka itu, sejarah menjadi ilmu mandiri, yang memiliki filsafat ilmu, permasalahan, dan penjelasan sendiri. Sedangkan penjelasan sejarah adalah upaya agar unit-unit sejarah dapat dimengerti secara serdas (intelligible).

Secara luas di ulas di sini

View all my reviews

Advertisements

One thought on “Trilogi Karya Kuntowijiyo

  1. Pingback: Trilogi Karya Kuntowijiyo | Just Another Thought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s