jump to navigation

Bahasa Dunia November 17, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in selingan harian.
1 comment so far

rifqi-the-alchemist

Aku sedang mempelajari Bahasa Dunia,… temasuk cara terbang burung-burung itu.” Dan aku terkesima pada mu anak kecil, kau menyelesaikan dirimu, dan jagat raya pun bahu-membahu.

Kediri,—

Rebah November 6, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
2 comments

tidak ada angin luar rebah tertebak dalam liur bulan per zaman pertengkaram lalu pengaruh dunia padahal penuh kelam merenggut rangkaian dan hoi mengapa bualan menghamba peringatan mirip saja kita terhempas sedangkan berikat-ikatan

Kediri, November 2008

Gagasan Dengan Keyakinan Oktober 18, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in selingan harian.
5 comments

Keputusan dan konsekuensi adalah dua sisi, itu yang aku amini, maka ketika semester ini memutuskan cuti kuliah, aku siap untuk itu. Aku beruntung berkesempatan cuti kuliah, hal baru yang mungkin hanya aku lakoni sekali. Karenanya aku berusaha menyerap sesuatu yang tidak ada ketika tidak menempuhnya. (lagi…)

Siklus September 20, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in selingan harian.
1 comment so far

Konon, hidup itu berputar, berkembangbiak dan silih-berganti. Pada mulanya semua berupa janin tenang yang hanya bisa terpekur dalam rahim anyir, yang juga hangat dan katanya nyaman. Hingga kemudian manusia lahir dengan darah; meronta, tumbuh, dan mencari mana yang bisa dimainkan. Dan kesadaran pun memulai, diantaranya kehendak bersenang-senang, atau bersahutan dengan lawan. Semua bertubi-tubi kembali dan berulang-ulang datar. Hingga suatu ketika harus menghidupi anak, bekerja, dan mempersiapkan hari tua; kesemuanya berlarut-larut hingga manula dan dimakan usia. Bila demikian, membelok-belokkan diri sebelum masanya, itu lebih baik sepertinya.

sabar September 16, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
add a comment

bambu beku menunggu senja yang bersemilir angin ditengah kerontang bergelimpangan, belaian diruas-ruas hanya angan tertahan

Kediri, 16 September 2008

masih September 10, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
add a comment

bunga meramu rasa juga irama, yang tak ada di tai kuda, katanya

Kerana Menyusuri Agustus 19, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
3 comments

Jantungku seirama lesatan bus yang meraung-raung berebut jalan. Rerimbunan yang bukan lagi hutan sepanjang jalan seperti alam kefanaan. Tak lagi terasa hawa dingin menembus kulitku juga gelap anganku–semua samar. Hingga disuatu entah kau berbisik dari kedalaman kaca; begitulah hidup

Solo-Purwodadi, 29 Juli 2008

yang Lalu Agustus 19, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
1 comment so far

Irama katak juga jangkrik bersahutan dalam keriuhan damai jamaah malam di sudut kedai kopi. Bulan yang pamer kemolekan pun berhamparan bulir-bulir pasir bersama keseharian desir angin menuang kehangatan. Tahun itu hilang berganti. Kepolosan desa berubah gedung-gedung bisu dan mercuri hambar bertiang-tiang

Sedan , 30 Juli 2008

Karya Tebal Tak Menjamin Kualitas Agustus 16, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in artikel.
3 comments

(Naskah ini dimuat diharian Suara Merdeka pada 16 Agustus 2008 )

Tradisi literer merupakan keniscayaan dalam dunia akademis. Namun, agaknya geliat itu belum banyak tampak. Sebab, hingga kini mahasiswa masih berjarak dengan tradisi tulis.

Tengoklah, ketakutan akan kemampuan menulis masih sangat menggejala. Tidak heran apabila skripsi menjadi momok yang menyebalkan. Keberjarakan ini secara gamblang bisa kita lihat diberbagai ruang diskursus mahasiswa, kasus skripsi hayalah salah satunya. (lagi…)

Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad Juli 14, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in resensi.
1 comment so far

Judul : Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo, Pidato Otikritik Di Volksraad 1927-1939 / Penulis : Azizah Etek, Mursyid A.M., dan Arfan B.R. / Penerbit : LKiS, Yogyakarta / Cetakan : 1, Mei, 2008 / Tebal : xvi + 512 halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad

Selama ini kita menganggap orator berbahasa Indonesia pertama pada sidang Volksraad adalah Mohammad Husni Thamrin(1938). Namun, tampaknya gelar “pertama” itu perlu dipertimbangkan ulang. Sebab, jauh sebelum Thamrin, pada 1927, Jahja Datoek Kajo telah mengawali langkah besar itu. Sejak menduduki Volksraad, Jahja selalu lantang meggunakan bahasa Indonesia setiap kali berpidato. (lagi…)