jump to navigation

kesana biduk terarah Juni 29, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
2 comments

aku adalah bumi yang dikenai pancaroba. tubuhku mengalami demam yang lebih berupa getarangetaran ketimbang rintihankerontang dan kegenitan gerimis yang tak biasa. tanah yang alfa persemayaman itu terjamah, ia memulai warna yang merupa karena engkau hadir disana. maaf bila mutiaramu kutanggapi dengan cinta yang kabur—yang tak berselongsong rencana, yang tak bertahta pada bahasa, yang tak ada dalam ayatayat surga dan neraka. aku hanya mampu memasrahkan cinta yang aku punya, sebuah cinta yang ada karena engkau ada.

Jogja, 29 juni 2009.

disekitarmu, aku mendoakanmu Juni 27, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
add a comment

aku tegar di sampingmu meski fajar dan lembayung senja bersua sembari membayangkan kita menikmati bubur ayam di balkon saat gerimis sore itu diketuk oleh lonceng kapel gereja yang bersahutan dengan geming adzan dari surau dekat sumur di sebuah desa lembah gunung sumbing di mana engkau dan aku memungkasi masa—semoga kau tahu itu.

Jogja. Juni 25, 2009

Entah Juni 6, 2009

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
add a comment

Hentakan karang yang embun pun hengkang. Hamba membeku, bertingkah juga layu. Jelaga arang hamba kuyup oleh ludah tabu. Seperti labirin tetap kusut membalutku. Topang diriku dengan senyum lapang, sayang. Yang semoga itu cermin dari sum-sum dalam. Tahukah kau, hadir menerka adalah gerbang keharapan. Mumpung ilalang tak menjamah tumit. Pinus tua melepas kaku. Aku mengarak bunga-bunga ke utara, kemarilah.

Jogja, Juni 2009

Rebah November 6, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
2 comments

tidak ada angin luar rebah tertebak dalam liur bulan per zaman pertengkaram lalu pengaruh dunia padahal penuh kelam merenggut rangkaian dan hoi mengapa bualan menghamba peringatan mirip saja kita terhempas sedangkan berikat-ikatan

Kediri, November 2008

sabar September 16, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
add a comment

bambu beku menunggu senja yang bersemilir angin ditengah kerontang bergelimpangan, belaian diruas-ruas hanya angan tertahan

Kediri, 16 September 2008

masih September 10, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
add a comment

bunga meramu rasa juga irama, yang tak ada di tai kuda, katanya

Kerana Menyusuri Agustus 19, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
3 comments

Jantungku seirama lesatan bus yang meraung-raung berebut jalan. Rerimbunan yang bukan lagi hutan sepanjang jalan seperti alam kefanaan. Tak lagi terasa hawa dingin menembus kulitku juga gelap anganku–semua samar. Hingga disuatu entah kau berbisik dari kedalaman kaca; begitulah hidup

Solo-Purwodadi, 29 Juli 2008

yang Lalu Agustus 19, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
1 comment so far

Irama katak juga jangkrik bersahutan dalam keriuhan damai jamaah malam di sudut kedai kopi. Bulan yang pamer kemolekan pun berhamparan bulir-bulir pasir bersama keseharian desir angin menuang kehangatan. Tahun itu hilang berganti. Kepolosan desa berubah gedung-gedung bisu dan mercuri hambar bertiang-tiang

Sedan , 30 Juli 2008

Kamu Lupa, Kawan Juni 22, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
3 comments

Kawan, lusa itu kau di kantin

Saat lembayung surup dan kau mulai miring

Suara ayam diengsel selangkanganmu kian lemah, ingatkah?

Coba cari dan garuk atau tumpahkan kepala botakmu

Kosong, akh celaka

Kolase telah kau tanggalkan

Mozaik tak lagi berkesan

Dan kau, berpindah angan-angan

Namun, anyir bilik buku-buku kudis juga cangkangmu yang waktu itu kamu hamparkan, menakutkan, masih aku rekam

Juga, semerbak bau amis koreng cair yang muncrat, menjijikkan, kini nian terngiang

Ya, apa cela bila aku dalam barisan awan sebelahmu memilih membisu

Sebab kau tak mengenal daku

22 juni, menjelang dieksekusi

Saudara Dipilih Bukan Dilotre Mei 18, 2008

Posted by Rifqi Muhammad in puisi.
1 comment so far

Kami akan pilih
mereka yang berbudi
dan selalu peduli akan kami
yang tak pentingkan diri sendiri
sadar akan hukum
serta paling anti korupsi.
Kami pasti memilih
mereka yang berwawasan
namun takut pada Tuhan.
Tak usah tawari kami uang
apalagi janji dan bualan.
Yang jelas, kami tiada sudi
sebab kami pemilih sejati
yang harap akan bangkitnya negeri.
Maka, mereka yang tidak mampu, menyingkirlah dari jalan ini.
Kami akan pastikan yang terbaik bagi Indonesia.

(Rifqi Muhammad, SMAN 3 Pati, Jateng)
dimuat KOMPAS, 26 Februari 2004
Lihat juga di (http://64.203.71.11/kompas-cetak/0402/26/pemilu/868633.htm)