Rebah November 6, 2008
Posted by Rifqi Muhammad in puisi.2 comments
tidak ada angin luar rebah tertebak dalam liur bulan per zaman pertengkaram lalu pengaruh dunia padahal penuh kelam merenggut rangkaian dan hoi mengapa bualan menghamba peringatan mirip saja kita terhempas sedangkan berikat-ikatan
Kediri, November 2008
Gagasan Dengan Keyakinan Oktober 18, 2008
Posted by Rifqi Muhammad in selingan harian.5 comments
Keputusan dan konsekuensi adalah dua sisi, itu yang aku amini, maka ketika semester ini memutuskan cuti kuliah, aku siap untuk itu. Aku beruntung berkesempatan cuti kuliah, hal baru yang mungkin hanya aku lakoni sekali. Karenanya aku berusaha menyerap sesuatu yang tidak ada ketika tidak menempuhnya. (lagi…)
Siklus September 20, 2008
Posted by Rifqi Muhammad in selingan harian.1 comment so far
Konon, hidup itu berputar, berkembangbiak dan silih-berganti. Pada mulanya semua berupa janin tenang yang hanya bisa terpekur dalam rahim anyir, yang juga hangat dan katanya nyaman. Hingga kemudian manusia lahir dengan darah; meronta, tumbuh, dan mencari mana yang bisa dimainkan. Dan kesadaran pun memulai, diantaranya kehendak bersenang-senang, atau bersahutan dengan lawan. Semua bertubi-tubi kembali dan berulang-ulang datar. Hingga suatu ketika harus menghidupi anak, bekerja, dan mempersiapkan hari tua; kesemuanya berlarut-larut hingga manula dan dimakan usia. Bila demikian, membelok-belokkan diri sebelum masanya, itu lebih baik sepertinya.
masih September 10, 2008
Posted by Rifqi Muhammad in puisi.add a comment
bunga meramu rasa juga irama, yang tak ada di tai kuda, katanya
Kerana Menyusuri Agustus 19, 2008
Posted by Rifqi Muhammad in puisi.3 comments
Jantungku seirama lesatan bus yang meraung-raung berebut jalan. Rerimbunan yang bukan lagi hutan sepanjang jalan seperti alam kefanaan. Tak lagi terasa hawa dingin menembus kulitku juga gelap anganku–semua samar. Hingga disuatu entah kau berbisik dari kedalaman kaca; begitulah hidup
Solo-Purwodadi, 29 Juli 2008
yang Lalu Agustus 19, 2008
Posted by Rifqi Muhammad in puisi.1 comment so far
Irama katak juga jangkrik bersahutan dalam keriuhan damai jamaah malam di sudut kedai kopi. Bulan yang pamer kemolekan pun berhamparan bulir-bulir pasir bersama keseharian desir angin menuang kehangatan. Tahun itu hilang berganti. Kepolosan desa berubah gedung-gedung bisu dan mercuri hambar bertiang-tiang
Sedan , 30 Juli 2008
Karya Tebal Tak Menjamin Kualitas Agustus 16, 2008
Posted by Rifqi Muhammad in artikel.3 comments
(Naskah ini dimuat diharian Suara Merdeka pada 16 Agustus 2008 )
Tradisi literer merupakan keniscayaan dalam dunia akademis. Namun, agaknya geliat itu belum banyak tampak. Sebab, hingga kini mahasiswa masih berjarak dengan tradisi tulis.
Tengoklah, ketakutan akan kemampuan menulis masih sangat menggejala. Tidak heran apabila skripsi menjadi momok yang menyebalkan. Keberjarakan ini secara gamblang bisa kita lihat diberbagai ruang diskursus mahasiswa, kasus skripsi hayalah salah satunya. (lagi…)
Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad Juli 14, 2008
Posted by Rifqi Muhammad in resensi.1 comment so far
Judul : Kelah Sang Demang Jahja Datoek Kajo, Pidato Otikritik Di Volksraad 1927-1939 / Penulis : Azizah Etek, Mursyid A.M., dan Arfan B.R. / Penerbit : LKiS, Yogyakarta / Cetakan : 1, Mei, 2008 / Tebal : xvi + 512 halaman / Peresensi : Rifqi Muhammad
Selama ini kita menganggap orator berbahasa Indonesia pertama pada sidang Volksraad adalah Mohammad Husni Thamrin(1938). Namun, tampaknya gelar “pertama” itu perlu dipertimbangkan ulang. Sebab, jauh sebelum Thamrin, pada 1927, Jahja Datoek Kajo telah mengawali langkah besar itu. Sejak menduduki Volksraad, Jahja selalu lantang meggunakan bahasa Indonesia setiap kali berpidato. (lagi…)


