Anugrah Tuhan Untuk Rembang (Refleksi Peringatan Haul K.H. Bisri Mustofa)

 

Kebanyakan masyarakat Rembang boleh jadi kurang mengenal Mashadi. Padahal, ia adalah salah satu diantara sedikit tokoh berkualitas yang membesarkan nama Rembang. Ya, mungkin mereka lebih mengenal nama besarnya, yakni Bisri Mustofa. Meski telah berselang 31 tahun telah tiada, ingatan akan kenangan indah dan ketauladanan Mbah Kyai ini tak akan lekang dari memori masyarakat Rembang.

Mbah Bisri, demikian orang menyapa sang kyai Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini. Selain menjalankan fungsinya sebagai seorang ulama, ia juga sering di elu-elu sebagai panutan masyarakat. Bagi Rembang masa itu, keberadaannya sebagai tokoh lintas status dan lintas golongan benar-benar mampu mewarnai dinamika kabupaten kecil ini. Entahlah, apa jadinya Rembang tanpa kiprahnya.

Pada tahun 1915, Mashadi terlahir dengan balutan senyum yang membuncah dari parasnya. Sepertinya, ia telah benar-benar terlahir untuk kita, untuk Rembang. Prestasi dan wibawa yang lamat-lamat merekah darinya, membuatnya tampak ”istimewa’. Ia resmi mengganti nama Mashadi menjadi Bisri setelah menunaikan ibadah haji. Sejak saat itulah ia lebih dikenal dengan nama Bistri Mustofa.

Kini, tepat pada tanggal 13 Maret (17 Rajab), haul Mbah Bisri dilangsungkan. Pada momentum haul inilah masyarakat Rembang merefleksikan kembali jasa dan kiprah Mbah Bisri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiapkali haul diadakan, masyarakat selalu tampak apresiatif dalam memperingati momentum istimewa ini. Kegiatan ini biasanya dilangsungkan selama 2-3 hari.

Mbah Bisri memang benar-benar istimewa. Bagaimana tidak, berbagai gelar dengan mudah tersemat padanya. Untuk masa saat itu, ia adalah sosok dengan multi ahli yang tidak mudah disekat-sekat dalam kapling kategoris. Misalnya, Sebagai orang Rembang, saya lebih menyebutnya tokoh pengayom masyarakat. Kaum akademis akan menyebutnya budayawan, intelektual, seniman dan penulis yang produktif. Dalam wilayah keislaman, ia adalah kyai atau ulama besar. Dalam konteks yang lebih luas, ia adalah sosok pejuang bangsa. Demikian sederet anugerah yang tersemat di pundaknya, meskipun ia sendiri mungkin tak peduli.

Cucuran perhatian Mbah Bisri pada masyarakat dan keilmuan sangat tinggi. Meski aktifitasnya dalam masyarakat dan pesantren cukup menyita waktu, ia masih menyempatkan untuk menulis. Bahkan, hampir tidak ada waktu luangnya yang terlewat. Ia benar-benar penulis prolifik.

Keberhasilannya sebagai sosok penulis jelas tergambar dari karya-karyanya. Sampai-sampai Kiai Ali Maksum Krapyak (Yogyakarta) memujinya, ”Kalau soal kealiman, barangkali saya tidak kalah dari sampeyan […], tapi mengapa Sampeyan bisa begitu produktif menulis, sementara saya selalu gagal di tengah jalan…” (Mustofa Bisri; 2005).

Tidak mengherankan kalau akhirnya mbah Bisri memiliki banyak karya, misalnya karya fenomenal tafsir Qur’ an Al- Ibriz (30 juz), kitab-kitab fashalatan, terjemahan kitab alfiyah, jurumiyah, imrithy, dan masih banyak lagi. Tak hanya karya bertema agama yang ia hasilkan, syair-syair jawa seperti syair tombo ati dan lain-lain juga membuatnya layak untuk digolongkan kedalam kelompok seniman.

