Sartono Kartodirdjo, Maestro Sejarah yang Asketis II

Judul : Sejarah Yang Memihak, Mengenang Sartono Kartodirdjo / Penulis : M. Nursam, Baskara T. Wardaya S.J., Asvi Warman Adam (ed.) / Penerbit : Ombak, Yogyakarta / Cetakan : I, 2008 / Tebal : xvii + 507 Hlm.: 14 x 21 cm / Peresensi : Rifqi Muhammad (Media Indonesia, 19 April 2008)

Jumat 7 Desember 2007 lalu, Indonesia terhenyak duka. Waktu itu, Prof. Aloysius Sartono Kartodirdjo berpulang kepada-Nya. Ia bukan presiden, atau konglomerat yang mempengaruhi pendapatan negara. Namun sumbangan Almarhum pada bangsa, tak bisa terhitung banyaknya. Tanpa jasa-jasanya, kita tidak akan sungguh-sungguh mengenali sejarah bangsa ini.

Praktis, saat kabar itu datang, benar-benar tak siap rasanya menghadapi coba yang baru mendera. Rasa kehilangan yang begitu perih nan dalam bertubi-tubi datang. Gelap, dan menyesakkan dada. Rasa pilu dan gundah yang tak terucapkan, menyeruak ke relung hati paling dalam. Muncullah sebongkah kekosongan yang membayang di udara.

Disaat kepergian pria yang lahir pada 15 Februari 1941 di Wonogiri ini, banyak orang beramai-ramai membuka lembar memori lama. Menyimak kembali berbagai kenangan yang hampir kusam. Banyak gagasan dan pemikirannya yang sempat mendingin, hari itu juga tampak hangat dan bersinar cemerlang. Ya, Disaat ia telah tiada, banyak orang berbondong-bondong mendekat kepadanya. Begitu dekat, intim dan sangat hangat.

Buku bertajuk “Sejarah Yang Memihak, Mengenang Sartono Kartodirdjo” ini merupakan salah satu ruang kenangan yang tercipta. Tepatnya, testimoni atas akumulasi kenangan yang mengkristal. Di dalamnya, kita akan bergumul dengan 43 tulisan bunga rampai dari kerabat, anak, teman, sahabat dan orang-orang yang dekat dengan Sartono. Beragam tulisan yang tersusun rapi ini bagaikan tempelan kolase kenangan dalam istana pribadi Sartono Kartodirdjo. Membacanya, serasa berada dalam dekapan Sartono, sangat hangat, indah, dan mencerdaskan.

Saat melangkah masuk, kita akan disambut dengan tujuh tulisan dari kerabat Sartono. Ada tulisan Sri Kandaryati, sang istri, yang berkisah 60 tahun perjalanannya bersama Sartono, Nimpuno yang bernostalgia dengan belaian ayahnya, Stevanus Nindito yang merasa kehilangan kakeknya, dan beberapa tulisan kerabat lain. Kesemuanya menyuguhkan suasana indah nan mengharukan, lengkap dengan pribadi Sartono yang begitu nyata.

Melangkah lebih dalam, berbagai kenangan indah dan apresiasi disuguhkan oleh para sahabat Sartono. Seperti Syafii maarif yang melalui tulisannya menghadiahkan gelar “maestro”, Anhar Gonggong yang mengenang harus ujian sebanyak dua belas kali untuk bisa lulus, Jakob Oetama yang lebih suka menyebut Sartono sebagai ilmuan dan cendikiawan sejati, Sjafri Sairin yang suka bertukar anekdot cerdas dengan pak Sartono, dan P. Swantoro yang kagum dengan askese intelektual Sartono.

