Sartono Kartodirdjo, Sejarawan Yang Asketis I

Judul Buku : Membuka Pintu Bagi Masa Depan, Biografi Sartono Kartodirdjo / Penulis : M. Nursam / Penerbit : Gramedia, Jakarta / Cetakan : Maret 2008 / Tebal : 382 Hlm / Peresensi : Rifqi Muhammad

Setiap orang tentunya pernah mengenal dan membaca sejarah bangsa Indonesia. Namun, tak setiap orang mengenal sejarawan yang berperan besar dalam menyusunnya. Di negri ini, penghargan terhadap akademisi dan ilmuwan berkualitas sangat minim, meski sekedar mengingat nama.

Kenyataan ini jelas terpotret saat Prof. Aloysius Sartono Kartodirdjo, guru agung yang meninggal 7 Desember 2007 lalu. Ya, hanya sedikit yang mengingatnya, mengungkap duka, apalagi melayatnya. Padahal, ia banyak memberi sumbangan pada bangsa. Tanpa jasa-jasanya, kita tidak akan sungguh-sungguh mengenali sejarah bangsa ini.

Pria yang lahir pada 15 Februari 1941 di Wonogiri ini memiliki keinginan belajar yang tak meredup sedikitpun. Tak ayal, berbekal tekad yang kuat, meski finansial membatasi, gelar doktor dari Universtas Amsterdam, Belanda, akhirnya ia unduh juga. Sebelumnya, di Universitas Indonesia (UI), ia menyabet gelar sarjana ilmu sejarah pertama di Indonesia. Praktis, sepulang dari Yale, ia adalah doktor sejarah pertama di Indonesia.

Sartono muda mengawali dunia akademis di Hollands Indicshe School (HIS) Wonogiri (1927). Naik kelas empat, ia hijrah ke HIS Surakarta (1932). Usia muda dilepas dari orang tua, berbuah ketegaran dan kemandirian dalam pribadi Sartono. Masa itulah ia mengenal luas dunia [luar]. Lulus cemerlang, ia memasuki Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) (1934). Disinilah kali pertama Sartono mengenal karya-karya Barat. Kontan, terbalut nuansa akademis yang ketat ini, keilmuannya kian meningkat tajam.

Pada 1936, ia pindah ke Hollands Inlandsche Kweekschool (HIK) Kolese Xaverius, Muntilan. Jika sebelumnya ia berkutat pada “antroposentris”, kini lengkap dengan “teosentris”. Kolaborasi keduanya membuahkan kecerdasan, ketajaman jiwa, dan kearifan pribadi Sartono. Meski pada perkembangan selanjutnya ia dihadapkan pada pilihan hidup antara bruder dan guru, akhirnya memilih guru, nilai-nilai transenden tetap tak dilepaskannya. Sejak 1941, ia resmi menjadi guru. Yakni, satu-satunya profesi ditekuninya.

Ketertarikannya pada narasi masa lampau membawa Sartono ke Ilmu Sejarah. Ia mengawali generasi pertama jurusan Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia (1950). Masa ini, keilmuan Sartono kian kukuh. Februari 1956 studinya rampung. Tak lama berselang, ia ditawari mengajar sejarah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Di UGM, Ia juga termasuk generasi dosen pertama pada jurusan baru ini. Sebenarnya ia bisa bekerja di Jakarta, tapi hati nuraninya membawanya hijrah ke Yogyakarta. Tidak lain adalah untuk mengembangkan ilmu di daerah-daerah. Misi hidup inilah yang membuatnya tampak istimewa.

Atmosfir gairah keilmuan Sartono kian kuat. Berbekal beasiswa, ia berangkat ke Universitas Amsterdam (1962). Berkat kegigihannya, ia lulus dengan predikat Cum Laude. Disertasi doktoralnya tentang “Pemberontakan Petani di Banten 1872-1889”, menjadi historiografi Indonesia pertama yang ditulis dengan perspektif pribumi. Sebelumnya, sejarah Indonesia pekat dengan sudut pandang Barat. Karya besar tersebut mencerminkan kepeloporan Sartono dalam studi sejarah di Indonesia.