Banyak kalangan menilai bahwa pemikiran Mbah Bisri sarat akan solidaritas dan kepedulian pada masyarakat. Selain itu, kecendrungannya yang lebih mengedepankan kebaikan (maslahat) umat, membuat pemikiran keagamaannya sangat moderat. Dengan demikian, pemikiran Mbah Bisri sangat kontekstual, sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan kondisi zaman. Semua itu selain tampak dalam aktifitas kesehariannya, juga jelas terekam dalam karya-karyanya.

Lepas dari itu semua, Mbah Bisri juga seorang pejuang yang gigih. Sejak masa penjajahan, ia gencar memperjuangkan kepentingan bangsa. Ia bukanlah seorang elit yang suka bekerjasama dengan kaum Kolonial. Kiprahnya yang menasional juga turut membesarkan nama Rembang. Misalnya tahun 1955, yakni saat ia menjadi anggota Konstituante, juga saat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. Perlu diingat, saat itu, untuk menjadi anggota lembaga negara tertinggi itu, tak sembarang orang layak mendudukinya.

Mbah Bisri juga dikenal sebagai “Singa podium”. Menurut KH Syaifudin Zuhri, mantan Menteri Agama, Mbah Bisri merupakan sosok yang pandai berpidato. Ia sanggup menjelaskan persoalan sehingga lebih mudah dipahami. Itulah sebabnya Kyai ini mudah diterima masyarakat.

Semua berjalan dengan demikian indah. Sampai kemudian rabu, 17 Februari 1977 (27 Shafar 1397 H) Mbah Bisri dipanggil ke haribaan Allah SWT. Meski demikian, kharisma Mbah Bisri tidak terbawa terkubur dalam pesarean-nya. Tanda cinta dan penghormatan kepada almaghfurlah terpancar dari pelosok negri. Berbagai masyarakat dari berbagai tempat berbondong-bondong takziah kepadanya.

Hingga kini, kharisma Mbah Bisri tetap tidak hilang. Pernah saya berkenalan dengan seseorang di kota seberang. Waktu itu, saya menyebut daerah asal. Lalu ia menjawab ”O, tempatnya Mbah Bisri ya?”, kesimpulan saya, ia sudah tau daerah Rembang. Namun tak berselang kemudian, orang tersebut balik bertanya, ”eh, tapi Rembang itu mana ya?”. Berbagai

pertanyaan terhampar dalam pikiran, beginikah daerah Rembang pikirku. Ternyata beberapa teman juga pernah mengalami hal serupa. Sejak peristiwa tersebut, saya selalu menyertakan nama tokoh kharismatik itu ketika memperkenalkan diri, dalam forum resmi sekalipun.

Kini, tokoh pengayom, kiai, dan sastrawan besar itu telah meninggalkan kita. Akan tetapi, sebenarnya ia tidak benar-benar meninggalkan kita. Nama besarnya dan karya-karyanya yang ”abadi”, akan selalu menemani kita. Itulah sebabnya, tidaklah berlebihan kalau Mbah Bisri Mustofa disebut sebagai anugrah dari Tuhan untuk kita, warga Rembang. Pada momentum haul ini, mari kita bersama-sama berdoa, Semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia kepadanya. Amin.

Rifqi Muhammad, Pegiat Komunitas Kembang Merak


Advertisements

3 thoughts on “Anugrah Tuhan Untuk Rembang (Refleksi Peringatan Haul K.H. Bisri Mustofa)

  1. budaya haul adalah budaya khas jawa yang sangat menyenangkan untuk mengenang jasapara pinisepuh .
    tapi saya kawatir didalam pelaksanaannya masih banyak kesirikan.
    bagi orang yang mengerti masalah iman terhadap Alloh mungkin tak jadi masalah. tapi masihn banyak orang yang awam sehingga banyak orang yang nyleweng ketaukhitannya walau hanya sedetik . ingat pahala dalam sejuta pelaksanaan haul tak bisa menghapus dosa sirik sedetik
    somoga saudara – saudaraku lebih mengerti dalam hal ini amin

  2. sosok mbah bisri begitu melekat dengan rembang,bahkan lebih dikenal dari pada rembang itu sendiri..

    mari kita warisi semangatnya,untuk menuju rembang lebih baik.lebih bangsa yang lebih baik

    mas mahmud,itulah jawa.islam datang ke jawa untuk mengislamkan masyarat jawa,bukan arabisasi jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s