Sahabat-sahabat Sartono di luar negri juga menuliskan kesan-kesan pribadi secara beramai-ramai. Beberapa diantaranya Adrian Vicker, Peter Carey, R. E. Elison, Robert Cribb, Freek Colombijn, Rommel A. Curaming, maupun kenangan William F. Frederick saat bersama Sartono di Yale. Buku ini mengungkap banyak hal mengenai Sartono, mulai persoalan enekdot, keluarga, sampai tema besar seputar pemikiran ilmu sejarah. Sartono yang mereka kenal ditumpahkan begitu saja, tanpa sekat penutup sedikit pun.

Meski demikian, buku ini tak sekedar kenangan kering tanpa makna. Sebab dilengkapi dengan renungan reflektif yang bisa menggeraklan roda imajinatif kita akan sosok ideal Sartono. Misalnya tindakan Sartono sangat menghargai siapapun, sekalipun lebih muda. Hal ini terukir jelas dalam tulisan Harlem Siahaan yang berjudul “Pak Sartono dan Kita”. Saat mahasiswa, ia dipanggil “Mas Harlem” oleh Sartono. Panggilan simpatik itu membuatnya terenyuh dan sangat dekat dengan almarhum.

Disamping menyusuri keteladanan kepribadian, kita juga akan menyimak kembali gagasan-gagasan cemerlang Sartono. Para sahabat mengungkit kembali pemikiran Almarhum dengan perspektif berbeda-beda. Abdul Syukur misalnya, sebagai dosen sejarah, ia mengenang sartono sebagai pembaharu historiografi Indonesia. Sartono lah yang merintis orientasi historiografi dari Neerlandocentris menjadi Indonesiasentris. Soedarmono mengambarkan Sartono sebagai sosok yang kritis dan metodologis. Sebab, Ia sangat konsisten dan memegang teguh kaidah-kaidah penelitian atau penulisan sejarah.

Meski banyak perspektif yang digunakan, pada dasarnya para kontributor sedang menelusuri lanskap Sartono secara pribadi. Begitu dekat, sampai-sampai setiap kata tak cukup untuk menggambarkan memori kolektif itu. Beberapa tulisan yang membincangkan pemikiran brilian Sartono, tak sedikitpun membuat buku ini menjadi kaku dan kering. Semua tetap terasa ringan, dan gayeng­. Sebab, para kaum cerdas itu tidak sedang membuat makalah seminar, mereka sedang menikmati romantisme kenangan bersama Sartono.

Semasa hidupnya, Sartono adalah seorang guru yang sangat tekun membimbing murid-muridnya. Dengan para sahabatnya, ia pandai menghormati dan memuliakan. Hal ini membuat murid dan para sahabat menaruh hormat kepadanya. Hormat itu kemudian menumbuhkan rasa sayang dan kedekatan. Bukan hormat yang berjarak, seperti atasan dan bawahan.

Disamping itu, meski nama Sartono telah melambung hingga dunia internasional, ia tetap dan selalu tampil apa adanya. Tak pernah melebih-lebihkan, apalagi bersomong diri. Apabila para kontributor ditanya mengenai keistimewaan Sartono, maka serempak mereka akan berseru satu jawaban; Asketisme Intelektual.

Dimensi istimewa itulah membentuk kepribadian Sartono. Pokok soal asketisme intelektual adalah ketajaman dan keinsafan batiniah yang menyelimuti dimensi keilmuan Sartono. Berkat kepribadian yang demikian, Sartono selalu berpembawaan santun, hangat, dan sangat menjunjung tinggi etika akademik. Ya, ketika mengenang Sartono, maka secara selintas berkelebat sosok yang berpenampilan sederhana, asketik dengan pikiran cemerlang.

Semasa hidupnya, Sartono selalu memuliakan sahabat dan para muridnya. Ia juga mengamalkan dan mengajarkan asketisme intelektual. Maka, di saat wafatnya, sudah selayaknya kita memuliakan dan meneladani ajaran Sartono. Yakni, menjadi Intelektual yang asketis.


Advertisements

One thought on “Sartono Kartodirdjo, Maestro Sejarah yang Asketis II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s