Sepulangnya, ia giat mengembangkan dan mengamalkan ilmunya. Dedikasi Sartono tak lagi bisa di hitung dengan jari, baik kepada bangsa maupun keilmuan, baik di Indonesia maupun level mancanegara. Tak heran kalau penghargaan dunia internasional tumpah kepadanya. Misalnya Benda Prize, yang menempatkan Sartono sebagai tokoh pertama penerima penghargaan ini (1977). Tak berhenti disitu, Universitas Humboldt, Jerman, pun menyematkan Doktor Honoris Causa pada sosok Sartono (1996).

Dengan dekolonialisasi sejarah, ia mendongkrak eropasentris menjadi indonesiasentris pada studi sejarah. Buku Standar Sejarah Nasional Indonesia (1975), disusun dengan paradigma dekolonialisasi dan konsep integrasi-mulitidimensionalnya. Perspektif holistik Sartono terbukti berhasil mengungkap ratusan peristiwa.

Sebagai guru, ia juga berhasil melahirkan sejarawan-sejarawan berkualitas di Indonesia. Beberapa murid Sartono diantaranya sejarawan senior Prof Dr Taufik Abdullah dan Drs Adaby Darban. Karena perhatian yang besar terhadap para muridnya, tak heran kalau kesan mendalam tertoreh disanubari para murid. Sartono merupakan sosok ilmuwan yang pantas dijadikan teladan, terutama karena karakter dan kecerdasannya.

Diantara rentetan sifat mulia dan ragam kelebihan yang ia miliki, satu yang membuat kepribadian guru agung ini menjadi spesial. Yakni, “Asketisme Intelektual”. Disamping intelektualitasnya, banyak orang juga mengakui asketisme sartono. Sifat ini jelas dirasakan para murid, guru, dan koleganya. “beliau orangnya bersahaja…,karena pembawaan hidupnya cenderung asketis” ujar Jakob Oetama. Dalam buku inilah sisi terdalam nan spesial dari pribadi Sartono dihadirkan.

Bagi Sartono, kelezatan duniawi tak lagi berarti. Hidupnya dijalani dengan olah jiwa, moral serta religiusitas. Asketisme intelektual yang diamalkan dan diserukan sartono, merupakan akumulasi dari pengalaman batinnya. Pandangan hidupnya dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk lingkunan Jawa dimasa kecil. Baginya, Urip mung mampir ngombe (hidup hanya mampir minum). Juga, “barang donya kuwi ora langgeng lan ora bakal digawa mati” (barang di dunia tidak kekal dan tak akan dibawa mati). Pandangan hidup Jawa inilah yang mengasah batin sartono untuk kali pertama.

Kesadaran asketiknya kian menguat kala bergumul dengan lingkungan rohaniawan, yakni saat berada di Muntilan. Pada masa tersebut, kepekan batin dan jiwa yang ia miliki membuatnya dekat pada Tuhan. Maka, kekukuhan dan ketebalan spiritualitas mematang asketisme dalam kehidupan Sartono. Ya, Ia adalalah tokoh intelektual yang asketis. Pada titik ini, dia menjadi representasi dari manusia ideal dalam jawa. Tegar, Intelektual dan sembodo.

Buku ini tidak sekedar kenangan kering tanpa makna. Sebab dilengkapi dengan renungan reflektif yang bisa menggeraklan roda imajinatif kita akan sosok ideal Sartono. Kini, mengenang saja tak cukup. Meneladani kerpribadian Sartono, justru saat ia almarhum, adalah apresiasi tertinggi baginya. Jika demikian, jalanilah kehidupan dengan santun, asketis, dan ketegaran. Sebagaimana asketisme Intelektual dan ketegaran diri Sartono.


Membuka Pintu Bagi Masa Depan - Biografi Sartono KartodirdjoMembuka Pintu Bagi Masa Depan – Biografi Sartono Kartodirdjo by M. Nursam

My rating: 3 of 5 stars

View all my reviews

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s