Sesat

 

“Ada kesalahan ketika menyebut zaman sekarang sebagai modernisme”, ucap si adi kawan SMPku. Rupanya dia kini kuliah. Ku anggap biasa saja ocehan dalam pertemuan yang tak disengaja itu. Dalam warung Kopi satu-satunya dikampungku. “Kenyataannya, rupawan yang menawarkan keteraturan, kekerdilan, kepastian, kepraktisan itu telah dipermainkan. Modernisme sudah tidak ada!”, ucapnya menggebu.

“Adanya, postmodernisme telah berceloteh, bermain, dalam ruang-ruang ini. Apa maksud ‘ruang-ruang ini’. Jangan dipikirkan! Jika kamu menuntut ketepatan, disini bukan tempatnya. Ini postmodernisme kawan, suka-sukalah kamu sesukamu. Ya, Absurditas bersuka ria. Suka-sukamu, sukalah sesukamu”. Satu puntung terbakar tak paham juga apa yang di oloknya. Malam mulai larut. Pintu-pintu rumah mulai tutup, juga pengunjung kedai mulai rame.

“ini yang menarik jo”. Mulutnya tak juga berheti. “kamu tau ‘teks’?”. “Ya, teks proklamasi yang membuat Indonesia merdeka”, jawabku ringan. “ah, goblok Jo…parjo, teks itu macam apapun tulisan, yang bisa dibaca, termasuk Kitab yang setiap maghrib kau baca” sergahnya yang mulai sombong. Suka aku kalau sudah begini, tinggal menambah sedikit pujian, Mie ayam Kang Sapar bisa gratis ku lahap. Tak sukaku dia membawa-bawa Kitab.

“’teks’ hanya tempurung-tempurung bualan dahsyat yang terus-menerus membius. Kawanku bilang, yang kita raba dalam ‘teks’ hanya bualan kadal arca-arca yang kita sembah tanpa sadar. Suatu yang ‘ketidakberartian’. Ha…, modernisme yang suka cuap-cuap kesadaran, eh, malah tertindas kesadaran”, ucapnya lancar. terus saja diamku.

Belum berselang, suaranya berputar lebih keras. “Dengar wahai yang suka mendefinisikan, mengartikan, menjelaskan, dan kan-kan lain. Tak ada yang berhenti berproses, tidak ada. Jangan suka memastikan, membakukan, dan me-kan lain. Ingatlah, bukankah itu malah menghentikan. Menghentikan apa? Jangan paksa aku lagi. Kalau aku menjelaskan, akan menutup yang lain”. Ia kian semangat, sampai jadi perhatian pengunjung warung kopi yu Naning.

“stop kang, ini kopinya minum dulu”, kataku ringan. Makin bingung aku dengar omongannya. Belum sempat ku bertanya, tiba-tiba. “kau tampak beda. Kamu nggak bingung”. Aku lempar senyum kecil. Kukira dia tahu pikiranku. Pikirku, jelas bingung, orang perkataanmu putar-putar. Dulu, paling pintar aku kalau masalah mendengar. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, itu jurus ampuh, yang kali ini tak berfungsi. Kali ini ia lebih pelan, “Hanya proses, tak ada pun yang mampu menghentikan, tak juga proses, demikian berulang-ulang. Eit, tunggu. Jangan kau katakan yang ‘ada’ itu proses, sebab, itu menghentikan proses.” Dari teks sampai proses disambungnya.

“Ramai-ramai orang terjebak benar dan salah. Mereka tak tahu, dikotomi keduanya hanya letupan yang dilempar para penguasa otoritas pada otak yang malas”.ucapnya. Kata-kata itu mulai aku pikir dalam. Dia membawa benar salah, sesuatu yang di ajarkan guru ngaji ku.

“Omonganmu ngelantur”. Dia tak menghirau, malah nyeletuk lagi. “Kau suka berharap kasihan dari tuhan kan? Asal tau, titian-titian kasih dari Tuhan itu membuat-Nya hina. Saat itu, Ia terlempar dari kekuatan semestinya, yang bisa lebih booming bila berkata ‘tidak’”. Aku mulai geram. Belum sempat juga aku ngomong, dia mencuri start “kasihan Tuhan, Tuhan menangis kalau manusia berhenti mamakai otak, dan hanya berharap. Bayangkan saja, jangan renungkan! jangan, entar dikira ngelantur lagi aku.”

