Mengoreksi Indeks Prestasi

(Suara Merdeka, 1 Maret 2008)

“Tugas pokok pendidikan adalah membentuk jati diri seorang individu menjadi pribadi yang dewasa, mandiri, merdeka, dan dapat bertanggung jawab”, ujar Ignas Kleden dalam sebuah seminar. Baginya, disamping pendidikan dan pengajaran bertugas memberikan pengetahuan dan keterampilan, juga meningkatkan kemampuan belajar.

Pengajaran dalam hal ini lebih dipahami sebagai upaya menyampaikan pengetahuan dan informasi. Sementara pendidikan lah yang bertugas mengubah pengetahuan dan informasi menjadi nilai-nilai yang dapat diinternalisasikan dalam sikap, pendirian, dan pandangan hidup.

Banyak kalangan berpendapat bahwa lembaga pendidikan dalam banyak sisi tidak mampu memenuhi pendidikan dan pengajaran sekaligus. Lembaga pendidikan tidak lebih daripada interaksi simbolik tanpa makna yang menambah beban sosial. Termasuk didalamnya adalah perguruan tinggi yang diharapkan melahirkan individu yang cakap –terutama menjawab kebutuhan hidup–, ternyata malah menambah angka pengangguran intelektual. Alhasil, banyak klaim negatif yang disematkan pada perguruan tinggi.

Momok “IP”

Berdasarkan fakta diatas, tujuan pendidikan harus segera di kembalikan kefitrahnya. Sehingga akan membentuk jati diri seorang menjadi pribadi yang dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab. Pada hal yang sifatnya lebih praktis, tentunya seseorang hasil dari proses pendidikan mempunyai kemampuan menjawab kebutuhan hidup dan sosial. Jika orientasi pendidikan adalah demikian ini, apakah kuantitas indeks prestasi (IP) masih relevan dijadikan sebagai parameter keberhasilan pendidikan.

Kenyataannya, di dunia kerja banyak fenomena yang menyebutkan bahwa nilai IP ternyata bukanlah jaminan keberhasilan seseorang. Banyak kisah mengenai seorang yang lulus cumlaude tetapi ia tidak mampu bersaing. Umumnya kegagalan ditemuinya saal melewati tahap psikotes. Tentu hal ini disebabkan kurangnya kemandirian. Padahal menghadapi dunia kerja sangat dituntut kemandirian dan kemampuan menempatkan diri. Fragmen fakta sosial diatas tentunya merupakan tamparan keras bagi perguruan tinggi yang selama ini menerapkan sistem evaluasi lulusannya dengan transkrip indeks prestasi.

Frans magnis-suseno, akademisi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, juga menganggap tidak ada hubungan antara indeks prestasi dengan keberhasilan seseorang dalam memperoleh pekerjaan dan dalam kecakapannya bekerja. Ironi bukan? Apakah kita akan membiarkan pendapat ini begitu saja dengan tetap menerapkan indeks prestasi sebagai tolok ukur proses pendidikan nasional kita?

Dalam pendidikan nasional kita, antara pengajaran dengan pendidikan ternyata tidak seimbang (balance), pengajaran menjadi dominan di wilayah ini. Komponen nilai indeks prestasi yang terdiri atas nilai tugas, ujian tengah semester dan ujian akhir semester, hanya sebatas nilai akumulasi pengetahuan, bahkan tidak mampu melacak peningkatan pengetahuan personal. Tetapi mahasiswa pun terlampau acuh dengan persoalan ini. Baginya, IP merupakan penentu dalam melamar pekerjaan. Karenanya, orientasi belajar adalah nilai IP.

Evaluasi Total

Perubahan kurikulum yang diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan ternyata tidak banyak tercapai. Penggunaan kurikulum yang telah lalu tampaknya hanya disikapi dengan persoalan pemilihan jenis mata kuliah, yang kenyataannya kurang efektif.

Dengan demikian, perubahan kurikulum yang berulangkali dilakukan hanya mengambil sedikit peran dari banyak faktor dalam pendidikan. Padahal, ada banyak hal yang menentukan keberhasilan proses pendidikan, salah satunya sistem belajar-mengajar.

Untuk memperbaiki dunia pendidikan kita, disamping memperbaiki materi dan cara pembelajaran secara total, juga harus diikuti dengan sistem evaluasi yang mampu menggambarkan secara utuh, baik yang berhasil maupun tidak. Nilai akhir jangan hanya merupakan nilai pengajaran, namun kita juga tidak boleh lupa memasukkan nilai-nilai pendidikan. Dengan demikian totalitas perkembangan insane didik akan terlacak.

Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud mencakup nilai kedisiplinan, kejujuran, ketekunan, kerajinan, inisiatif, keberanian mengemukakan pendapat, kemandirian, kerja sama, berkompetisi, dan sopan santun (etika). Disamping itu, Perguruan tinggi juga mempunyai tugas sebagai motivator dan memahami keadaan setiap peserta didik.

Nilai-nilai pendidikan dan pengajaran tersebut hendaknya dirumuskan secermat mungkin oleh setiap dosen, sehingga secara obyektif dapat melakukan pendekatan dengan metode masing-masing. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat menghasilkan sarjana dengan nilai evaluasi yang mencerminkan kemampuannya secara utuh.

Rifqi Muhammad, Mahasiswa Ilmu FIlsafat UGM


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s