Aku tidak bisa lagi membendung emosi. Dia terus ngelantur seenak perutnya. Tentang benar salah, itu disebut fikih dalam agamaku. Kali ini tak bisa kontrol emosi. Belum lagi Tuhan diocehkan, geram ku memuncak, “Salah kalau tidak ada benar dan salah. Kiyai bilang, ada benar dan salah, semua ada dalam kitab”. “Hei kawan, kau tak menyadari tentang ‘ada’. Apa itu ada? Kamu bilang: ‘semua ada dalam kitab’ Terbayangkah dengan ‘ada’-nya ada dalam kitab? Hati-hati” sergahnya.

“pokoknya jangan lagi membahas itu. Kamu Sesat! Tobatlah!”. Aku makin tak suka gayanya yang menghina Kitabku. “Remaja masjid seperti aku tak butuh ilmu berfikir, meski sedikit. Apalagi sampai rumit-rumit. Kau harus dengar dengan kata-kataku. Ya, harus. Jangan kau teruskan ocehanmu. Renungkan saja makna Firman Tuhan ku, kau akan temukan kesalahanmu. Itu akan mampu menyadarkanmu, menyadarkan orang sesat”.

Terlihat sorot mata yang berkerut. Seperti meremehkan. Jelas, aku tak mau diperlakukan begitu, kecuali ada Mie Ayam. “Aku tak tahu buku-buku yang kau baca, yang katanya buah karya kepala-kepala yang biasa diruetkan dengan hakikat kehidupan, kepala-kepala para filosof, kepala-kepala para peneliti, dan kepala-kepala yang jarang membaca ayat-ayat Tuhan. Tak ada guna juga ku tau. Boro-boro membeli buku filsafat yang sesat itu, uang yang aku sumbang ke masjid kadang tidak cukup”serangku bertubi-tubi.

Dia diam, kesempatan, ku luapkan saja semua. “Tampak sudah beda kita. Kamu seorang Filosof, yang selalu menuntut keluesan nilai dan aturan-aturan. Sedangkan aku orang mulia, penjaga masjid, pecandu dakwah dan taat pada Tuhan. Tak ada guna berpikir. Tak jauh berguna dari membaca Kitab suci yang lebih semak daripada bukumu. Tak lebih daripada berdzikir. Pikiranmu hanya membuatmu jatuh ke neraka”.

“Itulah kamu dan Inilah aku. Kamu lah yang salah. Meski Kitabku menganjurkan khusnudzan (berburuk sangka), tapi kamu sesat. Dengarlah! Ini dakwah hamba Tuhan untuk tulisan sesat yang di kepalamu. Tentang tulisan yang sebenarnya tak guna aku mengerti. Sesekali menghadaplah pada hidup yang sebenarnya, hidup yang butuh Tuhan, taat dengan aturan, dan hidup yang sering memaksaku onani daripada zina”,ucapku. Aku mulai kehilangan kendali, Tuhan lah menggerakkan mulutku. Orang-orang di warung kopi Yu Naning mulai menggerombol disekitarku. Aku tidak peduli. Hanya satu yang ku pikir, membuatnya bertobat.

“Bila menjadi umat sejati seperti aku, pasti kau tak sempat berpikir. Eh, aku rasa kaupun kini tak sengaja berpikir, tepatnya, terpaksa berpikir, seperti itu. Karena kamu adalah seorang Mahasiswa Jurusan Filsafat. Statusmu memaksamu berfikir. Kau belum pernah menghadapi kerasnya ujian surga Tuhan. Dimana harus menyusuri dzikir sepanjang malam, lalu menarik sumbagan untuk masjid. Hidup yang bisa membuatmu menangis dihadapan Tuhan.”.

“Sesekali cobalah lakukan. Kau tak akan sempat lagi berpikir tentang zaman, apalagi untuk menentang Tuhan. Karena saat itu, yang ada dikepalamu adalah: Bagaimana mendapatkan ridha Tuhan, berdzikir, berdakwah, kalau perlu pakai tongkat, supaya aku bisa masuk surga. Aku tidak suka teman sepertimu, teman yang sesat. Tak suka dengan yang ada di kepalamu. Berdebat denganmu membuatku jauh dari kitab. Aku hanya ingin mengajarimu mendekat Tuhan. Itulah mulianya Tuhanku, yang suka mengajarkan saling menolong, apalagi untuk kau, orang yang sesat”. Aku merasa dekat dengat Tuhan. Aku bahagia bisa berdakwah.

Sedikit dia berucap. “Tidak ada larangan buatmu tidak setuju. Sebab, aku orang yang menghormati pendapat”. Sedikit juga aku jawab, “Oh…, hampir lupa, kamu dapat salam dari Tuhan, ‘terkutuk kau”. Juga salam dari penghuni neraka”, lalu ku tinggal.

Rifqi Muhammad, Januari 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s